Kamis, 28 September 2017

Arti Kesempatan

Ada yang bilang keberhasilan seseorang disebabkan karena usaha yang gigih. Perlu teman-teman ketahui bahwa, suatu keberhasilan dapat terjadi apabila seorang tersebut berani mengambil kesempatan yang ada. Bukan hanya menunggu ataupun berusaha dengan gigihnya. Barulah kemudian berusaha dengan gigihnya.

Selain itu, keyakinan hati juga memengaruhi keberanian dalam pengambilan keputusan.

Tipsnya adalah:

Pertama, berani mengambil kesempatan.
Kedua, gigih dalam mengerjakan.
Ketiga, berdoa pada Allah.
Keempat, pertahankan dan tingkatkan yang telah diraih.
Kelima, selalu rendah hati.

Terima kasih, semoga tertjerahkan.
 Salam,


ZAN

Senin, 25 September 2017

Sebuah Pesan

Pernahkah kita berpikir untuk melakukan suatu hal kecil yang dampaknya begitu besar?

Siang itu, setelah menyelesaikan beberapa hal terkait pekerjaan, gue kembali menuju kantor menggunakan angkutan ojek online. Butuh beberapa kali melakukan pencarian driver karena beberapa kali pula gue ditolak. Hingga akhirnya aplikasi itu mengantarkan gue kembali ke kantor dengan driver bernama Muhammad Rizki.

Ia masih cukup muda kalau didengar dari suara dan penampilan. Gue tidak tahu wajahnya karena sangat rapat ditutup masker dan helm.

Singkatnya, tak lama di perjalanan azan zuhur pun berkumandang. Tanpa gue duga, driver itu mengentikan perjalanan, menepi di sebuah Masjid.

"Mba, kita solah dulu nggak apa-apa kan?" tanya driver.

Tentu saja gue tidak menolak. Hal itu adalah kewajiban, lagipula kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama berkendara dan bergelut dengan lalu lintas.

Beberapa menit pun berlalu. Usai melakukan ibadah zuhur, driver mengantarkan gue kembali ke tempat tujuan.

Sebenarnya gue agak bingung, karena walaupun gue sering melalui jalan itu, tapi gue jarang memperhatikan setiap hal detailnya. Akhirnya, beberapa kali kami sempat salah berbelok.

Tiba di Jalan Proklamasi, kami melihat insiden kecelakaan antar sepeda motor dan kendaraan roda empat.

Kau tahu? Dengan pasti driver itu mengentikan laju kendaraan yang gue tumpangi. Ia bangkit lalu berjalan menolong si pengendara motor. Sementara gue berusaha membantu driver dengan menolong salah satu korban.

For your information, si korban alias pengendara motor itu adalah driver ojek online yang sedang mengantar penumpang juga. Di mana si penumpang adalah perempuan.

Beberapa saat kemudian, driver mengantarkan gue kembali ke tujuan dengan selamat.


PS : Untuk kalian di mana pun berada. Jangan pernah tinggalkan ibadah di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Serta, berhati-hatilah dalam berkendara.


Jakarta, 25 September 2017


Z A N

Senin, 18 September 2017

Orang-orang Tajam

Pernahkah kalian bertemu sapa dengan sekelompok orang yang sepaham? Apa yang kalian rasakan?

Begitulah yang gue alami beberapa bulan ini. Tanpa disengaja, gue bertemu (lagi) dengan orang-orag hebat yang tidak pernah direncanakan. Mungkin ini yang namanya takdir baik dari Tuhan. Alhamdulillah. Ini rezeki buat gue tentunya.

Selama bertemu mereka, sejak awal perkenalan pembahasan kami selalu berfaedah. Banyak poin penting yang gue pelajari. Mulai dari pengalaman mereka, latar belakang kehidupan mereka, pandangan dan sikap mereka terhadap suatu persoalan, hingga yang paling terkompleks (soal pemerintahan dan sejarah).

Banyak keunikan dari mereka yang gue pelajari. Dan itu justru jadi penghibur gue bahkan kami semua menyadari itu. Pembicaraan kami, antar kami, saling menyenangkan satu sama lain. Dan, yang paling luar biasa, dampaknya sangat baik. Gue jadi paham hal-hal apa saja yang tidak pernah gue ketahui sebelumnya.

Seringnya, gue sendiri tidak mengira kalau kami berbicara di forum bertemakan kepenulisan. Kami menyusun antologi bersama. Di mana genre yang kami tulisa, adalah genre pertama yang belum pernah gue tulis. Akhirnya, gue berhasil menyelesaikan itu meski banyak revisi. Bagus buat gue. Mereka sangat membantu mengarahkan baik dan kurangnya dalam tulisan yang gue buat.

Jadi, intinya... dalam postingan kali ini, gue memperkenalkan mereka yang gue kenal dari sebuah grup kepenulisan di salah satu platform chatting. Yang aktivitasnya, dipadati dengan pembahasan sedang, baik, sangat baik, hingga buruk (humor dewasa).


Jakarta, 18 September 2017


Z A N

Ribut-ribut

Malam itu kami dalam perjalaan menuju Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Mengunjungi kampung halaman salah seorang teman kampus.

Keberangkatan dibagi menjadi dua; kendaraan si pemilik kampung halaman melaju lebih dulu dengan keluarganya, kami mengekori.

Perjalanan yang dijadwalkan pada jam delapan malam, mundur dua jam karena salah seorang teman yang terlambat tiba. Orang mana yang sampai telat selama dua jam? Cuma dia seorang. *Mereka berempat memang doyan ngaret (teman-teman laki kami). Kalau mau dibahas satu-persatu tentang bagaimana mereka ngaret dan dalam kondisi apa saja, gue rasa satu laman blog ini tidak akan cukup. -_-

Selama perjalanan, posisi di dalam mobil yang kami tumpangi, teman yang ngaret tadi duduk di kursi penumpang paling depan. Sementara teman di sebelahnya mengendarai sambil mengangguk-anggukkan kepala menikmati lagu yang mereka putar. Di tengah ada ketiga teman perempuan gue yang... sepertinya sibuk dengan ponsel masing-masing. Gue? Di baris belakang bersama salah seorang teman perempuan. Sedikit kami membicarakan soal... "Eh, gimana tuh kelanjutan lo sama dia?" atau "Eh, gue bingung nih mau resign atau tetep. Menurut lo gimana, zul?" dan lain-lain.

Sampai di kilometer.... gue lupa. Di tol Cipali. Sebuah bus antar kota melaju di sisi kiri kami. Mereka berdua yang duduk di depan pun ribut. Kami di belakang perhatikan saja.

"Buka kacanya, bego!"
"Lo bisa buka sendiri, N****!"
"Oiye..."

.......................................

"Majuin dikit. Balapin.
"Yah nggak sama posisinya."
"Udah sekarang!"
.
.
.
"Om Telotet Om!!!!!!!"

