Jumat, 15 Mei 2015

Memandang Dimensi

Aku tak mengerti, mengapa aku jatuh cinta dengan langit jingga?
Memandang Kota yang terhias dengan kerlip ratusan lampu kendaraan di tengah kemacetan
Semua terasa, seperti aku menyatu dengan suasana ini
Semua terasa, seakan aku begitu menikmati

Kumandang adzan maghrib yang terdengar di telinga, membuat suasana semakin sendu
Angin yang berhembus, seolah dapat memadamkan panas dalam jiwaku
Berat langkah ini tak berarti jika mata sudah memandang langit jingga
Hati ini ingin sekali berbicara bahwa, aku sangat ingin menikmati lebih lama lagi

Aku memilih duduk di sudut bus kota ini
Di balik jendela, aku memandang supir bus kota lain menyeka keringat yang jatuh dari dahinya
Di balik jendela, aku merasakan pahitnya asap kendaraan
Di balik jendela pula aku merasa, seakan hidup ini memang tak akan lama

Wahai Tuhanku
Kemanakah aku akan menemukan bentangan lahan hijau?
Meskiku jatuh cinta dengan suasana ini, perasaanku tetap sementara
Aku mengumbar pada manusia tentang perasaanku, walau sesungguhnya aku lelah dan tak bahagia

Wahai Tuhanku
Sampai kapan bumiMu akan seperti ini?
Sampai kapan aku bisa menikmati bentangan aspal yang tertata sekian kilometer?
Sampai kapan aku merasakan sesak pahit udara ini?

Wahai Tuhanku
Adakah sesungguhnya cinta dalam hatiku?


-ZAN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar