Minggu, 22 Januari 2017

In Your Eyes

Malam pekat, gemuruh hujan dan petir menggelegar membuat Nanda meringkuk di balik selimut ranjangnya. Hawa dingin membuatnya semakin mengeratkan selimut tebalnya.

Ia memekik, ketika suara keras petir menelusup paksa ke dalam indera pendengarannya. Mulut Nanda terkatup, ketika ia mendengar suara lain yang menyusul kerasnya petir.

Ketakutan yang ia rasakan semakin merasuk, kamar berukuran 2 x 3 meter yang ia tempati kini terasa sesak. Ia membawa tubuhnya lebih dalam di balik selimut, berharap rasa takut itu akan hilang. Namun, bukannya merasa tenang ia semakin ketakutan setelah kemudian ia mendengar suara pintu terbuka.
.
.
"Krieeeeeet...,"
.
.

Nanda semakin larut dan tenggelam di balik selimut. Kemudian petir kembali menyambar lebih keras.
.
.
"Jedeeer!"
.
.

Sarah terkejut,  ia melompat dari sofa karena petir yang menggelegar di dalam film itu, berbarengan dengan petir di langit malam dunia nyata. Rupanya di luar langit sudah menumpahkan airnya. Kini bulu kuduk Sarah bediri. Film yang ditonton benar-benar membuatnya takut, sampai ia berpikir bahwa kondisinya saat ini sama seperti Nanda--pemeran dalam film itu.

Cepat-cepat Sarah mematikan layar 32 inch itu, ia berjalan menghampiri televisi untuk menekan tombol power. Namun, tiba-tiba saja matanya melebar dan tubuhnya terasa kaku. Sarah melihat dirinya sedang tersenyum ganjil sambil memegang pisau di layar televisi yang telah padam.
.
.
"Sarah, apa yang kau lakukan? Ini sudah malam, cepat tidur!" ditengah keterkejutan Sarah, ibunya datang dan menyadarkan.Ia kembali melihat televisi tadi, gelap.
.
.
"B-baik Bu," Sarah menurut kemudian menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Langkah demi langkah, Sarah merasa ada sesuatu yang mengikutinya.
.
.
"Ibu.., aku akan segera tidur." ucap Sarah tanpa menoleh ke belakang.
.
.
"Kau berbicara pada siapa?" Angga menegurnya. Sarah membalikkan tubuhnya lalu menatap kakaknya. "Ibu belum pulang," lanjut Angga sambil memasuki kamarnya.

Sarah terkejut, beberapa saat ia mematung di anak tangga kelima. Kemudian Sarah berlari menuju kamarnya hingga kaki kanannya tersandung dan membuat lututnya yang mulus menjadi lebam.

Setelah memasuki kamar, Sarah langsung meloncat ke ranjangnya dan menarik selimut dengan harapan akan merasa tenang.
.
.
"Tenang Sarah…," gumam Sarah.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ditengoknya layar ponsel, tertera nama kakaknya, Angga.
.
.
"Kak Angga? ada apa dia telepon? dasar! padahal dia bisa teriak saja memanggilku." Sarah menjawab panggilan seluler dari Angga.
.
.
"Halo Kaaaak, ada apa sih? Kakak bisa teriak panggil aku, nggak usah telepon begini, kebanyakan pulsa ya?" canda Sarah.
.
.
"Halo Sarah, apa-apaan kamu suruh aku teriak, kamu mau bikin pita suaraku rusak?" Angga menjawab diujung telepon."kamu di mana? aku sudah di depan kampusmu, kamu bilang kamu akan pulang malam karena ada kegiatan kampus dan memintaku untuk menjemputmu. Kutunggu di pos security, ya!" seru Angga sambil berteduh di dalam pos.

Kening Sarah berkerut. Ia bingung sekaligus takut.
.
.
"Sebenarnya ada apa ini? Kalau yang sedang berbicara padaku ini adalah Kak Angga, lalu yang tadi kutemui di ruang keluarga, siapa?" Sarah bertanya pada dirinya sendiri. Keningnya menyatukan kerutan, bulu kuduknya semakin meninggi.
.
.
Kening Sarah mengeryit. Ia bingung sekaligus takut.
.
.
"Sar.. Sarah... Kamu masih di sana?" Panggil Angga dari ujung telepon.
.
.
"Ah... i-iya Kak. B-bukannya tadi kak Angga ada di rumah?" tanya Sarah dengan hati-hati.
.
.
"Hah? T--kamu…."
.
.
Tut … tut … tut….
.
.
Panggilan selulernya terputus. Ia melihat layar posel yang telah padam. Tiba-tiba, terlihat bayangan sosok lain di layar ponsel itu. Degup jantung Sarah semakin cepat kala ia memutar kepalanya ke belakang, ia benar-benar terkejut.

Entah sejak kapan sosok menyeramkan itu berada di belakangnya dan bergelayut di kipas angin langit-langit kamarnya. Makhluk tak berwajah, hanya mulutnya yang dibuka lebar-lebar.

Sarah terpaku pada sosok itu, ia ingin berteriak, menangis, menjerit, berlari, tapi tidak bisa. Mulutnya terkatup, dadanya sesak, keringat mengucur deras ke sekujur tubuhnya. Oksigen di kamarnya seakan habis.

Sosok itu melompat dan mendekat kearah Sarah, berjalan merangkak mendekati sarah dengan mulut masih terbuka.
.
.
"HHHGGRR!" suaranya begitu menyeramkan.
.
.

Sarah menjauh dari makhluk itu. Ia beranjak dari ranjangnya, berusaha membuka pintu namun pintu terkunci dari luar. Ia menyudut di balik pintu. Sarah tidak tahan lagi menahan rasa takutnya. Ia berusaha meneriakan suaranya sekeras ia bisa.
.
.
"Aaaaargh!"
.
.

Angga yang sudah tertidur di kamarnya, cepat-cepat menaiki anak tangga menghampiri teriakkan adiknya. Ia menerobos pintu kamar Sarah.
.
.
"Sarah! Hei kamu tidak apa-apa?" Angga bertanya heran, ia menggoyahkan bahu Sarah yang sudah meringkuk.
.
.

Angga memandang seisi kamar, ia tak menemukan apapun yang mencurigakan. Sedangkan Sarah terus menatap ke satu arah hingga keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya. Angga mengikuti arah pandangnya, namun lagi-lagi ia tak menemukan apapun.
.
.
"Apa yang kamu lihat, Sarah?" Sarah tidak menjawab pertanyaan kakaknya, kini kedua matanya yang bulat itu menatap wajah kakaknya dengan penuh rasa ketakutan. Tubuhnya bergetar, ia menumpahkan tangisan dan mendekap tubuh kakaknya sangat erat. Kakaknya membalas dekapan Sarah dengan erat.

Sarah semakin mencengkeram kaos polos yang dipakai Angga saat itu. Sarah melihat sosok menyeramkan itu semakin mendekatinya, sosok tak berwajah dan hanya membuka lebar mulutnya, kini menyemburkan bercak darah dari pori-pori wajahnya. Kulit wajah yang mengelupas, seperti bekas luka bakar.

Sosok itu semakin mendekat, kini jaraknya hanya tiga langkah saja dari balik punggung Angga.
.
.
"Tidaak! Jangan mendekat!" Sarah menjerit.
Angga semakin memeluk erat Sarah, ia tidak melepaskan adiknya yang berontak tak keruan.
.
******
.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka lebar. Dokter bersama dua Suster wanita masuk dan berjalan menghampiri Sarah dan Pak Rahmat.
.
.
"Bagaimana Pak Rahmat, apakah kondisi Sarah semakin memburuk?" Dokter Irfan bertanya sambil memeriksa obat yang telah disiapkan oleh Perawat Rahmat di atas meja sebelah ranjang Sarah.

Pak Rahmat telah melepaskan pelukan ditubuh Sarah karena kondisinya yang kembali tenang, sedangkan Sarah masih menerkam erat tubuhnya di sudut kamar.
.
.
"Traumanya begitu parah, Dok. Setiap kali saya memeriksanya, ia masih saja kembali teringat makhluk yang telah merasuki kakaknya hingga membunuh Ayah serta Ibunya." Pak Rahmat menjelaskan.

Suster Renata dan Suster Sesilia menghampiri Sarah, mereka menyeka keringat di wajah Sarah. Kini sudah dua tahun Sarah dirawat di Rumah Sakit Jiwa.

✍ : @zulfhaan @denandd @koalaliar @diandraptr19 @deacantika96

Tidak ada komentar:

Posting Komentar