Selasa, 06 Maret 2018

Hari ke Tahun

Hari itu, aku lupa apa sebabnya hingga aku memutuskan untuk membuat akun blog. Aku hanya ingat bahwa sebelumnya, aku menghabiskan beberapa buku dan sejumlah kertas untuk kutuliskan sejuta isi kepala yang begitu tak masuk akal.

Aku tak suka menulis. Aku tak suka menulis; membuat cerita yang panjang dan diperlukan berbagai usaha memasukkan rasa ke dalamnya. Aku tidak bisa.

Aku lupa puisi pertama yang kubuat saat diberi tugas oleh Ibu Susi-guru bahasa SMP. Namun, aku ingat aku menceritakan halaman sekolah di gedung A dekat Lab Biologi yang seringkali diisukan menjadi salah satu tempat horor di sekolah.

Aku masih ingat seperti apa halaman pemilik pohon jambu itu. Mungkin kini telah berubah karena SMP tempatku belajar baru saja usai direnovasi. SMP Negeri 10 Jakarta. Beruntung aku lolos ujian dan berhasil menjadi siswi di sana.

Kemudian aku ingat puisi kedua yang kubuat di tingkat II. Aku mendapat penilaian buruk dari seorang juara kelas. Aku disangkakan sebagai plagiat. Aku tak menyangkal, karena tidak ada yang perlu disangkal. Tentu itu tidak benar. Aku membuat puisi untuk ibuku. Aku lupa seperti apa, tetapi, aku ingat aku menguraikan 'mata', 'hidung', dan 'lembutnya rasa'. Entahlah....

Sejak hari itu, aku tak bisa menulis. Aku tak bisa membuat naskah drama. Aku tak bisa membuat cerita pendek. Aku bahkan gagal menyelesaikan tugas bahasa di tingkat III dalam membuat cerpen tentang kehamilan remaja di luar nikah. Aku masih ingat kegagalan itu.

Ya, aku tidak bisa menulis.

Tahun 2011 aku memulai kembali. Aku bertemu seorang teman di facebook yang kerap kali menandaiku dalam catatan karyanya. Dia membuat beberapa cerita pendek yang sangat bagus. Aku suka membacanya. Dia menyarankanku untuk melanjutkan tulisan-tulisanku dan melahirkannya.

Mulai hari itu, aku menuangkannya ke dalam buku hingga hari ini aku menggunakan blog untuk menuangkan isi kepala yang tidak seberapa kreatif dan imajinatif.

Aku tersadar kini. Aku bukan tidak bisa menulis, hanya saja aku belum bisa. Juga, aku tidak terlalu percaya pada kemampuanku sebelumnya.

Siang ini aku bersyukur, aku akan melahirkan karya solo pertamaku yang diakui oleh salah satu platform asal korea selatan. Meski begitu, meski ceritaku tidak seberapa, aku berdoa semoga pembaca suka dan merasa senang dengan hiburan yang kusuguhkan melalui cerita yang kurangkai.

Terima kasih Allah yang telah menentukan jalanku, orang tua yang selalu khawatir serta mendukung, saudara/i, teman dan kerabat. Tanpa dukungan kalian, tanpa doa kalian, mungkin saat ini aku masihlah seorang perempuan 23 tahun yang tidak percaya diri.


Sekali lagi,
terima kasih.


Jakarta, Maret 2018.
Salam,



Z A N

Ps.
Percayalah pada kemampuan dirimu, berusaha dan berdoa adalah cara terbaik. Kemudian ikhlas pada segala hasil yang kau dapat dan bersyukurlah. Itu kunci untukmu selalu merasa bahagia.

