Senin, 02 November 2015

Andaikan Waktu adalah Cinta

Oleh: Zulfha A. Nurlia



Siang itu, cuaca sangatlah mendung. Jika dihitung detik, mungkin beberapa detik lagi hujan akan turun. Gerbang sekolah sudah dibuka, menandakan bahwa jam pulang sekolah telah tiba. Rena dan Mawar adalah siswi kelas 1 di salah satu SMA Negeri di Bandung, siang ini mereka berniat untuk menyelesaikan tugas Pak Mahmud di rumah Rena. Setelah satu langkah melewati gerbang, Gilang memanggil Mawar dan menghampirinya. Gilang meminta kepada Mawar untuk membantunya menyelesaikan tugas matematika, namun Mawar tak langsung menyetujuinya, ia mengatakan pada Gilang bahwa ia akan memberi kabar pada Gilang jika ia berminat untuk membantunya.

“Kasian sih, tapi Gilang bandel banget, dia juga sering banget mengejek lu Ma. Terus gimana? Lu terima permintaan dia?” (Tanya Rena dengan penuh rasa penasaran)
“Belum tau Ren, siang ini kan kita juga mau selesaikan tugas Pak Mahmud, ya kalau sempet aja deh nanti gue kabarin ke Gilang” (Jawab Mawar pasrah)
“Kayanya Gilang ada apa-apa nih sama lu” (Ejek Rena dengan bangga)
“Ngaco lu, udah ayo balik” (Jawab Mawar sambil menarik tangan Rena)



Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Rena, setibanya mereka langsung memasuki kamar Rena. Waktu menunjukan jam 4 sore, tugas sekolah telah mereka selesaikan dalam waktu dua jam. Mawar dengan hobinya membaca buku, ia bersandar di atas tempat tidur Rena dan membaca novel karya Rena yang tak pernah ia terbitkan. Karena seriusnya Mawar membaca, ia tak menyadari bahwa Rena sedang menulis sebuah cerita. Namun tiba-tiba, Rena tersentak. Ia terhenti dari kata-kata cerita yang ia tuliskan. Ia teringat kembali bayang masa lalu yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Melihat itu, Mawar mendekati Rena, tanpa bertanya apapun, Mawar langsung membaca tulisan Rena. Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk. Tak biasanya, sejak dulu tak ada yang mau mengetuk pintu kamar Rena ketika Rena sedang mengerjakan tugas sekolah bersama temannya. Namun kali ini, membuat Mawar bingung. Tapi tidak dengan Rena. Dia kembali” (Ucapnya dengan lirih)

Mendengar itu, Mawar tetap membaca tulisan yang baru saja Rena tulis tadi. Ia mencoba memahami cerita itu dan menganalisa hal yang membuat Rena tersentak.

“………di bawah matahari sore, dia yang memakai seragam putih abu-abu menawarkan tumpangan pada liliput di atas sepedanya ketika sepulang sekolah, tapi saat itu liliput menolak karena sedang bersama teman-temannya". Begitulah kalimat terakhir yang Rena tuliskan kemudian ia tersentak.
“Mba Rena, ada tamu untuk Mba Rena, sepertinya itu Mas Arsya teman kecil Mba Rena” (panggil Mba Uma sambil mengetuk pintu kamar Rena)
“Iya Mba, sebentar lagi aku temui dia” (Jawab Rena singkat)


Mendengar itu Rena duduk kembali dengan wajah lesu, tergulai lemas ia katakana pada Mawar bahwa ia belum ingin bertemu dengan Arsya. Mawar paham dengan ucapan Rena, Mawar tahu apa yang terjadi di antara mereka, namun Mawar mencoba membuat Rena percaya diri. Akhirnya Rena menemui Arsya.

“Rena, apa kabar? Sudah 6 tahun kita nggak bertemu” (Tanya Arsya sambil mengulurkan tangan)
“Aku baik, silahkan duduk” (Jawab Rena tanpa basa basi dan tanpa menyambut uluran tangan Arsya)


Arsya memang tak mengerti apa yang sedang terjadi antara dirinya dengan Rena, tapi Rena tahu bahwa selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan. Mawar. Untuk Mawarlah cinta Arsya selama ini, meski Mawar tak pernah menyadari itu. Rena berusaha bersikap seperti apa yang ia mau. Bicara seperlunya, tertawa sedikit pada hal lucu bahkan tak sekalipun Rena menatap wajah Arsya selama pembicaraan. Hingga akhirnya Arsya pamit untuk kembali kerumahnya.

