Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Setapak Cintaku

Aku diusik oleh malam yang kelabu Kamar ini gelap Sengaja tak kunyalakan sedikitpun cahaya Biarkan saja bulan yang bersinar Sejuk... Aku diam Aku sendiri Aku menikmati Aku duduk menghitung beberapa hari Dengan jari jemari yang sudah siap dilingkari Dengan telapak tangan yang sudah siap dilengkapi Melihat angka pada kalender itu Sudah ditandai dengan warna merah Ada janji Ada yang harus dipertanyakan Cuitan burung gereja menemani Hinggap di loteng kamar Aku berlari kecil menghampiri Memandangnya dari balkon kamar Ia pergi... Burung merpati menghampiri Membawa sebuah surat Diikatkan pada kaki kiri Kubuka ikatannya Lalu kubaca Dia membatalkan janji Kecewa aku! Marah aku! Tapi tak bisa kuteriak Dia pergi... Sudah pergi dan tak ada lagi Bukan bersama yang lain Bukan untuk Kota lain Bukan untuk Negara lain Tapi untuk Tuhan semesta ini Aku kehilangan cintaku Dibawa pergi olehnya Aku terkulai lemas Tidak tersedu-sedu Aku ikhlas Ia pergi membawa ci

Berkabar Sebuah Surat

Koran pagi ini membawa berita Sama seperti kemarin Ku baca kolom pertama sebelah kanan Lalu ku cari halaman selanjutnya Lembar per lembar Hingga sampai pada halaman lanjut Dari berita pada kolom pertama tadi Berita rahasia Hanya dibaca oleh pemegang kuasa Hanya dibaca oleh pengatur negara Hanya dibaca oleh penguasa Ku ambil korek api kayu Dan ku bakar Berita bohong apa lagi yang beredar? Kalau-kalau memang benar Mengapa terbatas? Dijual bebas Hanya kepada orang-orang bermobil Hanya kepada orang-orang berdasi Hanya kepada orang-orang yang duduk di balik meja Hanya kepada orang-orang yang menyeruput kopi setiap pagi Mewah hidup mereka Lelucon dibelinya Mereka yang luntang lantung Mereka yang compang camping Mereka yang kumal kusam Mengapa harus mereka yang menyebarkan? Dijual.. Berjalan dan berlari Di bawah terik matahari Di antara asap kendaraan Hitam.. Kusam.. Mereka hanya mencari rezeki Tak mengerti apa yang dijual Tak ada tentang mereka di sa

Tua Jakarta

Aku berjalan di jembatan penyeberangan Melihat puluhan kendaraan Berbagai emosi tumpah ruah Klakson dibunyikan Suara teriakan Serta asap kendaraan terasa seperti menelan arang Jakarta... Sudah tua rupanya Tertawa para petinggi Mengira telah membenahi Polisi mengatur lalu lintas Masih didapat pengemudi tak pantas Aku terperenjat dalam keramaian Yang harusnya terasa ramai Sepi... Sepi dan sunyi... Menelusur dosa-dosa Jakarta Tak pantas aku pikirkan Berjalan menyakitkan Aku kembali melewati sawah Yang sudah tak lagi mewah Hilang sudah karena sumpah serapah Kini menjadi gedung-gedung tinggi Kalah aku... Mewakili mata rakyat dan hatinya Tak bisa juga didengar Tuli... Tuli dan buta... Hilang sudah Jakartaku -ZAN-