Selasa, 14 November 2017

Ayah

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat aku meracaumu yang sedang mengerjakan sesuatu. Kau bilang aku sungguh cerewet. Apa pun yang kulihat pasti kutanya padamu. "Ini apa, pak?", "Yang ini apa?", "Apa tuh?", "Yang ini buat apa, Pak?" dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kau pun menjawab segala pertanyaanku dengan sabar.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kita bermain layang-layang bersama. Kau ajarkan aku dan abang menerbangkan layang-layang dengan baik. Kau buatkan layang-layang untuk kami dengan berbagai bentuk yang ada dalam imajinasimu. Cowboy, burung garuda, kupu-kupu, dan masih banyak lagi. Di atas genting canda tawa itu masih terus ada dalam ingatanku.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kau mengajarkanku membaca iqro. Aku mengenal huruf-huruf arab itu hingga aku mampu melantunkannya sampai di usia ini.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kau mengantarku berangkat sekolah. Saat kau mengajakku ke kantormu. Saat kau membantuku membuat tugas sekolah. Saat kau mengajarkan segala macam. Saat kau marah padaku. Saat kau panik atas luka yang ada di kaki kananku (bahkan bekasnya masih ada sampai saat ini).

Ayah...
Apa yang kau pelajari saat muda dulu?
Aku anakmu. Hanya mampu berkata sok kuat pada orang-orang ketika mengingatmu. Namun, siapa yang mengira kalau apa yang kau lakukan sangat banyak melekat dalam pikiranku?

Ayah...
Kau pasti masih ingat masa-masa kau mengajakku bermain burung merpati bersama. Kau melepasnya, sedang aku menunggu di rumah untuk menjemput sang jantan tiba kembali di rumah bersama betina. Kadang ibu juga bermain bersama kita.

Ayah...
Tahukah kau mengapa aku lebih ingin kau yang berdiri di depan sana saat aku menerima penghargaan yang tak seberapa itu?
Aku ingin membanggakan ayahku. Aku ingin mengatakan kepada dunia bahwa aku punya seorang ayah yang hebat. Aku ingin mengatakan, bahwa tak ada laki-laki di dunia ini seperti dirimu.

Ayah...
Bagaimana aku bisa menemukan teman hidup nantinya? Sedang dengan adanya dirimu aku mampu belajar dan menemukan banyak hal baru yang belum didapatkan oleh banyak anak seusiaku.

Ayah...
Tetaplah sehat. Takkan ada habisnya aku membanggakan dirimu. Aku bersyukur pada Allah telah menjadikanku sebagai anakmu. Dan dilahirkan oleh wanita terhebat di dunia ini, Ibu; istrimu.

Allah...
Terima kasih telah mengizinkanku memiliki orang tua yang sangat berharga.


Jakarta, 14 November 2017

Z A N

Kamis, 28 September 2017

Arti Kesempatan

Ada yang bilang keberhasilan seseorang disebabkan karena usaha yang gigih. Perlu teman-teman ketahui bahwa, suatu keberhasilan dapat terjadi apabila seorang tersebut berani mengambil kesempatan yang ada. Bukan hanya menunggu ataupun berusaha dengan gigihnya. Barulah kemudian berusaha dengan gigihnya.

Selain itu, keyakinan hati juga memengaruhi keberanian dalam pengambilan keputusan.

Tipsnya adalah:

Pertama, berani mengambil kesempatan.
Kedua, gigih dalam mengerjakan.
Ketiga, berdoa pada Allah.
Keempat, pertahankan dan tingkatkan yang telah diraih.
Kelima, selalu rendah hati.

Terima kasih, semoga tertjerahkan.
 Salam,


ZAN

Senin, 18 September 2017

Ribut-ribut

Malam itu kami dalam perjalaan menuju Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Mengunjungi kampung halaman salah seorang teman kampus.

Keberangkatan dibagi menjadi dua; kendaraan si pemilik kampung halaman melaju lebih dulu dengan keluarganya, kami mengekori.

Perjalanan yang dijadwalkan pada jam delapan malam, mundur dua jam karena salah seorang teman yang terlambat tiba. Orang mana yang sampai telat selama dua jam? Cuma dia seorang. *Mereka berempat memang doyan ngaret (teman-teman laki kami). Kalau mau dibahas satu-persatu tentang bagaimana mereka ngaret dan dalam kondisi apa saja, gue rasa satu laman blog ini tidak akan cukup. -_-

Selama perjalanan, posisi di dalam mobil yang kami tumpangi, teman yang ngaret tadi duduk di kursi penumpang paling depan. Sementara teman di sebelahnya mengendarai sambil mengangguk-anggukkan kepala menikmati lagu yang mereka putar. Di tengah ada ketiga teman perempuan gue yang... sepertinya sibuk dengan ponsel masing-masing. Gue? Di baris belakang bersama salah seorang teman perempuan. Sedikit kami membicarakan soal... "Eh, gimana tuh kelanjutan lo sama dia?" atau "Eh, gue bingung nih mau resign atau tetep. Menurut lo gimana, zul?" dan lain-lain.

Sampai di kilometer.... gue lupa. Di tol Cipali. Sebuah bus antar kota melaju di sisi kiri kami. Mereka berdua yang duduk di depan pun ribut. Kami di belakang perhatikan saja.

"Buka kacanya, bego!"
"Lo bisa buka sendiri, N****!"
"Oiye..."

.......................................

"Majuin dikit. Balapin.
"Yah nggak sama posisinya."
"Udah sekarang!"
.
.
.
"Om Telotet Om!!!!!!!"

Dan si supir bus antara kota pun membunyikan klaksonnya. Hal itu terjadi sebanyak tiga kali di jalur tol yang sama. Dasar gila, mereka berdua! *bertiga!


Jakarta, 18 September 2017



Z A N

Selasa, 13 Juni 2017

Ayam Berkotek di Pagi Nara

Sudah satu minggu Mimin tak berkotek, subuh ini pun ia masih belum mengeluarkan suaranya. Ia merenung, memikirkan nasibnya hari ini yang tidak tahu harus makan apa dan mencarinya kemana, setelah satu minggu sebelumnya ia selalu memakan sisa - sisa manusia yang dibuang ke tong sampah. Matahari malu-malu menampakkan wujudnya, nyala sinar lampu kota mulai dipadamkan, puluhan pedagang tergopoh-gopoh menuju Pasar Kota, membopong berbagai macam Badaing dagangan mereka. Mimin memperhatikan segalanya dengan perasaan sedih

Di tengah Kota yang hingar bingar dan mulai ramai dengan segala aktivitas manusia, Mimin sembunyi di balik gubuk karton yang terletak di samping tong sampah Kantor Pos. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari pasar. Manusia terlihat ramai berlalu-lalang. Sesekali mereka menoleh kearah Mimin. Sebagian dari mereka merasa iba, dan sebagian yang lain menatap dengan penuh nafu untuk menangkap lalu menjualnya. Mimin merasa takut. Tak berani timbul dari persembunyiannya. Ia hanya memunculkan kepalanya untuk melihat kondisi jalan raya. Dilihatnya Pak Polisi sedang mengatur lalu lintas sambil meniupkan peluit. Petugas Pos terlihat sibuk memeriksa surat dan berkas lainnya sebelum diantar ke tempat tujuan. Tertangkap wajah Petugas Pos itu tersenyum, juga Pak Polisi terlihat begitu semangat mengatur arus lalu lintas yang mulai padat. Tak lama, Petugas Pos itu pun pergi mengantarkan surat dan berkas lainnya. Sebelum jauh, Petugas Pos menghampiri Pak Polisi untuk menyapa dan berjabat tangan.

“Selamat Pagi Pak,” sapa Petugas Pos sembari tersenyum kepada Pak Polisi.

“Selamat Pagi, selamat bertugas Pak.” Pak Polisi menjulurkan tangan kanannya mengajak Petugas Pos untuk bersalaman.

“Selamat bertugas.” Petugas Pos menjabat tangan Pak Polisi lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Matahari kian tinggi. Bayang-bayang bangunan terbentuk di jalan. Kendaraan mulai memadati jalan. Beberapa bus kota yang berlalu-lalang telah dipadati ibu-ibu yang pergi ke Pasar, bapak-bapak yang pergi bekerja, dan remaja lainnya yang pergi sekolah.