Dan si supir bus antara kota pun membunyikan klaksonnya. Hal itu terjadi sebanyak tiga kali di jalur tol yang sama. Dasar gila, mereka berdua! *bertiga!


Jakarta, 18 September 2017



Z A N

Jumat, 15 September 2017

170116

Tiba pada satu waktu. Pada langkah yang harus terhenti dan tak tahu ke mana lagi. Mungkin tetap pada Tuhan. Itu saja. Lalu, kau enggan melangkah kemudian. Aku pun begitu.

Aku pernah bersalah. Bersalah pada masa lalu yang kuremehkan. Kubiarkan ia ternodai dengan ketidakpastian. Bertahun aku menata kembali, hingga aku bertemu dengan seseorang yang tak pernah kuduga. Kau.

Hari itu, entah bagaimana caranya kau bisa menemukanku di sebuah laman. Sampai pada percakapan awal kita di hari Minggu. Aku di Jakarta. Kau di sana. Dua tempat yang menjadi saksi awal perkenalan kita.

Aku menggila, memang itu kekonyolanku. Teman bilang, isi kepalaku memang rada-rada. Dan ternyata kau tak masalah dengan itu. Aku lega.

Satu hari, dua hari, tiga hari. Aku pun tahu suatu hal buruk yang menimpamu beberapa bulan sebelum hari Minggu itu. Aku bisa apa? Nyatanya, aku tak bisa melakukan apa-apa. Selain dari yang aku bisa; menyemangatimu layaknya seorang teman, dan menemani hari-hari sepimu.

Seorang teman. Ya, awalnya... kupikir akan selalu dan tetap begitu.

Kepergianmu ke Puncak 3.726 mdpl membuat semuanya berbeda. Kesederhanaanmu entah bagaimana ia bisa membuatku meruntuhkan sedikit pertahananku. Seperti menemukan kunci baru dalam rumah yang telah lama ditinggalkan yang terkunci rapat-rapat.

Aku... merasakannya.
Saat itu, aku tahu kau pun juga merasakannya.
Kita hanya diam, tak melakukan apa-apa.

Aku menyombongkan setiap gambar yang kau beri padaku. Aku hanya merasa... kesederhanaan itu membuatku bahagia.

Kita pernah berselisih. Aku pernah melakukan salah. Kau juga, menurutku. Tapi kita mampu bertahan dengan cara masing-masing.

Ke mana pun jejak langkahmu, kau selalu menempatkan namaku. Aku hanya tidak percaya kau melakukan itu. Berkali-kali aku berpikir, bahwa tidak mungkin itu cuma aku. Aku sadar, aku bukan seorang manusia yang layak untuk seorang sepertimu.

Berkali-kali aku berpikir demikian. Berkali-kali aku berusaha menghindar dan melupakanmu. Membiarkanmu bebas bertemu wajah-wajah baru. Hati baru. Namun, kau datang lagi dan melakukan kesederhanaanmu untukku. Aku kembali lagi padamu. Selalu. Seperti itu. Lagi. Kepadamu.

Aku meyakini semua ini yang terbaik. Namun, aku lupa... kalau hati tak bisa ditampik. Aku, masih tidak bisa melupakan, lalu merelakanmu. Adakah kau juga begitu? Semoga tidak. Ingatlah, aku hanya seorang yang seperti ini. Aku selalu ingin kau menemukan hati baru yang bisa membuatmu lebih baik. Tapi, jika kau tak bisa... aku juga tak menutup kembalinya dirimu.

Mungkin menurutmu aku berbeda. Ketahuilah, aku tetap manusia yang sama dengan manusia lain. Aku hanya merasa, tidak mungkin hanya aku yang ada di dalam hari-harimu. Karena itu selama ini aku berusaha diam. Sekali lagi, karena mungkin saja aku yang terlalu berangan tentangmu. Bukan aku tidak percaya pada hatimu, hanya saja... mungkin aku terlalu tak berani.

Kepadamu,
Tetaplah tegak pada pendirianmu. Jajaki setiap langkah yang ingin kau tandangi. Bawa namaku ke mana pun dan seberapa banyak kau mau. Aku selalu bahagia menerima itu.

Kepadamu,
Sehatlah selalu. Wujudkan satu persatu impian yang telah kau rangkai. Impian yang pernah kau katakan padaku. Impian, yang aku percaya kau mampu menebusnya.

Kepadamu,
Berserahlah kepada Tuhan untuk memberikan keputusan terbaik kepada dirimu, maupun aku.

Kepadamu,
105971, aku...


Jakarta, 15 September 2017


Z A N

Selasa, 12 September 2017

"Ngapain kamu di sini?"

Menjelang subuh kala itu. Kira-kira bulan ramadhan 2014. Biasanya, pimpinan NGO tempat gue bekerja mengajak seluruh anak asuhnya untuk melaksanakan ibadah subuh berjamaah.

Subuh kali itu hari kesekian kami mengadakan rapat nasional di sebuah hotel bilangan Jakarta Pusat. Seorang pemuda usia tiga puluhan duduk di sebuah kursi dekat ambang pintu masuk. Gue yang saat itu berjalan beriringan dengan ibu asuh kandung di kantor dan ibu pimpinan NGO (sebenarnya ramai sih, ada beberapa rekan dari beberapa penjuru wilayah indonesia) menuju sebuah aula yang kami gunakan untuk melaksanakan subuh berjamaah, melihat pemuda itu dari jauh dengan sedikit ingin menertawakannya. Pemuda itu menyelimuti tubuhnya mulai dari kepala hingga lengan dengan handuk besar yang ia dapat dari kamarnya.

Bukan hanya gue yang saat itu ingin menertawakannya. Pasalnya, hampir semua ibu-ibu juga mba-mba di sekeliling gue saling berbisik ingin tertawa melihat kelakuannya. Kami sudah hapal betul karakter pemuda itu yang tak luput dari tingkah langkanya. Gue sendiri mengakui, tidak ada yang tidak tertawa saat pemuda itu menjalankan aksinya.

Singkat cerita, kami tiba di ambang pintu. Pemuda itu masih menyelimuti sekujur tubuhnya dengan handuk putih dan masih duduk di sana. Ibu asuh gue di kantor bertanya padanya, "Ngapain sih?"

"Dingin, Bu," jawabnya.

Lalu, ibu pimpinan NGO bertanya, "Kamu nggak ikut ambil wudhu, ***? Ngapain kamu di sini?"

Pemuda itu pun menjawab dengan santai di hadapan ibu-ibu dan mba-mba tanpa melepas handuk di tubuhnya, "Saya penjaga pintu surga. Jadi silakan ibu-ibu masuk menuju surga."



Jakarta, 12 September 2017


Z A N

Selasa, 29 Agustus 2017

"...air putih aja, Mba."

Sembilan tahun yang lalu, gue diajak buka puasa bersama dengan teman-teman kecil yang berbadan besar. Maksud gue mereka teman kecil gue yang sekarang telah bertumbuh besar. Rumah kami berdekatan. Itulah yang membuat pertemanan kami sungguh awet selama delapan tahun lamanya (saat itu).

Kejadian ini berlangsung saat kami baru pertama kali mengenal 'buka puasa bersama di mall'. Gue masih tiga belas tahun, dan anak laki-laki itu dua belas tahun. Teman-teman lain sebaya dengan gue dan anak laki-laki itu.

Kira-kira kami bersepuluh memilih tempat makan di salah satu mall wilayah Jakarta Pusat. Kami sepakat memesan menu nasi goreng dengan varian yang berbeda. Ketika Si Mba Pramusaji menanyakan minuman apa yang kami pesan, beberapa kami mengatakan kompak Es Teh Manis. Sedangkan beberapa lainnya memilih minuman rasa buah. Kecuali satu orang, anak laki-laki itu dengan tegas mengatakan "...air putih aja, Mba."

Saat itu bukan hanya gue yang terkejut dengan pilihannya. Tapi sebagai manusia yang beradab, harus menghormati pilihan orang lain bukan? Meskipun jujur saja, gue menanyakan sesuatu padanya, "Lo nggak milih yang lain aja? Di rumah udah banyak air putih, di sini air putih juga?"

Seorang yang lain pun menimpali, kalau tidak salah ingat si anak laki-laki yang berbadan besar dan berkulit gelap. "Yaelah, kalo ke sini minum air putih mah, air keran di masjid aja nanti lo minum."

Anak laki-laki itupun menjawab, "Nggak papa. Air putih aja."

Sebenarnya, gue rada sangsi pada pilihannya. Karena pada daftar menu, hanya menu makanan saja yang disertai gambar. Sedangkan minuman, hanya disertakan harga. Namun, saat itu tidak ada yang mempersoalkan hal demikian. Dan kau tahu? Harga air putih yang dipilih teman gue berkisar lima ribu rupiah.

Mba Pramusaji pun mengantarkan catatan pesanan kami ke table kitchen. Susana saat itu sungguh ramai, mengingat mall di mana pun dan tempat makan apa pun pasti ramai dikunjungi mereka yang hendak berbuka puasa atau sekadar mengisi perut yang kosong.

Sembari menunggu, kami berbincang, berfoto dan saling lempar ejekan.
Kira-kira tepat beberapa menit sebelum azan maghrib, dua orang pramusaji mengantarkan pesanan kami.

Pertama-tama, mereka mengantarkan sebagian minuman. Hingga sampai pada salah seorang dari pramusaji itu mengatakan, "Air putihnya, Mas." Gue dan yang lain pun menatap anak laki-laki itu menahan tawa.

"Kenapa, Bro?" gue hanya bertanya demikian sembari menahan tawa, meskipun gue tahu jawaban dari pertanyaan itu.

Dia tampak mengernyitkan dahinya seperti baru menyadari sesuatu bahwa ternyata air putih seharga lima ribu rupiah itu bukan lah air putih kemasan botol dengan merk ternama dan bukan juga dengan ukuran besar. Melainkan hanya air putih merek biasa, ukuran 300 ml, dan  memiliki harga lima ribu rupiah belum termasuk pajak.

Jangan bayangkan bagaimana ekspresi kami saat itu, tentu saja sudah tak tahan untuk menertawakannya. Terutama gue yang benar-benar duduk di hadapannya. Ingin sekali saat itu gue menyumpah-serapah. "Udah gue bilang kan pilih minuman lain, lo nggak percaya sih." atau "Mending lo puasa minum aje deh sampe entar di rumah. Baru lo minum air putih yang banyak." Tapi, gue tidak setega itu.

Akhirnya beberapa teman pun dengan seenak hati mengejeknya,

"Jadi gimana air putihnya? Enak?"
"Sok tahu sih lo, udah dibilang pilih yang lain."
"Emang, sok milih-milih sih."
"Yang sabar ye, Bro."

Dan masih banyak lagi ucapan yang dilontarkan teman-teman.
Anak laki-laki itu pun hanya berkata, "Anjir, gue kira harga goceng dapat ukuran besar."


- Z A N-

Senin, 28 Agustus 2017

Real Life

Kamu tahu apa itu cinta?
Mungkin membosankan untuk sebagian orang membicarakan hal ini.
Cinta, pernikahan, merindukan atau kehilangan. Aku sendiri menyikapinya dengan separuh hati. Terkadang.

Cinta menurutku sebuah rasa yang ada tanpa diminta kehadirannya. Ia tidak pernah mengharapkan profit dari semua yang ia berikan. Seharusnya sih seperti ini idealnya.
Cinta bukan benda. Ia tidak berwujud dan tidak berwarna. Salah jika ada yang menggambarkan dan menyimbolnya dengan sebuah bentuk berwarna.

Omong-omong, tidak selamanya cinta berakhir dengan pernikahan. Ada juga yang berakhir pada perpisahan yang hakiki.

Aku teringat pada seorang Dosen yang mengajarkan kami soal cinta. Beliau mengatakan, "Apabila kamu merasa terlalu banyak berkorban.  maka sesungguhnya dirimu belum cukup untuk mencintai."  Aku tertegun kala mendengar pepatah itu. Darimana Pak Yoga tahu soal cukup atau tidaknya dalam mencintai? Apakah beliau telah mengalaminya? Atau beliau menemukan kalimat tersebut dari sebuah buku? Hingga hari ini aku masih dengan penasaran yang berkutat dalam kepala tentang ucapan Pak Yoga empat tahun yang lalu.

Mereka (sebut saja cinta) ribut.
Saling menunjuk bahwa dirinya lah yang paling banyak memberi keikhlasan atas sebuah pengorbanan.
Berdasarkan dari yang diucapkan Pak Yoga, selain menganggap telah banyak berkorban, maka menganggap telah melakukan segalanya dengan ikhlas kepada seseorang yang dicintai, rasanya hal itupun belum pantas dikatakan cukup mencintai.

Mengaku banyak pengorbanan, mengaku banyak mengikhlasakan, mengaku banyak menangis, mengaku banyak menanggung beban. Mungkin awalnya kamu tidak mengatakan hal-hal itu pada siapa pun. Namun, saat kamu situasi yang memaksamu untuk mengatakannya, maka...  kamu belum cukup untuk mencintai.

Lalu bagaimana dengan pernikahan?
Aku merasa lucu saat membicarakan hal ini. Banyak orang yang terlalu ribut menanggapi hal ini dan banyak juga orang yang kebakaran jenggot ketika melihat orang lain excited dengan hal ini.

Seringkali aku berpikir, apa untungnya menunjuk orang lain atau menyalahkan mereka yang terlalu excited dengan sebuah pernikahan? Itu hak orang lain bukan? Setiap manusia merdeka dengan pemikirannya masing-masing selagi itu tidak merugikan diri orang lain. Come on, Dear.

