Minggu, 15 Juli 2018

Tulisan Lain

Tiba-tiba gue teringat dengan naskah gue yang lain; yang belum gue selesaikan hampir setahun terakhir. Terabaikan. Entahlah.

Sejujurnya gue ingin cerita itu selesai di tahun ini. Gue ingin berbangga hati, mendedikasikan cerita tersebut untuk kedua teman baik gue sepanjang kuliah.

Ceritanya kisah nyata, gue berusaha menggunakan sudut pandang orang ketiga, awalnya. Namun, belakangan gue terusik dengan gaya bercerita dengan sudut pandang orang pertama dan tokoh utama laki-laki; seperti beberapa cerita yang sudah gue usaikan.

Ke mana sih arah curhatan ini? Harusnya gue menyelesaikan karya itu di tahun ini.

Tunggu saja.... 
Judulnya LIFE : In Another Breath


Jakarta, 15 Juli 2018

Z A N

Minggu, 01 Juli 2018

Suka Sekolah

Dari kecil emak gue selalu bilang, kalau gue satu-satunya anak beliau dari saudara gue lainnya yang suka banget sekolah.

Main sekolah-sekolahan, rajin banget pas sekolah, semangat banget kalau diajak sekolah.

Ya, sampai sekarang gue menyadari karena sepertinya ucapan emak gue benar adanya. Gue suka sekolah, gue suka ketemu banyak orang, gue suka berbagi pengalaman dengan orang lain. Sayangnya, kesempatan itu gak terbuka besar untuk gue.

Orang-orang melihat gue sebagai orang yang ceria, orang yang semangat, dan berambisi.

Mungkin ada baiknya dari pandangan orang lain. Namun, gak jarang juga ada yang mengingatkan gue agar tidak terlalu ambisi. Gue akan mengingat itu.

Meski sebenarnya, hingga hari ini bisa bersekolah lagi adalah keinginan besar bagi diri gue.

Dan, gue ingat betul bahwa mulai Juli ini hingga tiga tahun ke depan, gue masih memiliki tanggung jawab pada si bungsu.

Jadi, apa cita-cita gue?

Jakarta, 01 Juli 2018

Z A N

Sabtu, 30 Juni 2018

Terlalu Besar

Hal yang sangat dirindukan dari blog adalah "lo bisa menceritakan apa pun dengan gaya apa pun, sekesal dan setulus apa pun, tanpa mengacuhkan jumlah pembaca, like, share, and comment."

Kayak apa yang gue lakukan sekarang.

Setelah melalang buana ke berbagai platform literasi, pada akhirnya blog adalah tempat berbagi yang sangat nyaman.

Hm....

Cita-cita....

16 atau 19 Maret lalu gue melakukan interview kerja di sebuah kantor amil di jakarta (kantor gue sekarang ini). Salah satu pertanyaan yang gak bisa gue lupakan adalah, "apa cita-cita kamu?"

Sampai hari ini, gue masih belum tahu dan belum menemukan jawabannya.

Apa karena cita-cita gue terlalu besar? Atau, cita-cita gue yang terlalu banyak?

Gue lebih memilih jawaban pertama; cita-cita gue terlalu besar. Kenapa? Karena kalau faktanya gue memilih nomor dua, itu berarti gue memilih menjadi orang serakah. Bukan begitu?

Sekarang, kenapa cita-cita itu terlalu besar?

Jawabannya, sampai hari ini hal itu belum tercapai bahkan gue sudah merencanakannya sejak lima atau empat tahun yang lalu.

Gue yakin, kalau kesempatan gue untuk mewujudkan hanya sebesar 47%; yang mana angka tersebut didominasi oleh hasrat gue yang begitu kuat dibanding kesiapan dan keadaan.

Lalu,apa cita-cita gue?
Mungkin gue baru bisa menjawab setelah hal tersebut tercapai.

Jakarta, 30 Juni 2018

ZAN

Rabu, 20 Juni 2018

Tukang Jalan

Pagi, Bloggers!

Ada sedikit cerita, nih dari perjalanan gue bersama teman-teman kemarin.

Kami dari Jakarta berniat menyenangkan hati dengan mengunjungi sebuah tempat wisata di Puncak Bogor. The Ranch Puncak, namanya.

Nah, dari namanya saja kalian tahu pasti kalau tempat ini menjadi salah satu lokasi wisata di Puncak yang mengadopsi sebuah lokasi wisata di Bandung. Namanya pun sama.

Dari rumah, gue dan teman-teman berangkat terpisah; titik temu kami di Stasiun Juanda.

Sekitar pukul 07.40, gue berangkat dari rumah menuju Halte Transjakarta RS Islam. Sementara kedua teman gue menggunakan kendaraan pribadi; motor, ataupun menggunakan ojol.

Setelah berjalan kaki sepuluh sampai limabelas menit, tibalah gue di Halte RS Islam. Dapat gue taksir kalau kedua teman gue pun baru berangkat ketika gue sudah berada di bis.

Limabelas menit kemudian, gue tiba di Stasiun Juanda. Kedua teman gue sudah ada di sana. Setelah menunggu mereka membeli tiket kereta Juanda - Bogor, kami bertiga memasuki peron. Bagaimana gue bisa masuk peron? Tentu karena gue menggunakan kartu ajaib; kartu emoney yang bisa digunakan untuk menggunakan alat transportasi transjakarta, commuter line, ataupun membayar tol.

Pukul 08.30 kereta tujuan Bogor tiba. Hingga pukul 10.00 kami tiba di tujuan.

Istirahat, kami mengisi perut dengan soto mie dan bakso di dekat Stasiun Bogor. Sambil makan, kami ngobrol sama pedagangnya; tanya-tanya akses ke Mega Mendung dengan angkutan umum.

Pukul 10.30 atau 11.00, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot hijau jurusan Sukasari.

Setelah tiba di Sukasari, kami lanjutkan dengan angkot hijau jurusan Cisarua.

Pukul 11.30 kami tiba di lokasi. Mampir ke toko swalayan sebelum masuk untuk membeli air minum; bohong kalau kami gak haus.

Pukul 12.00 kami memasuki The Ranch Puncak. Kalian yang sudah pernah mengunjungi tempat ini di Bandung atau di Puncak pasti tahu apa yang kami dapatkan setelah membayar Rp 20.000 (tiket masuk); kami mendapat voucher yang bisa ditukar dengan susu segar tiga varian rasa. Tentu hanya bisa memilih satu varian.

Di sana ada beberapa spot menarik yang bisa dijadikan latar berswafoto ataupun sekadar memotret sebagai koleksi gambarmu.

Masing-masing memiliki nama unik :
1. Rumah Kakek
2. Nak-Nik Ville
3. Air Terjun (kecil)
4. Jembatan Dongeng
5. Taman Bunga
6. Sahabat Kelinci/Domba
7. Spot Kuda, Panah, dan Delman.

Setelah 40% puas berkeliling dan menikmati hidangan yang disediakan, kami kembali ke Jakarta pukul 16.30 dengan angkutan umum yang sama hingga tiba di rumah.

NB : bagi kalian yang ingin berkunjung ke tempat ini, jangan takut kelaparan ataupun tersasar, karena tempat ini penuh dengan berbagai macam pedagang makanan dan aksesnya mudah. Juga, musolah di tempat ini cukup bersih serta nyaman. Jadi, kalau kamu datang ke tempat ini di waktu yang sedikit lebih sepi, kamu pasti betah berlama-lama di sini.

Jakarta, 20 Juni 2018

Z A N

Selasa, 06 Maret 2018

Hari ke Tahun

Hari itu, aku lupa apa sebabnya hingga aku memutuskan untuk membuat akun blog. Aku hanya ingat bahwa sebelumnya, aku menghabiskan beberapa buku dan sejumlah kertas untuk kutuliskan sejuta isi kepala yang begitu tak masuk akal.

Aku tak suka menulis. Aku tak suka menulis; membuat cerita yang panjang dan diperlukan berbagai usaha memasukkan rasa ke dalamnya. Aku tidak bisa.

Aku lupa puisi pertama yang kubuat saat diberi tugas oleh Ibu Susi-guru bahasa SMP. Namun, aku ingat aku menceritakan halaman sekolah di gedung A dekat Lab Biologi yang seringkali diisukan menjadi salah satu tempat horor di sekolah.

Aku masih ingat seperti apa halaman pemilik pohon jambu itu. Mungkin kini telah berubah karena SMP tempatku belajar baru saja usai direnovasi. SMP Negeri 10 Jakarta. Beruntung aku lolos ujian dan berhasil menjadi siswi di sana.

Kemudian aku ingat puisi kedua yang kubuat di tingkat II. Aku mendapat penilaian buruk dari seorang juara kelas. Aku disangkakan sebagai plagiat. Aku tak menyangkal, karena tidak ada yang perlu disangkal. Tentu itu tidak benar. Aku membuat puisi untuk ibuku. Aku lupa seperti apa, tetapi, aku ingat aku menguraikan 'mata', 'hidung', dan 'lembutnya rasa'. Entahlah....

Sejak hari itu, aku tak bisa menulis. Aku tak bisa membuat naskah drama. Aku tak bisa membuat cerita pendek. Aku bahkan gagal menyelesaikan tugas bahasa di tingkat III dalam membuat cerpen tentang kehamilan remaja di luar nikah. Aku masih ingat kegagalan itu.

Ya, aku tidak bisa menulis.

Tahun 2011 aku memulai kembali. Aku bertemu seorang teman di facebook yang kerap kali menandaiku dalam catatan karyanya. Dia membuat beberapa cerita pendek yang sangat bagus. Aku suka membacanya. Dia menyarankanku untuk melanjutkan tulisan-tulisanku dan melahirkannya.

Mulai hari itu, aku menuangkannya ke dalam buku hingga hari ini aku menggunakan blog untuk menuangkan isi kepala yang tidak seberapa kreatif dan imajinatif.

Aku tersadar kini. Aku bukan tidak bisa menulis, hanya saja aku belum bisa. Juga, aku tidak terlalu percaya pada kemampuanku sebelumnya.

Siang ini aku bersyukur, aku akan melahirkan karya solo pertamaku yang diakui oleh salah satu platform asal korea selatan. Meski begitu, meski ceritaku tidak seberapa, aku berdoa semoga pembaca suka dan merasa senang dengan hiburan yang kusuguhkan melalui cerita yang kurangkai.

Terima kasih Allah yang telah menentukan jalanku, orang tua yang selalu khawatir serta mendukung, saudara/i, teman dan kerabat. Tanpa dukungan kalian, tanpa doa kalian, mungkin saat ini aku masihlah seorang perempuan 23 tahun yang tidak percaya diri.


Sekali lagi,
terima kasih.


Jakarta, Maret 2018.
Salam,



Z A N

Ps.
Percayalah pada kemampuan dirimu, berusaha dan berdoa adalah cara terbaik. Kemudian ikhlas pada segala hasil yang kau dapat dan bersyukurlah. Itu kunci untukmu selalu merasa bahagia.

Selasa, 14 November 2017

Ayah

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat aku meracaumu yang sedang mengerjakan sesuatu. Kau bilang aku sungguh cerewet. Apa pun yang kulihat pasti kutanya padamu. "Ini apa, pak?", "Yang ini apa?", "Apa tuh?", "Yang ini buat apa, Pak?" dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kau pun menjawab segala pertanyaanku dengan sabar.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kita bermain layang-layang bersama. Kau ajarkan aku dan abang menerbangkan layang-layang dengan baik. Kau buatkan layang-layang untuk kami dengan berbagai bentuk yang ada dalam imajinasimu. Cowboy, burung garuda, kupu-kupu, dan masih banyak lagi. Di atas genting canda tawa itu masih terus ada dalam ingatanku.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kau mengajarkanku membaca iqro. Aku mengenal huruf-huruf arab itu hingga aku mampu melantunkannya sampai di usia ini.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kau mengantarku berangkat sekolah. Saat kau mengajakku ke kantormu. Saat kau membantuku membuat tugas sekolah. Saat kau mengajarkan segala macam. Saat kau marah padaku. Saat kau panik atas luka yang ada di kaki kananku (bahkan bekasnya masih ada sampai saat ini).

Ayah...
Apa yang kau pelajari saat muda dulu?
Aku anakmu. Hanya mampu berkata sok kuat pada orang-orang ketika mengingatmu. Namun, siapa yang mengira kalau apa yang kau lakukan sangat banyak melekat dalam pikiranku?

Ayah...
Kau pasti masih ingat masa-masa kau mengajakku bermain burung merpati bersama. Kau melepasnya, sedang aku menunggu di rumah untuk menjemput sang jantan tiba kembali di rumah bersama betina. Kadang ibu juga bermain bersama kita.

Ayah...
Tahukah kau mengapa aku lebih ingin kau yang berdiri di depan sana saat aku menerima penghargaan yang tak seberapa itu?
Aku ingin membanggakan ayahku. Aku ingin mengatakan kepada dunia bahwa aku punya seorang ayah yang hebat. Aku ingin mengatakan, bahwa tak ada laki-laki di dunia ini seperti dirimu.

Ayah...
Bagaimana aku bisa menemukan teman hidup nantinya? Sedang dengan adanya dirimu aku mampu belajar dan menemukan banyak hal baru yang belum didapatkan oleh banyak anak seusiaku.

Ayah...
Tetaplah sehat. Takkan ada habisnya aku membanggakan dirimu. Aku bersyukur pada Allah telah menjadikanku sebagai anakmu. Dan dilahirkan oleh wanita terhebat di dunia ini, Ibu; istrimu.

Allah...
Terima kasih telah mengizinkanku memiliki orang tua yang sangat berharga.


Jakarta, 14 November 2017

Z A N

Kamis, 28 September 2017

Arti Kesempatan

Ada yang bilang keberhasilan seseorang disebabkan karena usaha yang gigih. Perlu teman-teman ketahui bahwa, suatu keberhasilan dapat terjadi apabila seorang tersebut berani mengambil kesempatan yang ada. Bukan hanya menunggu ataupun berusaha dengan gigihnya. Barulah kemudian berusaha dengan gigihnya.

Selain itu, keyakinan hati juga memengaruhi keberanian dalam pengambilan keputusan.

Tipsnya adalah:

Pertama, berani mengambil kesempatan.
Kedua, gigih dalam mengerjakan.
Ketiga, berdoa pada Allah.
Keempat, pertahankan dan tingkatkan yang telah diraih.
Kelima, selalu rendah hati.

Terima kasih, semoga tertjerahkan.
 Salam,


ZAN