Postingan

1-11-21

Hari ini matahari muncul gak malu-malu. Jarum jam dinding pun tepat mengarah 12.30. Dari posisiku duduk yang menghadap jendela, tampak bangunan tingga melukis kaca-kaca di depan sana. Bak melihat lukisan pada umumnya, bangunan kokoh itu begitu merayuku untuk segera pulang ke rumah tepat waktu. Hari ini, sekotak makan siang ada di hadapanku. Nasi putih, ayam dan tempe goreng, serta sambal buatan ibu yang tak kalah pedas dan enak dari warung makan di belakang kantor. Favorit!

Aku menyuap makan siang beberapa kali, kemudian kembali memainkan jari di atas keyboard untuk menulis sesuatu pada dinding blog.

Sebelum berlanjut, perkenalkan ... namaku Zan. Bukan Zain, Zen, apalagi Zayn. Hanya tiga huruf Z-A-N. Itu nama samaranku. Tanpa sengaja tertulis pertama kali di tahun 2012, saat aku masih mengandalkan buku diari untuk berbagi cerita.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Abangku satu, dan adik perempuanku satu. Aku putri pertama yang dimiliki Bapak dan Ibu. Kata orang, aku sangat disayang…

Ujung Genteng - Part 1

Assalamu'alaikum,
Selamat pagi!

Kali ini saya akan membagikan perjalanan saya selama mengunjungi Pantai Cipanarikan, Ujung Genteng.

Perjalanan kali ini saya rasa termasuk perjalanan jauh pertama seorang diri dan paling ngerepotin banyak orang. Kenapa?

Pertama, dari Jakarta kebetulan saya ditugaskan mengunjungi salah satu asrama mahasiswa bimbingan kantor. Lokasinya ada di Dramaga, Bogor. Saya beserta rekan kerja memonitoring kegiatan mahasiswa binaan kami di sana. Pembinaan dilakukan oleh rekan saya sekitar pukul 15.00 hingga 22.00, saya hanya mendampingi. Nah, saat itu saya memutuskan untuk numpang tidur di sana. Sementara rekan kerja saya kembali ke rumah diantar oleh supir kantor.

Kedua, paginya saya di antar sampai persimpangan IPB oleh ketua asrama. Dia baik banget asli, bahkan dia rela antar saya jam 6 pagi sementara dia belum mandi. Huhu, parah sih ya saya ini....

Dari persimpangan IPB saya memesan ojol sampai Stasiun Paledang. Tiba di stasiun pukul 06.30. Karena belum sar…

Mengunjungi Si Karang yang Numpang

Pagi, Bloggers!
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1440 H, semoga Allah selalu memberkahi usia kita.

Hari ini gue akan berbagi sesuatu pada kalian. Apa itu?

Sesuai dengan yang gue janjikan kemarin, gue akan berbagi pengalaman saat mendatangi Gunung Karang Numpang. Gunung Karang Numpang merupakan gunung kecil yang berdiri kokoh di Sukabumi, Jawa Barat.

Berdasarkan kesaksian seorang pedagang di wilayah GKN, sejarah nama Karang Numpang berasal dari sebuah batu karang yang telah dibawa turun ke desa, tetapi esok harinya batu tersebut telah merekat pada batu karang lain di puncak gunung. (lho, kok bisa? batunya dibawa naik lagi? eh, gimana sih? batunya pindah sendiri?)😓

Wujud dan posisi batu karang tersebut pun unik, di esoknya itu sudah seperti sebuah benda yang menepi di meja dan sebagian sisinya tak beralas. Kalau kamu sentuh sedikit, benda itu akan jatuh. Namun, beda halnya dengan Karang Numpang.

Nah, untuk tahu sejarah lengkapnya kalian bisa browsing atau langsung terjun ke lokasi untuk me…

Tulisan Lain

Tiba-tiba gue teringat dengan naskah gue yang lain; yang belum gue selesaikan hampir setahun terakhir. Terabaikan. Entahlah.