Selain itu, ada juga yang terlalu santai menanggapi sebuah pernikahan. Oke, aku sangat apresiasi dengan manusia macam pensil inul ini. Lentur. Tidak kaku. Pikirannya terbuka dengan hal-hal di sekitar dan menghargai persepsi orang lain. Kurasa di balik semua itu, orang - orang semacam ini lebih banyak merancang sebuah impian hidup yang besar dan berusaha mewujudkannya.

Aku tidak tahu sebenarnya ke mana arah tulisanku kali ini. Tapi satu hal yang aku tahu, aku hanya sedang berusaha berpikir realistis. Mengambil persepsi-persepsi dari sebagian manusia yang menghirup napas di bumi ini.

Bukan.. bukan. Aku tidak mendikte siapa pun. Namun, aku teringat pada satu hal. Aku pernah membaca sebuah buku di mana sang penulis memiliki persepsi yang sama denganku soal pernikahan.

"Pernikahan bukan hanya soal aku atau kamu. Melainkan juga soal keluargaku dan keluargamu." Ini pemikiranku tiga tahun yang lalu, dan sang penulis itu menuangkannya di dalam sebuah buku yang kubaca beberapa bulan lalu. Hebat. Ternyata masih banyak manusia idealis yang realistis di kaki langit ini. Namun, sayangnya.. orang - orang dengan pemikiran semacam ini terlalu hati-hati. Mereka akan mempertimbangkan tipe ideal yang cocok dengan dirinya juga kedua orangtuanya. Sayangnya, yang seperti ini justru dikatakan tipe pemilih. Hahahaha. Aku memang sok tahu, maafkan. *wing

Merindukan?
Apa pentingnya merindukan? Boleh saja kalau merindukan kedua orangtua atau siapa saja yang sangat kita sayangi. Namun, merindukan seseorang yang membuat kita lemah? Kurasa ini hanya akting. Karena, ketika rindu itu terbalas tidak jarang orang yang merindukan menjadi sangat berbahaya atas rindunya. Dan, orang yang dirindukan akan semakin merasa besar kepala karena merasa sangat dicintai. Tunggu... ini hanya pemikiranku saja setelah melihat keadaan remaja masa kini. Kurasa soal merindukan dan dirindukan hanya mereka yang telah berkeluarga yang lebih memahaminya.

Segini saja tulisan kali ini. Dari awal sampai akhir, sepertinya aku memang anak tengil yang sok tahu. Tenanglah... kalau kamu merasakan apa yang kutulis salah, maka luruskan lah aku dengan pemikiran-pemikiranmu. *wing

Ah iya, satu lagi.
Kamu tidak akan merasakan arti dari sebuah kehidupan, jika kamu belum merasakan betapa rumitnya kehidupan di dasar bumi ini.


- Z A N -

Selasa, 13 Juni 2017

Ayam Berkotek di Pagi Nara

Sudah satu minggu Mimin tak berkotek, subuh ini pun ia masih belum mengeluarkan suaranya. Ia merenung, memikirkan nasibnya hari ini yang tidak tahu harus makan apa dan mencarinya kemana, setelah satu minggu sebelumnya ia selalu memakan sisa - sisa manusia yang dibuang ke tong sampah. Matahari malu-malu menampakkan wujudnya, nyala sinar lampu kota mulai dipadamkan, puluhan pedagang tergopoh-gopoh menuju Pasar Kota, membopong berbagai macam Badaing dagangan mereka. Mimin memperhatikan segalanya dengan perasaan sedih

Di tengah Kota yang hingar bingar dan mulai ramai dengan segala aktivitas manusia, Mimin sembunyi di balik gubuk karton yang terletak di samping tong sampah Kantor Pos. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari pasar. Manusia terlihat ramai berlalu-lalang. Sesekali mereka menoleh kearah Mimin. Sebagian dari mereka merasa iba, dan sebagian yang lain menatap dengan penuh nafu untuk menangkap lalu menjualnya. Mimin merasa takut. Tak berani timbul dari persembunyiannya. Ia hanya memunculkan kepalanya untuk melihat kondisi jalan raya. Dilihatnya Pak Polisi sedang mengatur lalu lintas sambil meniupkan peluit. Petugas Pos terlihat sibuk memeriksa surat dan berkas lainnya sebelum diantar ke tempat tujuan. Tertangkap wajah Petugas Pos itu tersenyum, juga Pak Polisi terlihat begitu semangat mengatur arus lalu lintas yang mulai padat. Tak lama, Petugas Pos itu pun pergi mengantarkan surat dan berkas lainnya. Sebelum jauh, Petugas Pos menghampiri Pak Polisi untuk menyapa dan berjabat tangan.

“Selamat Pagi Pak,” sapa Petugas Pos sembari tersenyum kepada Pak Polisi.

“Selamat Pagi, selamat bertugas Pak.” Pak Polisi menjulurkan tangan kanannya mengajak Petugas Pos untuk bersalaman.

“Selamat bertugas.” Petugas Pos menjabat tangan Pak Polisi lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Matahari kian tinggi. Bayang-bayang bangunan terbentuk di jalan. Kendaraan mulai memadati jalan. Beberapa bus kota yang berlalu-lalang telah dipadati ibu-ibu yang pergi ke Pasar, bapak-bapak yang pergi bekerja, dan remaja lainnya yang pergi sekolah.

Di halte yang berjarak seratus meter dari persembunyian Mimin, terdapat delapan anak berkumpul menunggu bus sekolah. Tiga anak berseragam putih abu, dua anak berseragam putih biru, dan sisanya berseragam putih merah. Jalan semakin ramai dengan pejalan kaki.

Satu minggu yang lalu, Mimin melarikan diri bersama ayahnya. Ibu Mimin tak berhasil melarikan diri. Ia tertangkap kembali oleh pemilik peternakan ayam, sehingga ia terpisah dari Mimin dan Ayah Mimin. Namun saat melarikan diri, Mimin berlari terlalu cepat sehingga ia tak sadar telah jauh meninggalkan ayahnya di antara kerumunan manusia. Mereka pun terpisah berlari ke arah yang berbeda.

Mimin telah mencari ayahnya. Namun, ia tak menemukan jejak-jejak ayahnya. Kini sudah satu minggu Mimin kehilangan sang ayah. Ia selalu bertanya di dalam hati, apakah ayah ditangkap oleh petugas keamanan kota? Mimin jadi takut, ia rindu pada Ayahnya. Ia juga ingin bertemu kembali dengan Ibunya. Aku harus menemukan ayah dan kembali menjemput ibu untuk pergi bersama-sama, batin Mimin.

