Kamis, 28 September 2017

Arti Kesempatan

Ada yang bilang keberhasilan seseorang disebabkan karena usaha yang gigih. Perlu teman-teman ketahui bahwa, suatu keberhasilan dapat terjadi apabila seorang tersebut berani mengambil kesempatan yang ada. Bukan hanya menunggu ataupun berusaha dengan gigihnya. Barulah kemudian berusaha dengan gigihnya.

Selain itu, keyakinan hati juga memengaruhi keberanian dalam pengambilan keputusan.

Tipsnya adalah:

Pertama, berani mengambil kesempatan.
Kedua, gigih dalam mengerjakan.
Ketiga, berdoa pada Allah.
Keempat, pertahankan dan tingkatkan yang telah diraih.
Kelima, selalu rendah hati.

Terima kasih, semoga tertjerahkan.
 Salam,


ZAN

Senin, 25 September 2017

Sebuah Pesan

Pernahkah kita berpikir untuk melakukan suatu hal kecil yang dampaknya begitu besar?

Siang itu, setelah menyelesaikan beberapa hal terkait pekerjaan, gue kembali menuju kantor menggunakan angkutan ojek online. Butuh beberapa kali melakukan pencarian driver karena beberapa kali pula gue ditolak. Hingga akhirnya aplikasi itu mengantarkan gue kembali ke kantor dengan driver bernama Muhammad Rizki.

Ia masih cukup muda kalau didengar dari suara dan penampilan. Gue tidak tahu wajahnya karena sangat rapat ditutup masker dan helm.

Singkatnya, tak lama di perjalanan azan zuhur pun berkumandang. Tanpa gue duga, driver itu mengentikan perjalanan, menepi di sebuah Masjid.

"Mba, kita solah dulu nggak apa-apa kan?" tanya driver.

Tentu saja gue tidak menolak. Hal itu adalah kewajiban, lagipula kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama berkendara dan bergelut dengan lalu lintas.

Beberapa menit pun berlalu. Usai melakukan ibadah zuhur, driver mengantarkan gue kembali ke tempat tujuan.

Sebenarnya gue agak bingung, karena walaupun gue sering melalui jalan itu, tapi gue jarang memperhatikan setiap hal detailnya. Akhirnya, beberapa kali kami sempat salah berbelok.

Tiba di Jalan Proklamasi, kami melihat insiden kecelakaan antar sepeda motor dan kendaraan roda empat.

Kau tahu? Dengan pasti driver itu mengentikan laju kendaraan yang gue tumpangi. Ia bangkit lalu berjalan menolong si pengendara motor. Sementara gue berusaha membantu driver dengan menolong salah satu korban.

For your information, si korban alias pengendara motor itu adalah driver ojek online yang sedang mengantar penumpang juga. Di mana si penumpang adalah perempuan.

Beberapa saat kemudian, driver mengantarkan gue kembali ke tujuan dengan selamat.


PS : Untuk kalian di mana pun berada. Jangan pernah tinggalkan ibadah di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Serta, berhati-hatilah dalam berkendara.


Jakarta, 25 September 2017


Z A N

Senin, 18 September 2017

Orang-orang Tajam

Pernahkah kalian bertemu sapa dengan sekelompok orang yang sepaham? Apa yang kalian rasakan?

Begitulah yang gue alami beberapa bulan ini. Tanpa disengaja, gue bertemu (lagi) dengan orang-orag hebat yang tidak pernah direncanakan. Mungkin ini yang namanya takdir baik dari Tuhan. Alhamdulillah. Ini rezeki buat gue tentunya.

Selama bertemu mereka, sejak awal perkenalan pembahasan kami selalu berfaedah. Banyak poin penting yang gue pelajari. Mulai dari pengalaman mereka, latar belakang kehidupan mereka, pandangan dan sikap mereka terhadap suatu persoalan, hingga yang paling terkompleks (soal pemerintahan dan sejarah).

Banyak keunikan dari mereka yang gue pelajari. Dan itu justru jadi penghibur gue bahkan kami semua menyadari itu. Pembicaraan kami, antar kami, saling menyenangkan satu sama lain. Dan, yang paling luar biasa, dampaknya sangat baik. Gue jadi paham hal-hal apa saja yang tidak pernah gue ketahui sebelumnya.

Seringnya, gue sendiri tidak mengira kalau kami berbicara di forum bertemakan kepenulisan. Kami menyusun antologi bersama. Di mana genre yang kami tulisa, adalah genre pertama yang belum pernah gue tulis. Akhirnya, gue berhasil menyelesaikan itu meski banyak revisi. Bagus buat gue. Mereka sangat membantu mengarahkan baik dan kurangnya dalam tulisan yang gue buat.

Jadi, intinya... dalam postingan kali ini, gue memperkenalkan mereka yang gue kenal dari sebuah grup kepenulisan di salah satu platform chatting. Yang aktivitasnya, dipadati dengan pembahasan sedang, baik, sangat baik, hingga buruk (humor dewasa).


Jakarta, 18 September 2017


Z A N

Ribut-ribut

Malam itu kami dalam perjalaan menuju Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Mengunjungi kampung halaman salah seorang teman kampus.

Keberangkatan dibagi menjadi dua; kendaraan si pemilik kampung halaman melaju lebih dulu dengan keluarganya, kami mengekori.

Perjalanan yang dijadwalkan pada jam delapan malam, mundur dua jam karena salah seorang teman yang terlambat tiba. Orang mana yang sampai telat selama dua jam? Cuma dia seorang. *Mereka berempat memang doyan ngaret (teman-teman laki kami). Kalau mau dibahas satu-persatu tentang bagaimana mereka ngaret dan dalam kondisi apa saja, gue rasa satu laman blog ini tidak akan cukup. -_-

Selama perjalanan, posisi di dalam mobil yang kami tumpangi, teman yang ngaret tadi duduk di kursi penumpang paling depan. Sementara teman di sebelahnya mengendarai sambil mengangguk-anggukkan kepala menikmati lagu yang mereka putar. Di tengah ada ketiga teman perempuan gue yang... sepertinya sibuk dengan ponsel masing-masing. Gue? Di baris belakang bersama salah seorang teman perempuan. Sedikit kami membicarakan soal... "Eh, gimana tuh kelanjutan lo sama dia?" atau "Eh, gue bingung nih mau resign atau tetep. Menurut lo gimana, zul?" dan lain-lain.

Sampai di kilometer.... gue lupa. Di tol Cipali. Sebuah bus antar kota melaju di sisi kiri kami. Mereka berdua yang duduk di depan pun ribut. Kami di belakang perhatikan saja.

"Buka kacanya, bego!"
"Lo bisa buka sendiri, N****!"
"Oiye..."

.......................................

"Majuin dikit. Balapin.
"Yah nggak sama posisinya."
"Udah sekarang!"
.
.
.
"Om Telotet Om!!!!!!!"

Dan si supir bus antara kota pun membunyikan klaksonnya. Hal itu terjadi sebanyak tiga kali di jalur tol yang sama. Dasar gila, mereka berdua! *bertiga!


Jakarta, 18 September 2017



Z A N

Jumat, 15 September 2017

170116

Tiba pada satu waktu. Pada langkah yang harus terhenti dan tak tahu ke mana lagi. Mungkin tetap pada Tuhan. Itu saja. Lalu, kau enggan melangkah kemudian. Aku pun begitu.

Aku pernah bersalah. Bersalah pada masa lalu yang kuremehkan. Kubiarkan ia ternodai dengan ketidakpastian. Bertahun aku menata kembali, hingga aku bertemu dengan seseorang yang tak pernah kuduga. Kau.

Hari itu, entah bagaimana caranya kau bisa menemukanku di sebuah laman. Sampai pada percakapan awal kita di hari Minggu. Aku di Jakarta. Kau di sana. Dua tempat yang menjadi saksi awal perkenalan kita.

Aku menggila, memang itu kekonyolanku. Teman bilang, isi kepalaku memang rada-rada. Dan ternyata kau tak masalah dengan itu. Aku lega.

Satu hari, dua hari, tiga hari. Aku pun tahu suatu hal buruk yang menimpamu beberapa bulan sebelum hari Minggu itu. Aku bisa apa? Nyatanya, aku tak bisa melakukan apa-apa. Selain dari yang aku bisa; menyemangatimu layaknya seorang teman, dan menemani hari-hari sepimu.

Seorang teman. Ya, awalnya... kupikir akan selalu dan tetap begitu.

Kepergianmu ke Puncak 3.726 mdpl membuat semuanya berbeda. Kesederhanaanmu entah bagaimana ia bisa membuatku meruntuhkan sedikit pertahananku. Seperti menemukan kunci baru dalam rumah yang telah lama ditinggalkan yang terkunci rapat-rapat.

Aku... merasakannya.
Saat itu, aku tahu kau pun juga merasakannya.
Kita hanya diam, tak melakukan apa-apa.

Aku menyombongkan setiap gambar yang kau beri padaku. Aku hanya merasa... kesederhanaan itu membuatku bahagia.

Kita pernah berselisih. Aku pernah melakukan salah. Kau juga, menurutku. Tapi kita mampu bertahan dengan cara masing-masing.

Ke mana pun jejak langkahmu, kau selalu menempatkan namaku. Aku hanya tidak percaya kau melakukan itu. Berkali-kali aku berpikir, bahwa tidak mungkin itu cuma aku. Aku sadar, aku bukan seorang manusia yang layak untuk seorang sepertimu.

Berkali-kali aku berpikir demikian. Berkali-kali aku berusaha menghindar dan melupakanmu. Membiarkanmu bebas bertemu wajah-wajah baru. Hati baru. Namun, kau datang lagi dan melakukan kesederhanaanmu untukku. Aku kembali lagi padamu. Selalu. Seperti itu. Lagi. Kepadamu.

Aku meyakini semua ini yang terbaik. Namun, aku lupa... kalau hati tak bisa ditampik. Aku, masih tidak bisa melupakan, lalu merelakanmu. Adakah kau juga begitu? Semoga tidak. Ingatlah, aku hanya seorang yang seperti ini. Aku selalu ingin kau menemukan hati baru yang bisa membuatmu lebih baik. Tapi, jika kau tak bisa... aku juga tak menutup kembalinya dirimu.

Mungkin menurutmu aku berbeda. Ketahuilah, aku tetap manusia yang sama dengan manusia lain. Aku hanya merasa, tidak mungkin hanya aku yang ada di dalam hari-harimu. Karena itu selama ini aku berusaha diam. Sekali lagi, karena mungkin saja aku yang terlalu berangan tentangmu. Bukan aku tidak percaya pada hatimu, hanya saja... mungkin aku terlalu tak berani.

Kepadamu,
Tetaplah tegak pada pendirianmu. Jajaki setiap langkah yang ingin kau tandangi. Bawa namaku ke mana pun dan seberapa banyak kau mau. Aku selalu bahagia menerima itu.

Kepadamu,
Sehatlah selalu. Wujudkan satu persatu impian yang telah kau rangkai. Impian yang pernah kau katakan padaku. Impian, yang aku percaya kau mampu menebusnya.

Kepadamu,
Berserahlah kepada Tuhan untuk memberikan keputusan terbaik kepada dirimu, maupun aku.

Kepadamu,
105971, aku...


Jakarta, 15 September 2017


Z A N

Selasa, 12 September 2017

"Ngapain kamu di sini?"

Menjelang subuh kala itu. Kira-kira bulan ramadhan 2014. Biasanya, pimpinan NGO tempat gue bekerja mengajak seluruh anak asuhnya untuk melaksanakan ibadah subuh berjamaah.

Subuh kali itu hari kesekian kami mengadakan rapat nasional di sebuah hotel bilangan Jakarta Pusat. Seorang pemuda usia tiga puluhan duduk di sebuah kursi dekat ambang pintu masuk. Gue yang saat itu berjalan beriringan dengan ibu asuh kandung di kantor dan ibu pimpinan NGO (sebenarnya ramai sih, ada beberapa rekan dari beberapa penjuru wilayah indonesia) menuju sebuah aula yang kami gunakan untuk melaksanakan subuh berjamaah, melihat pemuda itu dari jauh dengan sedikit ingin menertawakannya. Pemuda itu menyelimuti tubuhnya mulai dari kepala hingga lengan dengan handuk besar yang ia dapat dari kamarnya.

Bukan hanya gue yang saat itu ingin menertawakannya. Pasalnya, hampir semua ibu-ibu juga mba-mba di sekeliling gue saling berbisik ingin tertawa melihat kelakuannya. Kami sudah hapal betul karakter pemuda itu yang tak luput dari tingkah langkanya. Gue sendiri mengakui, tidak ada yang tidak tertawa saat pemuda itu menjalankan aksinya.

Singkat cerita, kami tiba di ambang pintu. Pemuda itu masih menyelimuti sekujur tubuhnya dengan handuk putih dan masih duduk di sana. Ibu asuh gue di kantor bertanya padanya, "Ngapain sih?"

"Dingin, Bu," jawabnya.

Lalu, ibu pimpinan NGO bertanya, "Kamu nggak ikut ambil wudhu, ***? Ngapain kamu di sini?"

Pemuda itu pun menjawab dengan santai di hadapan ibu-ibu dan mba-mba tanpa melepas handuk di tubuhnya, "Saya penjaga pintu surga. Jadi silakan ibu-ibu masuk menuju surga."



