Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Belahan Bumi Lain

bulan sabit telah pergi
dari musimnya...
kata orang, bulan purnama sedang hangat,
menjadi pembicaraan

ada yang berjumpa
ada yang merindu
ada pula yang saling mengasihi
tapi aku, hanya mampu duduk
menyaksikan segala
lantunan indah pesan-pesanmu

dari kejauhan, seseorang berjalan mendekat
begitu dekat...
Ayahku, rupanya
ia bilang, pelangi hanya ada saat tidak dibutuhkan
biarkan..

ya, biarlah...
Tuhan tahu segala
aku tak bisa cerita
pada bulan purnama,
pada dirimu yang kini tak nampak di langit senja

kemarin...
ku dengar kau pergi
untuk kebahagiaan abadi
tanpa pamit,
aku hanya merenung,
berpikir sempit,
mengandai kau mungkin hanya sedang merasa sakit

esok hari, seorang gadis mungil menghampiri
mengubah renunganku
haruskah aku melupakan?

lalu kupu-kupu datang,
menitipkan pesan pada kembang sepatu
rintik hujan membasahi, kemudian pergi
dan pelangi datang kembali

aku tak pernah lupa,
pada secercah cahaya di langit senja

-ZAN-

Apa Aku Bertopeng?

dan Aku masih berdiri, di sini
Kau lihat?
Aku masih kuat
Hati ini cukup tegar menepis badai

Bukan aku ingin menunjukan
Hanya saja..
Aku ingin kamu memahami
Lebih dari sekedar mengerti
Aku sesederhana kamu
dan Kamu  tidak sesederhana itu

Apa Aku bertopeng?
Atau Aku yang tak tahu rasa malu?
Atau mungkin..
Kamu yang membiarkan Aku,
Memberi kesempatan padaku
Untuk lebih menyederhanakan Aku

Belum cukupkah aku sederhana bagimu di Dunia ini?
Belum cukupkah aku menyederhanakan keadaan ini?
Belum cukupkah aku terbelenggu dengan kesederhanaan?

Kesederhanaan yang kamu harapkan,
Itu bukan Aku.

-ZAN-

Setapak Cintaku

Aku diusik oleh malam yang kelabu
Kamar ini gelap
Sengaja tak kunyalakan sedikitpun cahaya
Biarkan saja bulan yang bersinar
Sejuk...
Aku diam
Aku sendiri
Aku menikmati

Aku duduk menghitung beberapa hari
Dengan jari jemari yang sudah siap dilingkari
Dengan telapak tangan yang sudah siap dilengkapi
Melihat angka pada kalender itu
Sudah ditandai dengan warna merah
Ada janji
Ada yang harus dipertanyakan

Cuitan burung gereja menemani
Hinggap di loteng kamar
Aku berlari kecil menghampiri
Memandangnya dari balkon kamar
Ia pergi...
Burung merpati menghampiri
Membawa sebuah surat
Diikatkan pada kaki kiri
Kubuka ikatannya
Lalu kubaca

Dia membatalkan janji
Kecewa aku!
Marah aku!
Tapi tak bisa kuteriak
Dia pergi...
Sudah pergi dan tak ada lagi
Bukan bersama yang lain
Bukan untuk Kota lain
Bukan untuk Negara lain
Tapi untuk Tuhan semesta ini

Aku kehilangan cintaku
Dibawa pergi olehnya
Aku terkulai lemas
Tidak tersedu-sedu
Aku ikhlas

Ia pergi membawa cintaku
Cinta yang belum kusampaikan
Cinta sed…

Berkabar Sebuah Surat

Koran pagi ini membawa berita
Sama seperti kemarin
Ku baca kolom pertama sebelah kanan
Lalu ku cari halaman selanjutnya

Lembar per lembar
Hingga sampai pada halaman lanjut
Dari berita pada kolom pertama tadi
Berita rahasia

Hanya dibaca oleh pemegang kuasa
Hanya dibaca oleh pengatur negara
Hanya dibaca oleh penguasa
Ku ambil korek api kayu
Dan ku bakar

Berita bohong apa lagi yang beredar?
Kalau-kalau memang benar
Mengapa terbatas?
Dijual bebas
Hanya kepada orang-orang bermobil
Hanya kepada orang-orang berdasi
Hanya kepada orang-orang yang duduk di balik meja
Hanya kepada orang-orang yang menyeruput kopi setiap pagi
Mewah hidup mereka
Lelucon dibelinya

Mereka yang luntang lantung
Mereka yang compang camping
Mereka yang kumal kusam
Mengapa harus mereka yang menyebarkan?
Dijual..
Berjalan dan berlari
Di bawah terik matahari
Di antara asap kendaraan
Hitam..
Kusam..
Mereka hanya mencari rezeki
Tak mengerti apa yang dijual

Tak ada tentang mereka di sana
Dimana?
Ketika orang-orang seperti me…

Tua Jakarta

Aku berjalan di jembatan penyeberangan
Melihat puluhan kendaraan
Berbagai emosi tumpah ruah
Klakson dibunyikan
Suara teriakan
Serta asap kendaraan terasa seperti menelan arang

Jakarta...
Sudah tua rupanya
Tertawa para petinggi
Mengira telah membenahi
Polisi mengatur lalu lintas
Masih didapat pengemudi tak pantas


Aku terperenjat dalam keramaian
Yang harusnya terasa ramai
Sepi...
Sepi dan sunyi...
Menelusur dosa-dosa Jakarta
Tak pantas aku pikirkan
Berjalan menyakitkan

Aku kembali melewati sawah
Yang sudah tak lagi mewah
Hilang sudah karena sumpah serapah
Kini menjadi gedung-gedung tinggi
Kalah aku...
Mewakili mata rakyat dan hatinya
Tak bisa juga didengar
Tuli...
Tuli dan buta...
Hilang sudah Jakartaku

-ZAN-

Sekejap Mata, Sekilas Asa

kau datang saat hujan tak lagi deras,
kau datang saat aku tak sedang bahagia,
hati ini sakit seperti kau remas,
hingga dada berdetak tak terhingga

aku yang tak ingin terbang karenamu,
akhirnya luluh juga oleh keadaan yang kau beri,
aku memilih jalanku saat itu,
jalan baru yang sudah lama tak kupijaki

aku menikmati lagu-lagu yang kau suka,
aku melihat segala hal yang kau suka,
aku memahami sifatmu dan keadaan kita,
dan aku lupa, bahwa aku sedang tak jadi diriku adanya

tanpa sebab kau pergi begitu saja,
tiba-tiba, tanpa pamit dan tak ada kata-kata,
kau pergi meninggalkan semua,
aku hanya diam dan membiarkan begitu saja

sayangnya aku tak bersedih hati,
tak merasa kehilangan dan sepi,
tahukah kamu? ini karena aku terbiasa sendiri,
menikmati hidup dengan semestinya diri ini

sudahlah, tak usah kau kembali lagi,
aku sudah tak lagi mendengar lagu-lagu itu,
sebelum kau pergi, sudah kulupakan semuanya di sini,
dan sudahlah, tak perlu kau mencariku

kekasih... maaf ku bukan lagi kekasih
meski ki…

Aku, Rahasia yang Tak Bisa Mengumpat

Aku adalah Rahasia yang tak bisa mengumpat.
Meski ku berlari menyusuri sungai,
Meski ku berhenti dan berjalan melalui persimpangan,
Meski ku berhenti di balik dinding yang tinggi,
Aku tetaplah Rahasia yang tak bisa mengumpat.

Aku menyapa semua keadaan dengan senyum yang dipaksakan,
Membiarkan bahagia pergi begitu saja,
Lalu aku tertegun melihat seorang wanita tua yang berjalan tak tahu arah,
Aku membantunya.. dia tahu aku sedang mengumpat!
Lagi-lagi aku tak bisa mengumpat.

Bahagia yang ku tunggu,
Ia datang,
Mungkin memang dia,
Tapi akhirnya aku mengumpat kembali.

Menyembunyikan diri,
Membiarkan terbelenggu oleh angin,
Membiarkan diri bagai pasir yang tersiak oleh angin,
Aku hanya ingin bahagia itu tak pergi lagi.

Aku ingin bahagia bisa menunggu sebentar,
Hingga aku tak perlu mengumpat lagi.

-ZAN-