Hari itu, Mimin kembali mencari ayahnya. Ia melangkah perlahan, mengendap-endap mencari celah. Dilaluinya langkah kaki manusia yang begitu cepat di jalan yang berliku. Kini ia harus melalui jalan kecil yang sempit dan penuh dengan genangan airBelum sampai di Pasar Kota, Mimin yang berlari tanpa perhatikan arah, terkejut dengan Bibo yang tiba-tiba saja menghentikan langkah Mimin dari arah berlawanan. Bibo adalah teman Mimin. Ia merupakan seekor ayam boiler, tubuhnya lebih besar dari Mimin, bulunya lebih halus dan lebih terawat, berbeda dengan Mimin yang berjenis ayam lokal pada umumnya.

Hey Min, where are you going? Em.. maksudku, kamu mau kemana?” tanya Bibo.

“Huh! Hampir saja jantungku copot karena kamu mengagetkanku. Aku mau mencari ayahku,” jawab Mimin dengan wajah memelas.

“Kamu menyasar?”

No, I’m just.. lost him. Kupikir aku kehilangan Ayahku.”

“Bisa ku bantu?”

“Tidak perlu, lebih baik kamu pulang saja kerumah sebelum petugas kota menjaringmu karena mengira kamu hewan liar. Aku harus pergi ke Pasar Kota sekarang, mungkin saja ayahku terperangkap di sana, atau disekap oleh salah satu pedagang.” Mimin meneruskan langkahnya dan meninggalkan Bibo.

Hey Min, be careful! Hati-hati, temui aku kalau kamu tidak berhasil menemukan ayahmu!” teriak Bibo pada Mimin yang telah jauh berlari.

“Baiklah Bibo,” jawab Mimin tanpa menoleh padanya.

Mimin semakin jauh dari pandangan Bibo. Bibo melihat langkah Mimin yang sesekali tersandung. Setelah Mimin sudah tak lagi terlihat, Bibo pun kembali kerumah.

Sesampainya di ujung jalan kecil yang berliku, Mimin semakin bingung, manusia yang berlalu-lalang lebih ramai. Kemana aku harus melanjutkan langkahku? Mimin berhenti sejenak.
           
***

Nara—gadis delapan tahun itu sedang duduk bersandar di kursi roda. Ia begitu menikmati pemandangan senja dari tepi pantai. Matahari yang akan tenggelam, langit jingga, serta air laut yang mulai surut. Hembusan angin menyentuh kulit Nara dengan lembut. Menjalar ke wajah, dan mengibas rambut indahnya. Ia merentangkan kedua tangannya, lalu memejamkan kedua matanya, kemudian menghirup-hembuskan napas. Ia tersenyum kemudian membuka kedua matanya. Tidak seperti kebanyakan anak-anak sehat lainnya, sudah lima tahun Nara harus duduk di kursi roda karena penyakit Myelitis Transversa (Lumpuh akibat virus yang menyebabkan kelemahan pada kaki) yang dideritanya. Selama itu juga Nara harus menjalani terapi dan pengobatan. Nara tidak bersekolah di sekolah umum, ayah dan ibunya membayar seorang Guru untuk mengajar secara khusus di rumah. Ia tidak pernah malu dengan penyakit yang dideritanya, meski kadang ia merasa iri dengan kebanyakan anak seusianya yang sehat. Kak Badai selalu memberinya semangat. Nara bersyukur memiliki ayah, ibu dan seorang kakak yang begitu menyayanginya.

“Kak Badai, kenapa Matahari selalu tenggelam di sore hari?” tanya Nara yang masih menikmati senja bersama Kak Badai.

“Karena Bumi selalu berputar pada porosnya. Sebenarnya Matahari tidak pernah tenggelam, Nara. Ketika di satu kota mengalami waktu sore, maka di kota lain akan mengalami waktu pagi. Begitulah tugas Matahari sebagai sumber cahaya utama di dunia ini. Ia adil, menerangi seluruh Dunia secara bergantian,” jelas Kak Badai yang duduk di samping Nara.

“Oh begitu,” jawabnya sambil menganggukkan kepala. “Itu berarti, kalau di Kota Makassar ini sore, di kota lainnya pagi. Kalau di Kota Makassar ini malam, di kota lainnya siang. Apa begitu Kak?” lanjut Nara.

“Ya.. kamu benar. Contoh sederhananya di negara kita ini, Indonesia, memiliki tiga perbedaan waktu. Waktu Indonesia bagian Badait, Waktu Indonesia bagian Tengah, dan Waktu Indonesia bagian Timur. Nara tahu? Di tempat tinggal kita—Makassar—matahari akan segera tenggalam, jam menunjukkan pukul lima sore, artinya di Jakarta sebagai Waktu Indonesia bagian Badait, masih pukul empat sore, dan di Papua sebagai Waktu Indonesia bagian Timur, sudah pukul enam sore. Di Jakarta, matahari masih bersinar terang, tapi di Papua, matahari sudah tak lagi bersinar,” jelas Kak Badai.

“Jadi, karena bumi yang berputar, itu menyebabkan terjadinya siang dan malam, begitu Kak Badai?”

“Betul! Kamu sudah pintar Nara. Sekarang, sudah waktunya kita pulang.” Badai tersenyum sambil berdiri dan mengusap rambut adiknya.

“Oke Bos! Oh iya Kak, Nara kepengin deh pelihara hewan. Nara pengin pelihara anak ayam, menurut Kak Badai gimana?” tanya Nara meminta pendapat. Ia terlihat penuh semangat.

“Boleh aja, nanti kita cari yang lucu ya di Pasar,” jawab Badai sambil mendorong kursi roda Nara.

“Beneran Kak?” Nara kegirangan.

“Iya,” jawab Badai.

Badai membantu Nara untuk sampai kerumah dengan mendorongkan kursi rodanya. Di sepanjang jalan, Badai selalu teringat semangat adiknya setiap kali menjalani terapi. Bagaimana wajah Nara yang kecil mungil dan manis itu saat berusaha memijakkan kedua kakinya. Ada semangat yang begitu besar terpancar di wajahnya, namun terkadang ada juga kesedihan yang terselimuti oleh senyumnya. Badai selalu menemukan keduanya pada wajah Nara. Sesungguhnya, telah lama juga ia menantikan bermain sambil berlari dengan adik satu-satunya itu. Badai berharap tahun ini adalah akhir dari pengobatan terapi Nara.

Sudah genap lima tahun, seharusnya Nara sudah bisa berjalan, itulah yang selalu Badai harapkan disetiap malam sebelum tidurnya. Ia selalu memimpikan pergi ke Kebun Binatang bersama Nara, ia ingin mengajak adiknya menonton pertunjukan sirkus hewan-hewan. Badai ingin membahagiakan adiknya. Matahari kini terlihat setengah lingkaran di ujung kaki langit. Angin sepoi-sepoi membuat suasana sendu di hati Badai semakin menjadi-jadi, sedangkan Nara, dengan semangatnya melantunkan sebuah lagu yang sering Badai nyanyikan untuknya.