Di halte yang berjarak seratus meter dari persembunyian Mimin, terdapat delapan anak berkumpul menunggu bus sekolah. Tiga anak berseragam putih abu, dua anak berseragam putih biru, dan sisanya berseragam putih merah. Jalan semakin ramai dengan pejalan kaki.

Satu minggu yang lalu, Mimin melarikan diri bersama ayahnya. Ibu Mimin tak berhasil melarikan diri. Ia tertangkap kembali oleh pemilik peternakan ayam, sehingga ia terpisah dari Mimin dan Ayah Mimin. Namun saat melarikan diri, Mimin berlari terlalu cepat sehingga ia tak sadar telah jauh meninggalkan ayahnya di antara kerumunan manusia. Mereka pun terpisah berlari ke arah yang berbeda.

Mimin telah mencari ayahnya. Namun, ia tak menemukan jejak-jejak ayahnya. Kini sudah satu minggu Mimin kehilangan sang ayah. Ia selalu bertanya di dalam hati, apakah ayah ditangkap oleh petugas keamanan kota? Mimin jadi takut, ia rindu pada Ayahnya. Ia juga ingin bertemu kembali dengan Ibunya. Aku harus menemukan ayah dan kembali menjemput ibu untuk pergi bersama-sama, batin Mimin.

Hari itu, Mimin kembali mencari ayahnya. Ia melangkah perlahan, mengendap-endap mencari celah. Dilaluinya langkah kaki manusia yang begitu cepat di jalan yang berliku. Kini ia harus melalui jalan kecil yang sempit dan penuh dengan genangan airBelum sampai di Pasar Kota, Mimin yang berlari tanpa perhatikan arah, terkejut dengan Bibo yang tiba-tiba saja menghentikan langkah Mimin dari arah berlawanan. Bibo adalah teman Mimin. Ia merupakan seekor ayam boiler, tubuhnya lebih besar dari Mimin, bulunya lebih halus dan lebih terawat, berbeda dengan Mimin yang berjenis ayam lokal pada umumnya.

Hey Min, where are you going? Em.. maksudku, kamu mau kemana?” tanya Bibo.

“Huh! Hampir saja jantungku copot karena kamu mengagetkanku. Aku mau mencari ayahku,” jawab Mimin dengan wajah memelas.

“Kamu menyasar?”

No, I’m just.. lost him. Kupikir aku kehilangan Ayahku.”

“Bisa ku bantu?”

“Tidak perlu, lebih baik kamu pulang saja kerumah sebelum petugas kota menjaringmu karena mengira kamu hewan liar. Aku harus pergi ke Pasar Kota sekarang, mungkin saja ayahku terperangkap di sana, atau disekap oleh salah satu pedagang.” Mimin meneruskan langkahnya dan meninggalkan Bibo.

Hey Min, be careful! Hati-hati, temui aku kalau kamu tidak berhasil menemukan ayahmu!” teriak Bibo pada Mimin yang telah jauh berlari.

“Baiklah Bibo,” jawab Mimin tanpa menoleh padanya.

Mimin semakin jauh dari pandangan Bibo. Bibo melihat langkah Mimin yang sesekali tersandung. Setelah Mimin sudah tak lagi terlihat, Bibo pun kembali kerumah.

Sesampainya di ujung jalan kecil yang berliku, Mimin semakin bingung, manusia yang berlalu-lalang lebih ramai. Kemana aku harus melanjutkan langkahku? Mimin berhenti sejenak.
           
***

Nara—gadis delapan tahun itu sedang duduk bersandar di kursi roda. Ia begitu menikmati pemandangan senja dari tepi pantai. Matahari yang akan tenggelam, langit jingga, serta air laut yang mulai surut. Hembusan angin menyentuh kulit Nara dengan lembut. Menjalar ke wajah, dan mengibas rambut indahnya. Ia merentangkan kedua tangannya, lalu memejamkan kedua matanya, kemudian menghirup-hembuskan napas. Ia tersenyum kemudian membuka kedua matanya. Tidak seperti kebanyakan anak-anak sehat lainnya, sudah lima tahun Nara harus duduk di kursi roda karena penyakit Myelitis Transversa (Lumpuh akibat virus yang menyebabkan kelemahan pada kaki) yang dideritanya. Selama itu juga Nara harus menjalani terapi dan pengobatan. Nara tidak bersekolah di sekolah umum, ayah dan ibunya membayar seorang Guru untuk mengajar secara khusus di rumah. Ia tidak pernah malu dengan penyakit yang dideritanya, meski kadang ia merasa iri dengan kebanyakan anak seusianya yang sehat. Kak Badai selalu memberinya semangat. Nara bersyukur memiliki ayah, ibu dan seorang kakak yang begitu menyayanginya.

“Kak Badai, kenapa Matahari selalu tenggelam di sore hari?” tanya Nara yang masih menikmati senja bersama Kak Badai.

“Karena Bumi selalu berputar pada porosnya. Sebenarnya Matahari tidak pernah tenggelam, Nara. Ketika di satu kota mengalami waktu sore, maka di kota lain akan mengalami waktu pagi. Begitulah tugas Matahari sebagai sumber cahaya utama di dunia ini. Ia adil, menerangi seluruh Dunia secara bergantian,” jelas Kak Badai yang duduk di samping Nara.

“Oh begitu,” jawabnya sambil menganggukkan kepala. “Itu berarti, kalau di Kota Makassar ini sore, di kota lainnya pagi. Kalau di Kota Makassar ini malam, di kota lainnya siang. Apa begitu Kak?” lanjut Nara.

“Ya.. kamu benar. Contoh sederhananya di negara kita ini, Indonesia, memiliki tiga perbedaan waktu. Waktu Indonesia bagian Badait, Waktu Indonesia bagian Tengah, dan Waktu Indonesia bagian Timur. Nara tahu? Di tempat tinggal kita—Makassar—matahari akan segera tenggalam, jam menunjukkan pukul lima sore, artinya di Jakarta sebagai Waktu Indonesia bagian Badait, masih pukul empat sore, dan di Papua sebagai Waktu Indonesia bagian Timur, sudah pukul enam sore. Di Jakarta, matahari masih bersinar terang, tapi di Papua, matahari sudah tak lagi bersinar,” jelas Kak Badai.

“Jadi, karena bumi yang berputar, itu menyebabkan terjadinya siang dan malam, begitu Kak Badai?”

“Betul! Kamu sudah pintar Nara. Sekarang, sudah waktunya kita pulang.” Badai tersenyum sambil berdiri dan mengusap rambut adiknya.

“Oke Bos! Oh iya Kak, Nara kepengin deh pelihara hewan. Nara pengin pelihara anak ayam, menurut Kak Badai gimana?” tanya Nara meminta pendapat. Ia terlihat penuh semangat.

“Boleh aja, nanti kita cari yang lucu ya di Pasar,” jawab Badai sambil mendorong kursi roda Nara.

“Beneran Kak?” Nara kegirangan.

“Iya,” jawab Badai.

Badai membantu Nara untuk sampai kerumah dengan mendorongkan kursi rodanya. Di sepanjang jalan, Badai selalu teringat semangat adiknya setiap kali menjalani terapi. Bagaimana wajah Nara yang kecil mungil dan manis itu saat berusaha memijakkan kedua kakinya. Ada semangat yang begitu besar terpancar di wajahnya, namun terkadang ada juga kesedihan yang terselimuti oleh senyumnya. Badai selalu menemukan keduanya pada wajah Nara. Sesungguhnya, telah lama juga ia menantikan bermain sambil berlari dengan adik satu-satunya itu. Badai berharap tahun ini adalah akhir dari pengobatan terapi Nara.