Jakarta, 12 September 2017


Z A N

Selasa, 29 Agustus 2017

"...air putih aja, Mba."

Sembilan tahun yang lalu, gue diajak buka puasa bersama dengan teman-teman kecil yang berbadan besar. Maksud gue mereka teman kecil gue yang sekarang telah bertumbuh besar. Rumah kami berdekatan. Itulah yang membuat pertemanan kami sungguh awet selama delapan tahun lamanya (saat itu).

Kejadian ini berlangsung saat kami baru pertama kali mengenal 'buka puasa bersama di mall'. Gue masih tiga belas tahun, dan anak laki-laki itu dua belas tahun. Teman-teman lain sebaya dengan gue dan anak laki-laki itu.

Kira-kira kami bersepuluh memilih tempat makan di salah satu mall wilayah Jakarta Pusat. Kami sepakat memesan menu nasi goreng dengan varian yang berbeda. Ketika Si Mba Pramusaji menanyakan minuman apa yang kami pesan, beberapa kami mengatakan kompak Es Teh Manis. Sedangkan beberapa lainnya memilih minuman rasa buah. Kecuali satu orang, anak laki-laki itu dengan tegas mengatakan "...air putih aja, Mba."

Saat itu bukan hanya gue yang terkejut dengan pilihannya. Tapi sebagai manusia yang beradab, harus menghormati pilihan orang lain bukan? Meskipun jujur saja, gue menanyakan sesuatu padanya, "Lo nggak milih yang lain aja? Di rumah udah banyak air putih, di sini air putih juga?"

Seorang yang lain pun menimpali, kalau tidak salah ingat si anak laki-laki yang berbadan besar dan berkulit gelap. "Yaelah, kalo ke sini minum air putih mah, air keran di masjid aja nanti lo minum."

Anak laki-laki itupun menjawab, "Nggak papa. Air putih aja."

Sebenarnya, gue rada sangsi pada pilihannya. Karena pada daftar menu, hanya menu makanan saja yang disertai gambar. Sedangkan minuman, hanya disertakan harga. Namun, saat itu tidak ada yang mempersoalkan hal demikian. Dan kau tahu? Harga air putih yang dipilih teman gue berkisar lima ribu rupiah.

Mba Pramusaji pun mengantarkan catatan pesanan kami ke table kitchen. Susana saat itu sungguh ramai, mengingat mall di mana pun dan tempat makan apa pun pasti ramai dikunjungi mereka yang hendak berbuka puasa atau sekadar mengisi perut yang kosong.

Sembari menunggu, kami berbincang, berfoto dan saling lempar ejekan.
Kira-kira tepat beberapa menit sebelum azan maghrib, dua orang pramusaji mengantarkan pesanan kami.

Pertama-tama, mereka mengantarkan sebagian minuman. Hingga sampai pada salah seorang dari pramusaji itu mengatakan, "Air putihnya, Mas." Gue dan yang lain pun menatap anak laki-laki itu menahan tawa.

"Kenapa, Bro?" gue hanya bertanya demikian sembari menahan tawa, meskipun gue tahu jawaban dari pertanyaan itu.

Dia tampak mengernyitkan dahinya seperti baru menyadari sesuatu bahwa ternyata air putih seharga lima ribu rupiah itu bukan lah air putih kemasan botol dengan merk ternama dan bukan juga dengan ukuran besar. Melainkan hanya air putih merek biasa, ukuran 300 ml, dan  memiliki harga lima ribu rupiah belum termasuk pajak.

Jangan bayangkan bagaimana ekspresi kami saat itu, tentu saja sudah tak tahan untuk menertawakannya. Terutama gue yang benar-benar duduk di hadapannya. Ingin sekali saat itu gue menyumpah-serapah. "Udah gue bilang kan pilih minuman lain, lo nggak percaya sih." atau "Mending lo puasa minum aje deh sampe entar di rumah. Baru lo minum air putih yang banyak." Tapi, gue tidak setega itu.

Akhirnya beberapa teman pun dengan seenak hati mengejeknya,

"Jadi gimana air putihnya? Enak?"
"Sok tahu sih lo, udah dibilang pilih yang lain."
"Emang, sok milih-milih sih."
"Yang sabar ye, Bro."

Dan masih banyak lagi ucapan yang dilontarkan teman-teman.
Anak laki-laki itu pun hanya berkata, "Anjir, gue kira harga goceng dapat ukuran besar."


- Z A N-