Airnya turun tidak terkira,
cobalah tengok dahan dan ranting,
pohon dan kebun basah semua..

***

Mimin masih terus mencari ayahnya. Seluruh kios pedagang di Pasar telah ia hampiri secara diam-diam. Pedagang cabai, pedagang beras, pedagang pakaian, pedagang ikan, pedagang daging, dan pedagang ayam, semuanya telah ia kunjungi. Namun, ia belum juga menemukan ayahnya. Mimin terhimpit di antara para pembeli. Ia berusaha menghindar dan bersembunyi di antara kanton-karton bahan makanan. Mimin menyelinap memasuki area kios pedagang rempah–rempah, ia beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga untuk keluar dari pasar kota. Tak ada pilihan lain, aku harus kembali ke peternakan untuk menemui ibu, akan ku cari ayah bersama ibu, pikirnya.

Mimin berlari sekuat tenaga agar tidak ditangkap pedagang ayam. Ia kembali ke Peternakan. Terseok–seok ia berlari, terhimpit, tersandung, jatuh, dan bangun lagi. Air matanya menetes perlahan kemudian menjadi deras, seirama dengan kecepatan larinya, Angin menampar wajahnya. Sepanjang berlari, wajah ayah dan ibunya lah yang ada di kedua pelupuk matanya. Ia merindukan kebersamaan itu. Jika memang melarikan diri adalah hal yang salah dan membuatku kehilangan ayah dan jauh dari ibu, lebih baik aku  menetap di Peternakan, meski pembeli mungkin membeliku dan memisahkan aku dari ayah dan ibu, setidaknya aku memiliki waktu bersama dengan mereka sebelum berpisah, batin Mimin sambil terus berlari.

***

Esok harinya Badai bersama ayahnya pergi ke Peternakan untuk membeli beberapa anak ayam yang ingin dipelihara Nara. Adiknya ingin sekali memiliki peternakan di halaman belakang rumah. Badai ingin memberikan kejutan kepada adik tersayangnya. Sesampainya di Peternakan, Badai memilih anak ayam yang begitu gesit dan penurut. Dilihatnya satu persatu anak ayam yang ada di dalam kandang besi dengan ukuran 9 X 10 meter itu.

Mimin sudah sampai di Peternakan, ia segera mencari sosok ibunya yang terperangkap di dalam kandang. Menyelinap, ia masuk melewati lubang pagar yang tersembunyi di sisi kanan. Setelah berhasil masuk, ditatapnya seluruh sisi kandang peternakan tersebut. Mimin menemukan dua ekor ayam yang sedang bersama di sudut kiri.

“Ayaaaaaah… Ibuuuuuu….,” terik Mimin sambil berlari kearah Ayah dan Ibunya.

Badai memilih seekor anak ayam jantan yang sedang mematuk umpan di tangan kanannya, dan memilih seekor anak ayam betina yang sedang berlari kearah sudut kiri.

“Di sana, Pak!” seru Badai kepada bapak peternak sambil menunjuk kearah anak ayam yang sedang berlari itu. Bapak peternak masuk kedalam kandang dan menghampiri anak ayam itu perlahan. 

Di rumahnya, Nara sedang bersiap untuk kembali menjalani terapi. Sudah satu tahun terakhir ini, Nara mengalami kemajuan yang sangat berarti dari setiap terapinya. Hari ini ia siap untuk memulai langkah pertamanya, hasil akhir dari terapinya adalah bila Nara yakin ia bisa berjalan, maka ia akan kembali berjalan, itulah yang dikatakan Dokter kepada kedua orangtuanya. Perlahan Nara memulai langkahnya, satu… dua… langkah telah ia tapaki dibantu oleh ibunya, Nara yakin akan berjalan kembali hari ini.
 
Badai telah mendapatkan dua ekor anak ayam yang diingkan adiknya. Setelah sampai di rumah, ia melihat Nara sedang berjalan tanpa alat batu. Perlahan, langkah demi langkah Nara sudah bisa kembali berjalan. Suster yang mengawasi terapinya selama lima tahun terlihat sangat kagum dan bahagia. Senyum puas pun tersungging di wajahnya. Nara dan ibunya tertawa bahagia sambil berpelukan, tangis haru hadir di antara mereka. Ibu Nara berulang kali mengucapkan terimakasih kepada Suster. Badai dan ayahnya, terkejut melihat pemandangan indah di hadapannya. Keduanya saling menyeka air mata yang berjatuhan di pipi. Badai mengangkat tangan kanannya yang menenteng box berisi anak ayam pesanan Nara. Nara tersenyum bahagia, ia menangis dan berlari ke arah kakaknya. Diperluknya Badai dengan sangat erat.

***

Setelah satu minggu Mimin tidak berkotek, hari ini ia kembali berkotek. Dengan penuh semangat, Mimin meniru gaya berkotek sang ibu.

“Koteeeek… Koteeeek..,” kotek Mimin begitu keras dan semangat.

Nara terbangun mendengar anak ayamnya berkotek. Perlahan ia berjalan keluar dari kamarnya menuju halaman belakang untuk memeriksa anak ayam miliknya. Perlahan ia mendekati kandang yang dibelikan ayahnya untuk kedua anak ayam itu. Nara bahagia, ia bisa berjalan kembali di pagi yang baru, memelihara hewan yang sangat ingin ia ternak, dan mendengar kotekan pertama ayam peliharaannya.

“Selamat pagi Maman dan Momon.” Nara menyapa dua anak ayam yang sedang mematuk makanan di kandangnya.

Mimin sungguh bahagia. Ia berjanji tidak akan meninggalkan peternakan lagi. Ia tidak akan merengek meminta pergi dari sana kepada ayah dan ibunya. Pagi ini Mimin kembali berkotek di pagi yang baru.


Jakarta, Juni 2016


Z A N

Senin, 13 Februari 2017

Gadis Belanda Berkebaya

gerimis pagi masih mengikis dedaunan
terlihat seorang gadis berjalan di pekarangan sawah
berpakaian ala belanda
dengan payung merah jambu di tangan kanannya
ia sembunyi dibawahnya

sampai di ujung jalan setapak
ia bertemu dengan sepasang kupu-kupu
asik menghisap nectar bunga matahari
gerimis berhenti
dihampiri dan ditangkapnya
tapi mereka pergi
terbang tinggi

tak sekalipun sang gadia kecewa
ia melipat payungnya
melanjutkan perjalanan
hingga sampai di gedung perjuangan, Cikini
disambutnya ia dengan sang ibu
mewah sekali hidupnya

satu jam berlalu ia kembali ke pekarangan sawah
dengan kebaya ia berjalan
disanggul rambutnya
menemui teman-teman yang hanya berpakaian keringat
yang terbungkus kain lusuh
dijaringnya capung-capung yang beterbangan
sungguh berbeda
tak kukira ia adalah gadis sederhana

-ZAN-

Selasa, 24 Januari 2017

Keruh

air sungai mengalir deras,
tanpa diminta, ia memberikan
tanpa diberi, ia tetap ada
demi manusia agar berkecukupan

kemana ia mengalir,
selalu tumbuh hehijauan,
manusia puas dengan alam yang ada,
mereka lahir dengan kesempurnaan

kini sungai telah keruh,
tak ada kejernihan yang mampu ia berikan
semua ternoda
oleh kebohongan pendusta

cinta,
hatiku telah mati untuk merasa cinta
telah keruh karena cinta
yang diberi oleh pendusta

-ZAN-

Minggu, 22 Januari 2017

In Your Eyes

Malam pekat, gemuruh hujan dan petir menggelegar membuat Nanda meringkuk di balik selimut ranjangnya. Hawa dingin membuatnya semakin mengeratkan selimut tebalnya.

Ia memekik, ketika suara keras petir menelusup paksa ke dalam indera pendengarannya. Mulut Nanda terkatup, ketika ia mendengar suara lain yang menyusul kerasnya petir.

Ketakutan yang ia rasakan semakin merasuk, kamar berukuran 2 x 3 meter yang ia tempati kini terasa sesak. Ia membawa tubuhnya lebih dalam di balik selimut, berharap rasa takut itu akan hilang. Namun, bukannya merasa tenang ia semakin ketakutan setelah kemudian ia mendengar suara pintu terbuka.
.
.
"Krieeeeeet...,"
.
.

Nanda semakin larut dan tenggelam di balik selimut. Kemudian petir kembali menyambar lebih keras.
.
.
"Jedeeer!"
.
.

Sarah terkejut,  ia melompat dari sofa karena petir yang menggelegar di dalam film itu, berbarengan dengan petir di langit malam dunia nyata. Rupanya di luar langit sudah menumpahkan airnya. Kini bulu kuduk Sarah bediri. Film yang ditonton benar-benar membuatnya takut, sampai ia berpikir bahwa kondisinya saat ini sama seperti Nanda--pemeran dalam film itu.

Cepat-cepat Sarah mematikan layar 32 inch itu, ia berjalan menghampiri televisi untuk menekan tombol power. Namun, tiba-tiba saja matanya melebar dan tubuhnya terasa kaku. Sarah melihat dirinya sedang tersenyum ganjil sambil memegang pisau di layar televisi yang telah padam.
.
.
"Sarah, apa yang kau lakukan? Ini sudah malam, cepat tidur!" ditengah keterkejutan Sarah, ibunya datang dan menyadarkan.Ia kembali melihat televisi tadi, gelap.
.
.
"B-baik Bu," Sarah menurut kemudian menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Langkah demi langkah, Sarah merasa ada sesuatu yang mengikutinya.
.
.
"Ibu.., aku akan segera tidur." ucap Sarah tanpa menoleh ke belakang.
.
.
"Kau berbicara pada siapa?" Angga menegurnya. Sarah membalikkan tubuhnya lalu menatap kakaknya. "Ibu belum pulang," lanjut Angga sambil memasuki kamarnya.

Sarah terkejut, beberapa saat ia mematung di anak tangga kelima. Kemudian Sarah berlari menuju kamarnya hingga kaki kanannya tersandung dan membuat lututnya yang mulus menjadi lebam.

Setelah memasuki kamar, Sarah langsung meloncat ke ranjangnya dan menarik selimut dengan harapan akan merasa tenang.
.
.
"Tenang Sarah…," gumam Sarah.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ditengoknya layar ponsel, tertera nama kakaknya, Angga.
.
.
"Kak Angga? ada apa dia telepon? dasar! padahal dia bisa teriak saja memanggilku." Sarah menjawab panggilan seluler dari Angga.
.
.
"Halo Kaaaak, ada apa sih? Kakak bisa teriak panggil aku, nggak usah telepon begini, kebanyakan pulsa ya?" canda Sarah.
.
.
"Halo Sarah, apa-apaan kamu suruh aku teriak, kamu mau bikin pita suaraku rusak?" Angga menjawab diujung telepon."kamu di mana? aku sudah di depan kampusmu, kamu bilang kamu akan pulang malam karena ada kegiatan kampus dan memintaku untuk menjemputmu. Kutunggu di pos security, ya!" seru Angga sambil berteduh di dalam pos.

Kening Sarah berkerut. Ia bingung sekaligus takut.
.
.
"Sebenarnya ada apa ini? Kalau yang sedang berbicara padaku ini adalah Kak Angga, lalu yang tadi kutemui di ruang keluarga, siapa?" Sarah bertanya pada dirinya sendiri. Keningnya menyatukan kerutan, bulu kuduknya semakin meninggi.
.
.
Kening Sarah mengeryit. Ia bingung sekaligus takut.
.
.
"Sar.. Sarah... Kamu masih di sana?" Panggil Angga dari ujung telepon.
.
.
"Ah... i-iya Kak. B-bukannya tadi kak Angga ada di rumah?" tanya Sarah dengan hati-hati.
.
.
"Hah? T--kamu…."
.
.
Tut … tut … tut….
.
.
Panggilan selulernya terputus. Ia melihat layar posel yang telah padam. Tiba-tiba, terlihat bayangan sosok lain di layar ponsel itu. Degup jantung Sarah semakin cepat kala ia memutar kepalanya ke belakang, ia benar-benar terkejut.

Entah sejak kapan sosok menyeramkan itu berada di belakangnya dan bergelayut di kipas angin langit-langit kamarnya. Makhluk tak berwajah, hanya mulutnya yang dibuka lebar-lebar.

Sarah terpaku pada sosok itu, ia ingin berteriak, menangis, menjerit, berlari, tapi tidak bisa. Mulutnya terkatup, dadanya sesak, keringat mengucur deras ke sekujur tubuhnya. Oksigen di kamarnya seakan habis.

Sosok itu melompat dan mendekat kearah Sarah, berjalan merangkak mendekati sarah dengan mulut masih terbuka.
.
.
"HHHGGRR!" suaranya begitu menyeramkan.
.
.

Sarah menjauh dari makhluk itu. Ia beranjak dari ranjangnya, berusaha membuka pintu namun pintu terkunci dari luar. Ia menyudut di balik pintu. Sarah tidak tahan lagi menahan rasa takutnya. Ia berusaha meneriakan suaranya sekeras ia bisa.
.
.
"Aaaaargh!"
.
.

Angga yang sudah tertidur di kamarnya, cepat-cepat menaiki anak tangga menghampiri teriakkan adiknya. Ia menerobos pintu kamar Sarah.
.
.
"Sarah! Hei kamu tidak apa-apa?" Angga bertanya heran, ia menggoyahkan bahu Sarah yang sudah meringkuk.
.
.