Sejujurnya gue ingin cerita itu selesai di tahun ini. Gue ingin berbangga hati, mendedikasikan cerita tersebut untuk kedua teman baik gue sepanjang kuliah.
Ceritanya kisah nyata, gue berusaha menggunakan sudut pandang orang ketiga, awalnya. Namun, belakangan gue terusik dengan gaya bercerita dengan sudut pandang orang pertama dan tokoh utama laki-laki; seperti beberapa cerita yang sudah gue usaikan.
Ke mana sih arah curhatan ini? Harusnya gue menyelesaikan karya itu di tahun ini.
Tunggu saja....  Judulnya LIFE : In Another Breath

Jakarta, 15 Juli 2018
Z A N

Suka Sekolah

Dari kecil emak gue selalu bilang, kalau gue satu-satunya anak beliau dari saudara gue lainnya yang suka banget sekolah.

Main sekolah-sekolahan, rajin banget pas sekolah, semangat banget kalau diajak sekolah.

Ya, sampai sekarang gue menyadari karena sepertinya ucapan emak gue benar adanya. Gue suka sekolah, gue suka ketemu banyak orang, gue suka berbagi pengalaman dengan orang lain. Sayangnya, kesempatan itu gak terbuka besar untuk gue.

Orang-orang melihat gue sebagai orang yang ceria, orang yang semangat, dan berambisi.

Mungkin ada baiknya dari pandangan orang lain. Namun, gak jarang juga ada yang mengingatkan gue agar tidak terlalu ambisi. Gue akan mengingat itu.

Meski sebenarnya, hingga hari ini bisa bersekolah lagi adalah keinginan besar bagi diri gue.

Dan, gue ingat betul bahwa mulai Juli ini hingga tiga tahun ke depan, gue masih memiliki tanggung jawab pada si bungsu.

Jadi, apa cita-cita gue?

Jakarta, 01 Juli 2018

Z A N

Terlalu Besar

Hal yang sangat dirindukan dari blog adalah "lo bisa menceritakan apa pun dengan gaya apa pun, sekesal dan setulus apa pun, tanpa mengacuhkan jumlah pembaca, like, share, and comment."

Kayak apa yang gue lakukan sekarang.

Setelah melalang buana ke berbagai platform literasi, pada akhirnya blog adalah tempat berbagi yang sangat nyaman.

Hm....

Cita-cita....

16 atau 19 Maret lalu gue melakukan interview kerja di sebuah kantor amil di jakarta (kantor gue sekarang ini). Salah satu pertanyaan yang gak bisa gue lupakan adalah, "apa cita-cita kamu?"

Sampai hari ini, gue masih belum tahu dan belum menemukan jawabannya.

Apa karena cita-cita gue terlalu besar? Atau, cita-cita gue yang terlalu banyak?

Gue lebih memilih jawaban pertama; cita-cita gue terlalu besar. Kenapa? Karena kalau faktanya gue memilih nomor dua, itu berarti gue memilih menjadi orang serakah. Bukan begitu?

Sekarang, kenapa cita-cita itu terlalu besar?

Jawabannya, sampai hari ini hal itu belum tercapai bahk…

Tukang Jalan

Pagi, Bloggers!

Ada sedikit cerita, nih dari perjalanan gue bersama teman-teman kemarin.

Kami dari Jakarta berniat menyenangkan hati dengan mengunjungi sebuah tempat wisata di Puncak Bogor. The Ranch Puncak, namanya.

Nah, dari namanya saja kalian tahu pasti kalau tempat ini menjadi salah satu lokasi wisata di Puncak yang mengadopsi sebuah lokasi wisata di Bandung. Namanya pun sama.

Dari rumah, gue dan teman-teman berangkat terpisah; titik temu kami di Stasiun Juanda.

Sekitar pukul 07.40, gue berangkat dari rumah menuju Halte Transjakarta RS Islam. Sementara kedua teman gue menggunakan kendaraan pribadi; motor, ataupun menggunakan ojol.

Setelah berjalan kaki sepuluh sampai limabelas menit, tibalah gue di Halte RS Islam. Dapat gue taksir kalau kedua teman gue pun baru berangkat ketika gue sudah berada di bis.

Limabelas menit kemudian, gue tiba di Stasiun Juanda. Kedua teman gue sudah ada di sana. Setelah menunggu mereka membeli tiket kereta Juanda - Bogor, kami bertiga memasuki peron. …