Kini Arsya akan tinggal di Bandung setelah 6 tahun ia tinggal di Yogyakarta. Mawar tak menanyakan apa yang terjadi dan Rena tak menceritakan apa yang terjadi. Ia justru mengingatkan Mawar, bahwa Mawar memiliki janji dengan Gilang, akhinya Mawarpun kembali kerumahnya.

Akhirnya Rena seorang diri di kamar, ia memutar kejadian yang baru saja terjadi. Ia berusaha membuat hatinya sadar, hingga ia menemukan jawaban bahwa ia sedang jatuh cinta. Hujan lebat turun membasahi bumi, Rena menatap ke arah jendela, kendaraan hampir tak ada yang berlalu lalang. Ia menutup cerita yang tadi dia tulis, ia membaca cerita yang telah ditulis sebelumnya. Tergeletak di atas kasur, sepertinya Mawar sedang membaca buku ini. “Jika Ranting itu Kamu” begitulah judul salah satu cerpen karyanya beberapa hari yang lalu.

Rena masih belum menyadari perubahan selama 6 tahun ini. Ia tak bisa mengenali seperti apa cinta yang benar-benar tumbuh di hatinya. Pertemuannya dengan Bagas  membuat dirinya terlena. Bagas adalah siswa pesaing dalam perlombaan matematika antar sekolah beberapa waktu lalu yang ia temui. Belum pernah Rena kalah dalam perlombaan matematika, tapi kali ini kemenangan itu dipatahkan oleh Bagas. Anehnya, Rena yang emosional dan arogan berubah menjadi putri yang lemah lembut saat tahu dirinya dikalahkan oleh Bagas. Ingatannya tentang Bagas kembali datang setelah membaca cerpen tersebut. Ia berusaha mengingat kejadian lucu yang ia ceritakan di dalam cerpen itu. Pertemuan keduanya dengan Bagas, hingga mereka harus beradu debat karena Bagas kalah dari Rena di pertandingan catur.

Hujanpun reda, adzan maghrib berkumandang, rupanya Rena tertidur hingga maghrib. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya, Rena memeriksa hp yang sedari tadi berdering. Rupanya Mawar berusaha menghubunginya, namun Rena tak menjawabnya dan justru menon-aktifkan hpnya. Hingga esok hari, Mawar menegur Rena di Sekolah. Rena menjelaskan semua yang terjadi semalam, namun Mawar justru membalas dengan kabar buruk. Mawar mendengar kabar bahwa Bagas tidak akan menemui Rena lagi di pertandingan berikutnya, Bagas baru saja dikabarkan meninggal dunia karena Gagal Ginjal yang di deritanya dua tahun belakangan ini. Rena tak tahu ingin melakukan apa, ia hanya terdiam, merenungkan nasibnya yang baru saja bangkit untuk kembali merasakan cinta. Ia baru saja sadar bahwa ia jatuh cinta kepada Bagas meski tak ada satu peristiwa bahagia yang menyelimuti pertemuan mereka. Sedangkan Arsya, yang berusia lebih dewasa 4 tahun darinya telah menitipkan pesan kepada Mawar untuk disampaikan kepada Rena bahwa ia akan melanjutkan pendidikannya di Makassar, tanah kelahirannya dan kemungkinan niatnya untuk menetap di Bandung, ia gagalkan. Benar-benar kesedihan yang mendalam hari itu untuk Rena, ia harus merasakan pahitnya cinta untuk kedua kalinya. Mawar hanya bisa berusaha menghibur Rena semampunya.

Malam yang sunyi ini, dengan bulan yang tak bersinar cerah, bintang yang hampir tak terlihat satupun, Rena membaca kembali surat yang diberikan Arsya untuknya. Di dalam surat itu, Arsya meninggalkan nomor hp agar Rena bisa menghubunginya. Rena berusaha menghubungi Arsya untuk meminta Arsya agar mengungkapkan perasaannya kepada Mawar sebelum terlambat. Setelahnya, ia menuliskan sebuah puisi berjudul sama dengan cerpen yang dibuatnya beberapa hari yang lalu



Jika memang ranting itu bukanlah kamu

Biarlah buah ini tetap diriku

Meski kamu runtuh

Aku akan tetap utuh.. bersamamu…..



Mungkin aku terlalu naïf pada waktu

Maafkan aku…

Malu-malu kucoba jujur padamu

Aku cinta padamu



Jangan katakan ini terlambat bagiku

Karena aku tak bisa menebak waktu

Mengertilah diriku…

Jujur ini adanya untukmu…



Mungkin kita sudah tak sama

Tapi aku tetaplah aku

Canda dan tawa yang ada

Kuhantarkan hanya untukmu, dalam do’aku



Begitulah puisi yang ia tuliskan untuk Bagas.





5 tahun kemudian…



Senja sore menertawakan Rena, ia terpilih lagi menjadi Ketua BEM Fakultas Sastra Indonesia di Kampusnya. Teman-teman memintanya untuk bersabar karena ini adalah periode ketiga yang harus ia jalani. Ada yang unik dengan suasana sore itu, Rena terpaksa harus ditertawakan juga dengan teman-temannya karena tersandung ketika berjalan menuju podium untuk memberikan sambutannya. Benar-benar hari yang menyebalkan. Meski kesal, Rena tetap menebarkan semangat dan senyumnya. Mawar ada bersamanya, persahabatan yang mereka bangun sejak sekolah dasar tak bisa memisahkan mereka hingga bangku perkuliahan.


Mawar tersenyum melihat Rena. Dengan rasa percaya diri, ia menyampaikan sambutan dan visi misinya. Sekilas, Mawar teringat tentang hubungan Rena dengan Arsya dan Bagas. Mawar tahu bahwa Arsya mencintai dirinya ketika Arsya mengungkapkan isi hatinya pada Mawar 5 tahun yang lalu. Tapi Mawar membiarkannya begitu saja. Mawar berniat untuk menyatukan Rena dengan Arsya, ia merancang berbagai rencana untuk mempertemukan Rena dengan Arsya kembali. Namun semua rencana Mawar gagal di hari itu.

            Malam telah tiba. Pelantikan Senat Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa telah usai. Sudah 5 tahun Rena selalu mengurung diri di kamar setiap malam hari. Ia tak lagi menuliskan cerpen ataupun sekedar puisi. Tapi malam itu, semua keadaan berbeda. Rena mengajak Mawar untuk bertemu dengannya di Kafe Pelangi Jingga dekat SMA-nya dulu. Di sana, Rena mengatakan bahwa dia sedang jatuh cinta.

             Awalnya Rena tak pernah tahu bahwa ia sedang jatuh cinta. Sikapnya yang terus mencoba melawan keinginan hatinya untuk merasakan cinta, justru membuatnya selalu bersikap tak seperti biasanya. Mawar sering kali mengatakan padanya bahwa Rena menyukai Arviansyah (Arvi), tapi Rena selalu mengelaknya. Rena selalu terbayang masa lalunya yang kurang beruntung hingga ia tak berani untuk jujur pada dirinya sendiri. Di sisi lain, Rena memiliki alasan lain. Agama Rena dan Arvi memanglah sama, iman mereka tak jadi masalah. Namun prinsip ilmu agama yang mereka terapkan sangatlah berbeda. Rena sering terbayang, apakah cinta itu akan ada di antara mereka? bahkan di saat jarak Rena dan Arvi begitu dekat, tapi Rena selalu berusaha menghindari Arvi. Semua terjadi begitu saja sesuai keinginan hati Rena, dan malam ini Rena pasrah. Ia mengaku pada Mawar bahwa ia menyukai Arvi, meski kebimbangan selalu muncul karena Arvi belum memberikan kepastian padanya.

“Jadi sekarang, hatimu itu sudah pasti?” (Tanya Mawar)
“Belum tahu Ma, masih mendung. Nggak tahu akan ada pelangi setelah hujan atau hujan tanpa pelangi” (Jawab Rena penuh bimbang)
“Kalau prinsip agama itu bahaya loh Ren, kamu harus benar-benar yakin” (Mawar berusaha mengingatkan Rena)
“Karena itu, sampai saat ini aku masih menunggu. Aku juga masih menutupi ini darinya. Aku berjanji pada diriku bahwa nggak akan ada tulisan yang kubuat tentang dirinya. Hingga semua itu jelas, baru aku akan memulai kembali. Mengembalikan diriku sebenarnya” (Jawab Rena sambil memutar-mutar sedotan di dalam gelas minumnya)



Mawar paham, semua ini memang tak mudah bagi Rena. Mawar berusaha untuk menghiburnya dan membantu membuatnya tersenyum kembali malam ini. Mawar menuju panggung Kafe, ia mengambil gitar yang tersedia di sana dan berusaha memainkan lagu yang ia ciptakan sendiri. Lagu ini, untuk sahabatku.. Rena….



Seperti malam, kau selalu bersamanya

Seperti siang, kau selalu ceria

Bagai bulan, tapi juga matahari

Wajahmu selalu berseri-seri



Kupu-kupu akan mengelilingimu

Harum cintamu akan sampai padanya

Biarkan apa adanya dirimu

Kelak ia akan mengetahuinya



Oooh.. jika memang untukmu

Matahari takkan diam terpaku

Jika memang untukmu

Bulan akan selalu di situ

Bersamamu…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar