Postingan

Melihat Kembali

Orang bilang hidup gue simpel. Penuh warna, selalu keliatan mudah, penuh semangat, selalu menjadi pembelajar, inspiratif, dan percaya diri. Gue senang-senang aja sih terima predikat itu dari orang lain, andai mereka tahu hobi gue dari kecil doyan banget ngupil, gue yakin sih mereka bakal mikir ulang buat kasih macam-macam predikat tadi. Nah, belakangan ini gue dapat predikat baru yang sejujurnya ... lumayan gak pernah gue sangka sih. Well , awalnya perasaan gue berontak. Tapi akhirnya gue ingat satu hal, kalau perasaan dan hidup tenang itu, cuma bisa didapat ketika hati mulai menerima segala hal yang datang; peristiwa, perasaan, prasangka, positif maupun negatif. Hati cuma punya tugas satu, yaitu menerima. Bay de wey, gue suka banget nulis. Bikin cerpen, novel, prosa, puisi, bahkan nulis abstrak di blog pun sering, yang kayaknya gak semua orang paham sama apa yang gue tulis ( kayak tulisan yang lagi lo baca sekarang ini. ) Kadang, rasanya nulis itu ibarat sembuhin hati. Dia jadi obat k

Awalnya

Pagi itu, jadi pagi paling bahagia baginya. Meski hanya dalam beberapa waktu saja. Pagi itu, punya kesan tersendiri baginya. Bisa-bisanya dia percaya pada sesuatu yang mustahil bagi orang lain. Pagi itu, awal dari keyakinannya yang perlahan rapuh. Ia tak bisa menghindar dari debar dadanya. Hari-hari esok masih sama, sampai hari ke-348, semua masih baik-baik saja.

Wifi Gue!

Namanya Arief. Anak blasteran Kalimantan - Sumatera yang lahir dan besar di Bontang. Dia, wifi gue. Dari pertama kali kenal (2017), tingkahnya gak pernah berubah. Konyol, gak ribet, apa adanya, simpel, dan agak ... melankolis (?) Gue kenal bocah satu ini di komunitas literasi online . Ngobrol soal buku-buku dan genre penulisan yang kita (se-grup) suka. Setiap hari selalu ada challenge bikin cerita super pendek dengan genre yang berbeda. Tulisan dia, selalu bikin gue pengin baca lagi, pengin baca lagi, pengin baca ... lagi. Pertama kali gue keep in touch sama nih anak, waktu pertama kali gue upload foto Rinjani (foto kiriman yang cukup berharga buat gue). Gara-gara itu gue jadi banyak ngobrol sama Arief ngebahas "Sunset bersama Rosie". Setelah hampir empat tahun keep contact, dia malah jadi penasehat gue. Bertingkah sok bijak ngajarin gue ini-itu (biar gue gak salah langkah sih kayaknya), selalu kasih pandangannya ke gue di saat gue minta ataupun nggak. Selalu respons cepet, k

Stress Release

Bagi kita memahami sebuah teori adalah hal yang lebih mudah daripada berhitung dengan cepat. Seperti saat bagaimana kita tahu adanya gaya gravitasi yang menyebabkan sebuah benda jatuh ke bawah. Atau, seperti saat kita berpikir keras memecahkan soal matematika sistem persamaan linear dua variabel (biasa kita menyebutnya SPLDV). Memahami teori memang lebih mudah. Namun, tidak dengan memahami diri sendiri. Kenapa kita selalu merasa bersalah? Bahkan ketika kita indirect  melakukan kesalahan. Kenapa kita jadi sulit menerima perselisihan atau perbedaan argumentasi? Padahal persoalannya hanya ada di sudut pandang tiap-tiap isi kepala yang berbeda. Dan kenapa juga kita jadi sulit melepaskan perasaan tidak enak pada orang lain? Katanya self love itu penting. Mengajarkan tips and tricks tentang bagaimana kita melakukan kontrol pada emosi-emosi yang dihasilkan dari dalam diri. Namun, kenyataannya sulit juga ketika sistem parenting atau pola parenting telah menanamkan pupuk "anak yang kuat da

Memaknai

Hai, apa kabar? Gimana perasaanmu hari ini? Bahagia? Barangkali sederet pertanyaan itu yang muncul dalam pikiranku malam ini, bahkan isi kepalaku sempat-sempatnya repot menyusun beragam pertanyaan tentang mengenal diriku hari ini. Apa aku sudah bahagia hari ini? Bahagia yang seperti apa? Apa sih makna bahagia untukku? Jauh sebelum hari ini, aku memaknai bahagia begitu sederhana; saat kita banyak bersyukur, bahagiapun 'kan datang. Kenyataannya, pikiranku saat itu memang benar adanya. Mungkin kamu pernah mendengar kata "kebetulan". Kamu percaya? Mungkin, dulu aku percaya. Waktu aku duduk di bangku SMK. Kebetulan aku menduduki peringkat ketiga, kebetulan aku mendapat beasiswa, kebetulan aku dapat pengalaman prakerin di salah satu Perusahaan Astra Group, dan kebetulan aku lolos seleksi jalur beasiswa di salah satu Universitas Swasta terakreditasi-A. Namun, hari ini aku terlahir bukan karena kebetulan-kebetulan yang menurutku sangat bisa membahagiakan. Aku mulai mengambil kepu

Daun dan Malam

Memang benar, kita bagai busur yang saling bertolak belakang, yang terhimpun dan melekat karena perasaan berkembang peran menjadi magnet bagi keduanya. Selalu ada yang terkuat, dominan, memegang kendali atas semuanya. Selalu ada pula yang bertahan, mengatur kendali atas dirinya. Jika dedaunan yang jatuh itu bertanya pada angin, tentang malam yang selalu dingin. Barangkali daun mulai lelah dengan perannya yang selalu mengalah dan bertahan pada pendiriannya. Namun, jika dedaunan yang jatuh itu bertanya pada bulan, tentang malam yang menenangkan. Barangkali daun telah nyaman menerima kehadirannya dan peran yang ia mainkan. Daun itu tak bertanya pada angin kini. Pun juga ia tak bertanya pada bulan. Daun itu merenungkan, bagaimana nasibnya jika hanya berdiam. Dalam benaknya hanya tumbuh satu pertanyaan, jika ia renta dan mati tua karena terhinjak manusia, apakah malam akan melihatnya? Dalam hatinya, daun hanya ingin mengatakan kalau ia sudah terlalu lama diam di sisi akar-akar pohon itu. Me

#kitaadalah

Kita adalah anak-anak, yang penuh prediksi pada masa depan, yang penuh mimpi sambil mencungkil buah seri dari batangnya, yang sering kali baca majalah bobo sambil telungkup, yang menyanyikan lagu India bersorak-sorai, yang melempar bola bekel lalu menertawakan saat kita menang, yang selalu berambisi saat main congklak, yang tak pernah mau kalah ketika main lompat karet, yang suka berandai dengan main orang-orangan kertas. Kita adalah anak-anak, yang telah berhasil melewati seperempat masa (jika 100 tahun kehidupan). Kita adalah lingkungan, yang mampu mempengaruhi dan dipengaruhi, yang menerima banyak hal dan memberi semampunya, yang berambisi pada satu hal dan abai pada sebagian, yang dibicarakan dan menjadi fakta cerita, yang dibandingkan dan membandingkan, yang dibuktikan dan membuktikan. Kita adalah tempat, bagi yang hendak pulang dan menumpah segala rasa atau sejumput asa. Kita adalah batita, yang tepuk tangan saat mau makan, yang menangis saat dijahili kawan, yang mengadu pada gur