Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Andaikan Waktu adalah Cinta

Oleh: Zulfha A. Nurlia


Rayuan Senja

aku tak menyadari,
sepertinya langit pun tak menyadari,
kafilah-kafilah angin tak menghampiri,
mereka tak lagi menyapa

hatiku sedang tak baik,
penghujung hari tak melukiskan ceria,
tawa anak-anak hanya melintas sejenak,
mataku terpana hanya perhatikan mereka

senja sore menyapaku,
melukiskan langit dengan secercah cahanya,
terpanalah aku hingga diam terpaku,
senyum tipis di wajahku berusaha ada

senja sore menari di langit,
menyatukan awan dan angin,
membawa jingga di birunya langit,
berbisik di telingaku kafilah-kafilah angin

aku terhempas oleh rasa,
cinta yang dulu tak lagi ada,
harapan yang kuperjuangankan tak lagi kukejar,
impian lalu, sengaja kubuat hambar

masa lalu t'lah pergi,
aku sungguh menyukainya,
dalam hati sudah tak ada dengki,
kini hanya ada ceita yang ceria

manusia baru belum kuharapkan hadir,
walau aku tetap menunggu,
senja sore tahu rasaku,
dia merayu lagi


-ZAN-

Wanita Tua

Memandang Dimensi

Aku tak mengerti, mengapa aku jatuh cinta dengan langit jingga?
Memandang Kota yang terhias dengan kerlip ratusan lampu kendaraan di tengah kemacetan
Semua terasa, seperti aku menyatu dengan suasana ini
Semua terasa, seakan aku begitu menikmati

Kumandang adzan maghrib yang terdengar di telinga, membuat suasana semakin sendu
Angin yang berhembus, seolah dapat memadamkan panas dalam jiwaku
Berat langkah ini tak berarti jika mata sudah memandang langit jingga
Hati ini ingin sekali berbicara bahwa, aku sangat ingin menikmati lebih lama lagi

Aku memilih duduk di sudut bus kota ini
Di balik jendela, aku memandang supir bus kota lain menyeka keringat yang jatuh dari dahinya
Di balik jendela, aku merasakan pahitnya asap kendaraan
Di balik jendela pula aku merasa, seakan hidup ini memang tak akan lama

Wahai Tuhanku
Kemanakah aku akan menemukan bentangan lahan hijau?
Meskiku jatuh cinta dengan suasana ini, perasaanku tetap sementara
Aku mengumbar pada manusia tentang perasaanku, walau sesungguhnya aku lelah d…

Manusia di bawah Lampu Kota

Diantara gelap malam
Tanpa  suara, tanpa sinar bulan dan bintang
Dengan langit pekat malam
Ia berdiri di bawah Sebuah Lampu Kota


Sendiri
Tak tahu ingin apa
Tak tahu harus apa
Ia hanya terdiam, berdiri sendiri


Entah apa yang ditunggu
Entah apa yang diharapkan terjadi
Ia tetap berdiri sendiri
Tanpa benda lain yang dibawa


Menunggu?
Tidak!
Merenung?
Tidak juga!
Mengharap?
Entah apa yang diharapkan, semua hanyalah gelap


Pandangan matanya hanya menatap ke satu arah
Tidak kedepan, tidak kesamping, tidak juga ke atas
Ia hanya menunduk
Memandang apa yang ia pijak