Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Andaikan Waktu adalah Cinta

Oleh: Zulfha A. Nurlia Siang itu, cuaca sangatlah mendung. Jika dihitung detik, mungkin beberapa detik lagi hujan akan turun. Gerbang sekolah sudah dibuka, menandakan bahwa jam pulang sekolah telah tiba. Rena dan Mawar adalah siswi kelas 1 di salah satu SMA Negeri di Bandung, siang ini mereka berniat untuk menyelesaikan tugas Pak Mahmud di rumah Rena. Setelah satu langkah melewati gerbang, Gilang memanggil Mawar dan menghampirinya. Gilang meminta kepada Mawar untuk membantunya menyelesaikan tugas matematika, namun Mawar tak langsung menyetujuinya, ia mengatakan pada Gilang bahwa ia akan memberi kabar pada Gilang jika ia berminat untuk membantunya. “Kasian sih, tapi Gilang bandel banget, dia juga sering banget mengejek lu Ma. Terus gimana? Lu terima permintaan dia?” (Tanya Rena dengan penuh rasa penasaran) “Belum tau Ren, siang ini kan kita juga mau selesaikan tugas Pak Mahmud, ya kalau sempet aja deh nanti gue kabarin ke Gilang” (Jawab Mawar pasrah) “Kayanya Gilang a

Rayuan Senja

aku tak menyadari, sepertinya langit pun tak menyadari, kafilah-kafilah angin tak menghampiri, mereka tak lagi menyapa hatiku sedang tak baik, penghujung hari tak melukiskan ceria, tawa anak-anak hanya melintas sejenak, mataku terpana hanya perhatikan mereka senja sore menyapaku, melukiskan langit dengan secercah cahanya, terpanalah aku hingga diam terpaku, senyum tipis di wajahku berusaha ada senja sore menari di langit, menyatukan awan dan angin, membawa jingga di birunya langit, berbisik di telingaku kafilah-kafilah angin aku terhempas oleh rasa, cinta yang dulu tak lagi ada, harapan yang kuperjuangankan tak lagi kukejar, impian lalu, sengaja kubuat hambar masa lalu t'lah pergi, aku sungguh menyukainya, dalam hati sudah tak ada dengki, kini hanya ada ceita yang ceria manusia baru belum kuharapkan hadir, walau aku tetap menunggu, senja sore tahu rasaku, dia merayu lagi -ZAN-

Wanita Tua

Di ujung jalan Ibu Kota Ia berdiri di bawah lampu lalu lintas Ia tegap menahan beban yang dibawa Kadang ia berlari menjajakan barang yang dibawanya Sejak pagi ia bergegas menantang jalan Ibu Kota Tak pantang dengan panas sinar matahari Tak khawatir akan turunnya hujan deras Ia tetap tegak bekerja demi hidupnya Di tengah kemacetan, bersama jutaan kendaraan Ia lakukan tanpa lelah dan mengeluh Dengan sabar ia jalankan Demi sesuap nasi untuk anak di gendongnya Ingin aku membantu dan menyenangkan wanita itu Tapi apa daya, aku tak mungkin meninggalkan kewajibanku Dimanakah anak-anak wanita itu? Apakah hanya anak yang dibawa—satu-satunya anak yang ia punya? Di ujung jalan Ibu Kota Kadang ia berjalan, kadang ia berlari Kadang ia menangis, kadang ia tersenyum Wanita tua, meski terlihat lusuh kau sangat bersemangat -ZAN-

Memandang Dimensi

Aku tak mengerti, mengapa aku jatuh cinta dengan langit jingga? Memandang Kota yang terhias dengan kerlip ratusan lampu kendaraan di tengah kemacetan Semua terasa, seperti aku menyatu dengan suasana ini Semua terasa, seakan aku begitu menikmati Kumandang adzan maghrib yang terdengar di telinga, membuat suasana semakin sendu Angin yang berhembus, seolah dapat memadamkan panas dalam jiwaku Berat langkah ini tak berarti jika mata sudah memandang langit jingga Hati ini ingin sekali berbicara bahwa, aku sangat ingin menikmati lebih lama lagi Aku memilih duduk di sudut bus kota ini Di balik jendela, aku memandang supir bus kota lain menyeka keringat yang jatuh dari dahinya Di balik jendela, aku merasakan pahitnya asap kendaraan Di balik jendela pula aku merasa, seakan hidup ini memang tak akan lama Wahai Tuhanku Kemanakah aku akan menemukan bentangan lahan hijau? Meskiku jatuh cinta dengan suasana ini, perasaanku tetap sementara Aku mengumbar pada manusia tentang perasaan

Manusia di bawah Lampu Kota

Diantara gelap malam Tanpa  suara, tanpa sinar bulan dan bintang Dengan langit pekat malam Ia berdiri di bawah Sebuah Lampu Kota Sendiri Tak tahu ingin apa Tak tahu harus apa Ia hanya terdiam, berdiri sendiri Entah apa yang ditunggu Entah apa yang diharapkan terjadi Ia tetap berdiri sendiri Tanpa benda lain yang dibawa Menunggu? Tidak! Merenung? Tidak juga! Mengharap? Entah apa yang diharapkan, semua hanyalah gelap Pandangan matanya hanya menatap ke satu arah Tidak kedepan, tidak kesamping, tidak juga ke atas Ia hanya menunduk Memandang apa yang ia pijak Ia berdiri di bawah s ebuah Lampu Kota Memandang bayangan hitam dirinya Hanya bayangan itu yang menemaninya Bayangan yang rela di samarkan oleh gelapnya malam Ia berdiri di bawah s ebuah Lampu Kota Tanpa kata yang ia ucapkan, tanpa suara yang menemaninya Hanya b