Sudah genap lima tahun, seharusnya Nara sudah bisa berjalan, itulah yang selalu Badai harapkan disetiap malam sebelum tidurnya. Ia selalu memimpikan pergi ke Kebun Binatang bersama Nara, ia ingin mengajak adiknya menonton pertunjukan sirkus hewan-hewan. Badai ingin membahagiakan adiknya. Matahari kini terlihat setengah lingkaran di ujung kaki langit. Angin sepoi-sepoi membuat suasana sendu di hati Badai semakin menjadi-jadi, sedangkan Nara, dengan semangatnya melantunkan sebuah lagu yang sering Badai nyanyikan untuknya.

Airnya turun tidak terkira,
cobalah tengok dahan dan ranting,
pohon dan kebun basah semua..

***

Mimin masih terus mencari ayahnya. Seluruh kios pedagang di Pasar telah ia hampiri secara diam-diam. Pedagang cabai, pedagang beras, pedagang pakaian, pedagang ikan, pedagang daging, dan pedagang ayam, semuanya telah ia kunjungi. Namun, ia belum juga menemukan ayahnya. Mimin terhimpit di antara para pembeli. Ia berusaha menghindar dan bersembunyi di antara kanton-karton bahan makanan. Mimin menyelinap memasuki area kios pedagang rempah–rempah, ia beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga untuk keluar dari pasar kota. Tak ada pilihan lain, aku harus kembali ke peternakan untuk menemui ibu, akan ku cari ayah bersama ibu, pikirnya.

Mimin berlari sekuat tenaga agar tidak ditangkap pedagang ayam. Ia kembali ke Peternakan. Terseok–seok ia berlari, terhimpit, tersandung, jatuh, dan bangun lagi. Air matanya menetes perlahan kemudian menjadi deras, seirama dengan kecepatan larinya, Angin menampar wajahnya. Sepanjang berlari, wajah ayah dan ibunya lah yang ada di kedua pelupuk matanya. Ia merindukan kebersamaan itu. Jika memang melarikan diri adalah hal yang salah dan membuatku kehilangan ayah dan jauh dari ibu, lebih baik aku  menetap di Peternakan, meski pembeli mungkin membeliku dan memisahkan aku dari ayah dan ibu, setidaknya aku memiliki waktu bersama dengan mereka sebelum berpisah, batin Mimin sambil terus berlari.

***

Esok harinya Badai bersama ayahnya pergi ke Peternakan untuk membeli beberapa anak ayam yang ingin dipelihara Nara. Adiknya ingin sekali memiliki peternakan di halaman belakang rumah. Badai ingin memberikan kejutan kepada adik tersayangnya. Sesampainya di Peternakan, Badai memilih anak ayam yang begitu gesit dan penurut. Dilihatnya satu persatu anak ayam yang ada di dalam kandang besi dengan ukuran 9 X 10 meter itu.

Mimin sudah sampai di Peternakan, ia segera mencari sosok ibunya yang terperangkap di dalam kandang. Menyelinap, ia masuk melewati lubang pagar yang tersembunyi di sisi kanan. Setelah berhasil masuk, ditatapnya seluruh sisi kandang peternakan tersebut. Mimin menemukan dua ekor ayam yang sedang bersama di sudut kiri.

“Ayaaaaaah… Ibuuuuuu….,” terik Mimin sambil berlari kearah Ayah dan Ibunya.

Badai memilih seekor anak ayam jantan yang sedang mematuk umpan di tangan kanannya, dan memilih seekor anak ayam betina yang sedang berlari kearah sudut kiri.

“Di sana, Pak!” seru Badai kepada bapak peternak sambil menunjuk kearah anak ayam yang sedang berlari itu. Bapak peternak masuk kedalam kandang dan menghampiri anak ayam itu perlahan. 

Di rumahnya, Nara sedang bersiap untuk kembali menjalani terapi. Sudah satu tahun terakhir ini, Nara mengalami kemajuan yang sangat berarti dari setiap terapinya. Hari ini ia siap untuk memulai langkah pertamanya, hasil akhir dari terapinya adalah bila Nara yakin ia bisa berjalan, maka ia akan kembali berjalan, itulah yang dikatakan Dokter kepada kedua orangtuanya. Perlahan Nara memulai langkahnya, satu… dua… langkah telah ia tapaki dibantu oleh ibunya, Nara yakin akan berjalan kembali hari ini.
 
Badai telah mendapatkan dua ekor anak ayam yang diingkan adiknya. Setelah sampai di rumah, ia melihat Nara sedang berjalan tanpa alat batu. Perlahan, langkah demi langkah Nara sudah bisa kembali berjalan. Suster yang mengawasi terapinya selama lima tahun terlihat sangat kagum dan bahagia. Senyum puas pun tersungging di wajahnya. Nara dan ibunya tertawa bahagia sambil berpelukan, tangis haru hadir di antara mereka. Ibu Nara berulang kali mengucapkan terimakasih kepada Suster. Badai dan ayahnya, terkejut melihat pemandangan indah di hadapannya. Keduanya saling menyeka air mata yang berjatuhan di pipi. Badai mengangkat tangan kanannya yang menenteng box berisi anak ayam pesanan Nara. Nara tersenyum bahagia, ia menangis dan berlari ke arah kakaknya. Diperluknya Badai dengan sangat erat.

***

Setelah satu minggu Mimin tidak berkotek, hari ini ia kembali berkotek. Dengan penuh semangat, Mimin meniru gaya berkotek sang ibu.

“Koteeeek… Koteeeek..,” kotek Mimin begitu keras dan semangat.

Nara terbangun mendengar anak ayamnya berkotek. Perlahan ia berjalan keluar dari kamarnya menuju halaman belakang untuk memeriksa anak ayam miliknya. Perlahan ia mendekati kandang yang dibelikan ayahnya untuk kedua anak ayam itu. Nara bahagia, ia bisa berjalan kembali di pagi yang baru, memelihara hewan yang sangat ingin ia ternak, dan mendengar kotekan pertama ayam peliharaannya.

“Selamat pagi Maman dan Momon.” Nara menyapa dua anak ayam yang sedang mematuk makanan di kandangnya.

Mimin sungguh bahagia. Ia berjanji tidak akan meninggalkan peternakan lagi. Ia tidak akan merengek meminta pergi dari sana kepada ayah dan ibunya. Pagi ini Mimin kembali berkotek di pagi yang baru.


Jakarta, Juni 2016


Z A N

Senin, 13 Februari 2017

Gadis Belanda Berkebaya

gerimis pagi masih mengikis dedaunan
terlihat seorang gadis berjalan di pekarangan sawah
berpakaian ala belanda
dengan payung merah jambu di tangan kanannya
ia sembunyi dibawahnya

sampai di ujung jalan setapak
ia bertemu dengan sepasang kupu-kupu
asik menghisap nectar bunga matahari
gerimis berhenti
dihampiri dan ditangkapnya
tapi mereka pergi
terbang tinggi

tak sekalipun sang gadia kecewa
ia melipat payungnya
melanjutkan perjalanan
hingga sampai di gedung perjuangan, Cikini
disambutnya ia dengan sang ibu
mewah sekali hidupnya

satu jam berlalu ia kembali ke pekarangan sawah
dengan kebaya ia berjalan
disanggul rambutnya
menemui teman-teman yang hanya berpakaian keringat
yang terbungkus kain lusuh
dijaringnya capung-capung yang beterbangan
sungguh berbeda
tak kukira ia adalah gadis sederhana

-ZAN-

Selasa, 24 Januari 2017

Keruh

air sungai mengalir deras,
tanpa diminta, ia memberikan
tanpa diberi, ia tetap ada
demi manusia agar berkecukupan

kemana ia mengalir,
selalu tumbuh hehijauan,
manusia puas dengan alam yang ada,
mereka lahir dengan kesempurnaan

kini sungai telah keruh,
tak ada kejernihan yang mampu ia berikan
semua ternoda
oleh kebohongan pendusta

cinta,
hatiku telah mati untuk merasa cinta
telah keruh karena cinta
yang diberi oleh pendusta

-ZAN-