Angga memandang seisi kamar, ia tak menemukan apapun yang mencurigakan. Sedangkan Sarah terus menatap ke satu arah hingga keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya. Angga mengikuti arah pandangnya, namun lagi-lagi ia tak menemukan apapun.
.
.
"Apa yang kamu lihat, Sarah?" Sarah tidak menjawab pertanyaan kakaknya, kini kedua matanya yang bulat itu menatap wajah kakaknya dengan penuh rasa ketakutan. Tubuhnya bergetar, ia menumpahkan tangisan dan mendekap tubuh kakaknya sangat erat. Kakaknya membalas dekapan Sarah dengan erat.

Sarah semakin mencengkeram kaos polos yang dipakai Angga saat itu. Sarah melihat sosok menyeramkan itu semakin mendekatinya, sosok tak berwajah dan hanya membuka lebar mulutnya, kini menyemburkan bercak darah dari pori-pori wajahnya. Kulit wajah yang mengelupas, seperti bekas luka bakar.

Sosok itu semakin mendekat, kini jaraknya hanya tiga langkah saja dari balik punggung Angga.
.
.
"Tidaak! Jangan mendekat!" Sarah menjerit.
Angga semakin memeluk erat Sarah, ia tidak melepaskan adiknya yang berontak tak keruan.
.
******
.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka lebar. Dokter bersama dua Suster wanita masuk dan berjalan menghampiri Sarah dan Pak Rahmat.
.
.
"Bagaimana Pak Rahmat, apakah kondisi Sarah semakin memburuk?" Dokter Irfan bertanya sambil memeriksa obat yang telah disiapkan oleh Perawat Rahmat di atas meja sebelah ranjang Sarah.

Pak Rahmat telah melepaskan pelukan ditubuh Sarah karena kondisinya yang kembali tenang, sedangkan Sarah masih menerkam erat tubuhnya di sudut kamar.
.
.
"Traumanya begitu parah, Dok. Setiap kali saya memeriksanya, ia masih saja kembali teringat makhluk yang telah merasuki kakaknya hingga membunuh Ayah serta Ibunya." Pak Rahmat menjelaskan.

Suster Renata dan Suster Sesilia menghampiri Sarah, mereka menyeka keringat di wajah Sarah. Kini sudah dua tahun Sarah dirawat di Rumah Sakit Jiwa.

✍ : @zulfhaan @denandd @koalaliar @diandraptr19 @deacantika96

The Last Witch from Zeranel

Zeranel, sebuah negeri yang damai nan makmur terletak diantara Gunung salju Malverest dan lembah elf Savishta. Pertanian yang begitu hijau dan subur menghidupi masyarakat yang tinggal di sekitar. Diantara kedamaian di Zeranel, hiduplah seorang Penyihir yang tinggal sebatang kara.  Ia biasa dikenal dengan sebutan Nenek Sila. Dengan tinggal tersembunyi disebuah gubuk kecil dipinggir hutan, jauh terisolasi dari masyarakat negeri itu, hingga keberadaannya dianggap mitos. Setiap malam, ia selalu merajut pakaian dengan benang wol sebagai senjata untuk meracuni masyarakat dengan mengambil energinya. Namun, Ia memiliki satu kelemahan yang tidak diketahui siapapun.

Setiap malam ketika bintang tak lagi berpendar, wujud aslinya yang memikat akan terlihat dan kekuatannya akan hilang sebagai pengganti rupa eloknya. Saat itulah Nenek Sila berani keluar dari gubuknya dan berjalan menyusuri jalanan di kota, menemui sosok-sosok manusia yang tidak tahu tentang jati dirinya. Namun, ketika rembulan menunjukan wujud sabitnya, maka Nenek Sila berusaha menyerap energi penduduk kota yang ia temui dengan memberikan hasil rajutannya berupa selendang putih.

Tahun berganti, Nenek Sila kini telah berusia tujuh puluh sembilan tahun. Konon, ketika seorang Penyihir berusia delapan puluh tahun, kekuatan sihirnya menjadi lebih besar dari kekuatan sebelumnya. Esok malam tepat ketika bulan purnama mengeluarkan pesonanya di puncak malam ia akan mendapatkan kekuatan itu.

Esok malam tepat ketika bulan purnama mengeluarkan pesonanya di puncak malam ia akan mendapatkan kekuatan itu. Ketika itulah ia bisa membuat sebuah ramuan untuk menciptakan kembali teman hidupnya yang mati saat memasuki pedesaan untuk mematai-matai. Ia mati akibat terhempas oleh badai yang melindungi pedesaan. Teman hidupnya itu bernama Phoenix, seekor burung api yang melengkapi kecantikannya di kegelapan malam.

Nenek Sila begitu tekun membuat ramuan, hingga suatu kali, tangis amarahnya menetes tanpa sadar dan mencemari ramuan tersebut. Bertahun-tahun Nenek Sila berusaha untuk menghidupkan Phoenix kembali. Namun, ramuan yang ia ciptakan tak ada yang berhasil. Kini  ia menemukan buku kuno tentang pembuatan ramuan menghidupkan makhluk yang telah mati.  Di dalam buku itu, ada satu bahan ramuan  yang belum pernah ia campurkan sebelumnya.

Bahan itu adalah Biji Asam yang ditanam oleh petani. Akan tetapi, Nenek Sila tak sekalipun bisa memasuki pedesaan untuk mengambil bahan ramuan tersebut. Dengan wajah dan tubuh yang tak pernah menua, kecantikan bagai bunga desa, Nenek Sila dapat dikenali oleh seluruh penduduk Negeri Zeranel.

Esok malam, kekuatannya akan sempurna,ia bisa memikat satu-satunya petani asam di daerah itu. Petani itu bernama Eldorado, namanya menyebar keseluruh negeri Zeranel sebagai Pembunuh Penyihir Hitam.

Setiap malam purnama, Nenek Sila pergi ke kota untuk mencari energi dari lima puluh penduduk, ia memberikan selendang putih untuk melawan Eldorado. Di tempat lain, Eldorado sedang berlatih keras dan bersiap untuk mengalahkan Nenek Sila.

Hingga malam itu tiba, semua berjalan sesuai rencana. Tanpa diduga, cuaca malam itu sama sekali tidak mendukungnya, seakan berkonspirasi dengan sang Petani untuk menghambat rencana Nenek Sila. Lima puluh penduduk kota menjadi korban, namun Nenek Sila tak berhasil menjalankan misinya karena badai dan angin kencang yang melindungi pedesaan itu,  sebagai kekuatan Eldorado. Ia tak bisa membuat ramuan untuk menghidupkan temannya. Malam itu semuanya berbalik menjadi puncak kehancurannya dan lenyap bersama semburan angin badai yang mengikis kulitnya secara perlahan.
.
.

Cerita ini dibuat oleh @michellecerryna @zulfhaan @lilyanna.adiseputro dan @xynerva_. Cerita dengan genre fantasy ini kami buat dalam games @paperink11