Minggu, 22 Januari 2017

The Last Witch from Zeranel

Zeranel, sebuah negeri yang damai nan makmur terletak diantara Gunung salju Malverest dan lembah elf Savishta. Pertanian yang begitu hijau dan subur menghidupi masyarakat yang tinggal di sekitar. Diantara kedamaian di Zeranel, hiduplah seorang Penyihir yang tinggal sebatang kara.  Ia biasa dikenal dengan sebutan Nenek Sila. Dengan tinggal tersembunyi disebuah gubuk kecil dipinggir hutan, jauh terisolasi dari masyarakat negeri itu, hingga keberadaannya dianggap mitos. Setiap malam, ia selalu merajut pakaian dengan benang wol sebagai senjata untuk meracuni masyarakat dengan mengambil energinya. Namun, Ia memiliki satu kelemahan yang tidak diketahui siapapun.

Setiap malam ketika bintang tak lagi berpendar, wujud aslinya yang memikat akan terlihat dan kekuatannya akan hilang sebagai pengganti rupa eloknya. Saat itulah Nenek Sila berani keluar dari gubuknya dan berjalan menyusuri jalanan di kota, menemui sosok-sosok manusia yang tidak tahu tentang jati dirinya. Namun, ketika rembulan menunjukan wujud sabitnya, maka Nenek Sila berusaha menyerap energi penduduk kota yang ia temui dengan memberikan hasil rajutannya berupa selendang putih.

Tahun berganti, Nenek Sila kini telah berusia tujuh puluh sembilan tahun. Konon, ketika seorang Penyihir berusia delapan puluh tahun, kekuatan sihirnya menjadi lebih besar dari kekuatan sebelumnya. Esok malam tepat ketika bulan purnama mengeluarkan pesonanya di puncak malam ia akan mendapatkan kekuatan itu.

Esok malam tepat ketika bulan purnama mengeluarkan pesonanya di puncak malam ia akan mendapatkan kekuatan itu. Ketika itulah ia bisa membuat sebuah ramuan untuk menciptakan kembali teman hidupnya yang mati saat memasuki pedesaan untuk mematai-matai. Ia mati akibat terhempas oleh badai yang melindungi pedesaan. Teman hidupnya itu bernama Phoenix, seekor burung api yang melengkapi kecantikannya di kegelapan malam.

Nenek Sila begitu tekun membuat ramuan, hingga suatu kali, tangis amarahnya menetes tanpa sadar dan mencemari ramuan tersebut. Bertahun-tahun Nenek Sila berusaha untuk menghidupkan Phoenix kembali. Namun, ramuan yang ia ciptakan tak ada yang berhasil. Kini  ia menemukan buku kuno tentang pembuatan ramuan menghidupkan makhluk yang telah mati.  Di dalam buku itu, ada satu bahan ramuan  yang belum pernah ia campurkan sebelumnya.

Bahan itu adalah Biji Asam yang ditanam oleh petani. Akan tetapi, Nenek Sila tak sekalipun bisa memasuki pedesaan untuk mengambil bahan ramuan tersebut. Dengan wajah dan tubuh yang tak pernah menua, kecantikan bagai bunga desa, Nenek Sila dapat dikenali oleh seluruh penduduk Negeri Zeranel.

Esok malam, kekuatannya akan sempurna,ia bisa memikat satu-satunya petani asam di daerah itu. Petani itu bernama Eldorado, namanya menyebar keseluruh negeri Zeranel sebagai Pembunuh Penyihir Hitam.

Setiap malam purnama, Nenek Sila pergi ke kota untuk mencari energi dari lima puluh penduduk, ia memberikan selendang putih untuk melawan Eldorado. Di tempat lain, Eldorado sedang berlatih keras dan bersiap untuk mengalahkan Nenek Sila.

Hingga malam itu tiba, semua berjalan sesuai rencana. Tanpa diduga, cuaca malam itu sama sekali tidak mendukungnya, seakan berkonspirasi dengan sang Petani untuk menghambat rencana Nenek Sila. Lima puluh penduduk kota menjadi korban, namun Nenek Sila tak berhasil menjalankan misinya karena badai dan angin kencang yang melindungi pedesaan itu,  sebagai kekuatan Eldorado. Ia tak bisa membuat ramuan untuk menghidupkan temannya. Malam itu semuanya berbalik menjadi puncak kehancurannya dan lenyap bersama semburan angin badai yang mengikis kulitnya secara perlahan.
.
.

Cerita ini dibuat oleh @michellecerryna @zulfhaan @lilyanna.adiseputro dan @xynerva_. Cerita dengan genre fantasy ini kami buat dalam games @paperink11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar