Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2015

Memandang Dimensi

Aku tak mengerti, mengapa aku jatuh cinta dengan langit jingga? Memandang Kota yang terhias dengan kerlip ratusan lampu kendaraan di tengah kemacetan Semua terasa, seperti aku menyatu dengan suasana ini Semua terasa, seakan aku begitu menikmati Kumandang adzan maghrib yang terdengar di telinga, membuat suasana semakin sendu Angin yang berhembus, seolah dapat memadamkan panas dalam jiwaku Berat langkah ini tak berarti jika mata sudah memandang langit jingga Hati ini ingin sekali berbicara bahwa, aku sangat ingin menikmati lebih lama lagi Aku memilih duduk di sudut bus kota ini Di balik jendela, aku memandang supir bus kota lain menyeka keringat yang jatuh dari dahinya Di balik jendela, aku merasakan pahitnya asap kendaraan Di balik jendela pula aku merasa, seakan hidup ini memang tak akan lama Wahai Tuhanku Kemanakah aku akan menemukan bentangan lahan hijau? Meskiku jatuh cinta dengan suasana ini, perasaanku tetap sementara Aku mengumbar pada manusia tentang perasaan

Manusia di bawah Lampu Kota

Diantara gelap malam Tanpa  suara, tanpa sinar bulan dan bintang Dengan langit pekat malam Ia berdiri di bawah Sebuah Lampu Kota Sendiri Tak tahu ingin apa Tak tahu harus apa Ia hanya terdiam, berdiri sendiri Entah apa yang ditunggu Entah apa yang diharapkan terjadi Ia tetap berdiri sendiri Tanpa benda lain yang dibawa Menunggu? Tidak! Merenung? Tidak juga! Mengharap? Entah apa yang diharapkan, semua hanyalah gelap Pandangan matanya hanya menatap ke satu arah Tidak kedepan, tidak kesamping, tidak juga ke atas Ia hanya menunduk Memandang apa yang ia pijak Ia berdiri di bawah s ebuah Lampu Kota Memandang bayangan hitam dirinya Hanya bayangan itu yang menemaninya Bayangan yang rela di samarkan oleh gelapnya malam Ia berdiri di bawah s ebuah Lampu Kota Tanpa kata yang ia ucapkan, tanpa suara yang menemaninya Hanya b