Selasa, 13 Juni 2017

Ayam Berkotek di Pagi Nara

Sudah satu minggu Mimin tak berkotek, subuh ini pun ia masih belum mengeluarkan suaranya. Ia merenung, memikirkan nasibnya hari ini yang tidak tahu harus makan apa dan mencarinya kemana, setelah satu minggu sebelumnya ia selalu memakan sisa - sisa manusia yang dibuang ke tong sampah. Matahari malu-malu menampakkan wujudnya, nyala sinar lampu kota mulai dipadamkan, puluhan pedagang tergopoh-gopoh menuju Pasar Kota, membopong berbagai macam Badaing dagangan mereka. Mimin memperhatikan segalanya dengan perasaan sedih

Di tengah Kota yang hingar bingar dan mulai ramai dengan segala aktivitas manusia, Mimin sembunyi di balik gubuk karton yang terletak di samping tong sampah Kantor Pos. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari pasar. Manusia terlihat ramai berlalu-lalang. Sesekali mereka menoleh kearah Mimin. Sebagian dari mereka merasa iba, dan sebagian yang lain menatap dengan penuh nafu untuk menangkap lalu menjualnya. Mimin merasa takut. Tak berani timbul dari persembunyiannya. Ia hanya memunculkan kepalanya untuk melihat kondisi jalan raya. Dilihatnya Pak Polisi sedang mengatur lalu lintas sambil meniupkan peluit. Petugas Pos terlihat sibuk memeriksa surat dan berkas lainnya sebelum diantar ke tempat tujuan. Tertangkap wajah Petugas Pos itu tersenyum, juga Pak Polisi terlihat begitu semangat mengatur arus lalu lintas yang mulai padat. Tak lama, Petugas Pos itu pun pergi mengantarkan surat dan berkas lainnya. Sebelum jauh, Petugas Pos menghampiri Pak Polisi untuk menyapa dan berjabat tangan.

“Selamat Pagi Pak,” sapa Petugas Pos sembari tersenyum kepada Pak Polisi.

“Selamat Pagi, selamat bertugas Pak.” Pak Polisi menjulurkan tangan kanannya mengajak Petugas Pos untuk bersalaman.

“Selamat bertugas.” Petugas Pos menjabat tangan Pak Polisi lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Matahari kian tinggi. Bayang-bayang bangunan terbentuk di jalan. Kendaraan mulai memadati jalan. Beberapa bus kota yang berlalu-lalang telah dipadati ibu-ibu yang pergi ke Pasar, bapak-bapak yang pergi bekerja, dan remaja lainnya yang pergi sekolah.

Di halte yang berjarak seratus meter dari persembunyian Mimin, terdapat delapan anak berkumpul menunggu bus sekolah. Tiga anak berseragam putih abu, dua anak berseragam putih biru, dan sisanya berseragam putih merah. Jalan semakin ramai dengan pejalan kaki.

Satu minggu yang lalu, Mimin melarikan diri bersama ayahnya. Ibu Mimin tak berhasil melarikan diri. Ia tertangkap kembali oleh pemilik peternakan ayam, sehingga ia terpisah dari Mimin dan Ayah Mimin. Namun saat melarikan diri, Mimin berlari terlalu cepat sehingga ia tak sadar telah jauh meninggalkan ayahnya di antara kerumunan manusia. Mereka pun terpisah berlari ke arah yang berbeda.

Mimin telah mencari ayahnya. Namun, ia tak menemukan jejak-jejak ayahnya. Kini sudah satu minggu Mimin kehilangan sang ayah. Ia selalu bertanya di dalam hati, apakah ayah ditangkap oleh petugas keamanan kota? Mimin jadi takut, ia rindu pada Ayahnya. Ia juga ingin bertemu kembali dengan Ibunya. Aku harus menemukan ayah dan kembali menjemput ibu untuk pergi bersama-sama, batin Mimin.

Hari itu, Mimin kembali mencari ayahnya. Ia melangkah perlahan, mengendap-endap mencari celah. Dilaluinya langkah kaki manusia yang begitu cepat di jalan yang berliku. Kini ia harus melalui jalan kecil yang sempit dan penuh dengan genangan airBelum sampai di Pasar Kota, Mimin yang berlari tanpa perhatikan arah, terkejut dengan Bibo yang tiba-tiba saja menghentikan langkah Mimin dari arah berlawanan. Bibo adalah teman Mimin. Ia merupakan seekor ayam boiler, tubuhnya lebih besar dari Mimin, bulunya lebih halus dan lebih terawat, berbeda dengan Mimin yang berjenis ayam lokal pada umumnya.

Hey Min, where are you going? Em.. maksudku, kamu mau kemana?” tanya Bibo.

“Huh! Hampir saja jantungku copot karena kamu mengagetkanku. Aku mau mencari ayahku,” jawab Mimin dengan wajah memelas.

“Kamu menyasar?”

No, I’m just.. lost him. Kupikir aku kehilangan Ayahku.”

“Bisa ku bantu?”

“Tidak perlu, lebih baik kamu pulang saja kerumah sebelum petugas kota menjaringmu karena mengira kamu hewan liar. Aku harus pergi ke Pasar Kota sekarang, mungkin saja ayahku terperangkap di sana, atau disekap oleh salah satu pedagang.” Mimin meneruskan langkahnya dan meninggalkan Bibo.

Hey Min, be careful! Hati-hati, temui aku kalau kamu tidak berhasil menemukan ayahmu!” teriak Bibo pada Mimin yang telah jauh berlari.

“Baiklah Bibo,” jawab Mimin tanpa menoleh padanya.

Mimin semakin jauh dari pandangan Bibo. Bibo melihat langkah Mimin yang sesekali tersandung. Setelah Mimin sudah tak lagi terlihat, Bibo pun kembali kerumah.

Sesampainya di ujung jalan kecil yang berliku, Mimin semakin bingung, manusia yang berlalu-lalang lebih ramai. Kemana aku harus melanjutkan langkahku? Mimin berhenti sejenak.
           
***

Nara—gadis delapan tahun itu sedang duduk bersandar di kursi roda. Ia begitu menikmati pemandangan senja dari tepi pantai. Matahari yang akan tenggelam, langit jingga, serta air laut yang mulai surut. Hembusan angin menyentuh kulit Nara dengan lembut. Menjalar ke wajah, dan mengibas rambut indahnya. Ia merentangkan kedua tangannya, lalu memejamkan kedua matanya, kemudian menghirup-hembuskan napas. Ia tersenyum kemudian membuka kedua matanya. Tidak seperti kebanyakan anak-anak sehat lainnya, sudah lima tahun Nara harus duduk di kursi roda karena penyakit Myelitis Transversa (Lumpuh akibat virus yang menyebabkan kelemahan pada kaki) yang dideritanya. Selama itu juga Nara harus menjalani terapi dan pengobatan. Nara tidak bersekolah di sekolah umum, ayah dan ibunya membayar seorang Guru untuk mengajar secara khusus di rumah. Ia tidak pernah malu dengan penyakit yang dideritanya, meski kadang ia merasa iri dengan kebanyakan anak seusianya yang sehat. Kak Badai selalu memberinya semangat. Nara bersyukur memiliki ayah, ibu dan seorang kakak yang begitu menyayanginya.

“Kak Badai, kenapa Matahari selalu tenggelam di sore hari?” tanya Nara yang masih menikmati senja bersama Kak Badai.

“Karena Bumi selalu berputar pada porosnya. Sebenarnya Matahari tidak pernah tenggelam, Nara. Ketika di satu kota mengalami waktu sore, maka di kota lain akan mengalami waktu pagi. Begitulah tugas Matahari sebagai sumber cahaya utama di dunia ini. Ia adil, menerangi seluruh Dunia secara bergantian,” jelas Kak Badai yang duduk di samping Nara.

“Oh begitu,” jawabnya sambil menganggukkan kepala. “Itu berarti, kalau di Kota Makassar ini sore, di kota lainnya pagi. Kalau di Kota Makassar ini malam, di kota lainnya siang. Apa begitu Kak?” lanjut Nara.

“Ya.. kamu benar. Contoh sederhananya di negara kita ini, Indonesia, memiliki tiga perbedaan waktu. Waktu Indonesia bagian Badait, Waktu Indonesia bagian Tengah, dan Waktu Indonesia bagian Timur. Nara tahu? Di tempat tinggal kita—Makassar—matahari akan segera tenggalam, jam menunjukkan pukul lima sore, artinya di Jakarta sebagai Waktu Indonesia bagian Badait, masih pukul empat sore, dan di Papua sebagai Waktu Indonesia bagian Timur, sudah pukul enam sore. Di Jakarta, matahari masih bersinar terang, tapi di Papua, matahari sudah tak lagi bersinar,” jelas Kak Badai.

“Jadi, karena bumi yang berputar, itu menyebabkan terjadinya siang dan malam, begitu Kak Badai?”

“Betul! Kamu sudah pintar Nara. Sekarang, sudah waktunya kita pulang.” Badai tersenyum sambil berdiri dan mengusap rambut adiknya.

“Oke Bos! Oh iya Kak, Nara kepengin deh pelihara hewan. Nara pengin pelihara anak ayam, menurut Kak Badai gimana?” tanya Nara meminta pendapat. Ia terlihat penuh semangat.

“Boleh aja, nanti kita cari yang lucu ya di Pasar,” jawab Badai sambil mendorong kursi roda Nara.

“Beneran Kak?” Nara kegirangan.

“Iya,” jawab Badai.

Badai membantu Nara untuk sampai kerumah dengan mendorongkan kursi rodanya. Di sepanjang jalan, Badai selalu teringat semangat adiknya setiap kali menjalani terapi. Bagaimana wajah Nara yang kecil mungil dan manis itu saat berusaha memijakkan kedua kakinya. Ada semangat yang begitu besar terpancar di wajahnya, namun terkadang ada juga kesedihan yang terselimuti oleh senyumnya. Badai selalu menemukan keduanya pada wajah Nara. Sesungguhnya, telah lama juga ia menantikan bermain sambil berlari dengan adik satu-satunya itu. Badai berharap tahun ini adalah akhir dari pengobatan terapi Nara.

Sudah genap lima tahun, seharusnya Nara sudah bisa berjalan, itulah yang selalu Badai harapkan disetiap malam sebelum tidurnya. Ia selalu memimpikan pergi ke Kebun Binatang bersama Nara, ia ingin mengajak adiknya menonton pertunjukan sirkus hewan-hewan. Badai ingin membahagiakan adiknya. Matahari kini terlihat setengah lingkaran di ujung kaki langit. Angin sepoi-sepoi membuat suasana sendu di hati Badai semakin menjadi-jadi, sedangkan Nara, dengan semangatnya melantunkan sebuah lagu yang sering Badai nyanyikan untuknya.

Airnya turun tidak terkira,
cobalah tengok dahan dan ranting,
pohon dan kebun basah semua..

***

Mimin masih terus mencari ayahnya. Seluruh kios pedagang di Pasar telah ia hampiri secara diam-diam. Pedagang cabai, pedagang beras, pedagang pakaian, pedagang ikan, pedagang daging, dan pedagang ayam, semuanya telah ia kunjungi. Namun, ia belum juga menemukan ayahnya. Mimin terhimpit di antara para pembeli. Ia berusaha menghindar dan bersembunyi di antara kanton-karton bahan makanan. Mimin menyelinap memasuki area kios pedagang rempah–rempah, ia beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga untuk keluar dari pasar kota. Tak ada pilihan lain, aku harus kembali ke peternakan untuk menemui ibu, akan ku cari ayah bersama ibu, pikirnya.

Mimin berlari sekuat tenaga agar tidak ditangkap pedagang ayam. Ia kembali ke Peternakan. Terseok–seok ia berlari, terhimpit, tersandung, jatuh, dan bangun lagi. Air matanya menetes perlahan kemudian menjadi deras, seirama dengan kecepatan larinya, Angin menampar wajahnya. Sepanjang berlari, wajah ayah dan ibunya lah yang ada di kedua pelupuk matanya. Ia merindukan kebersamaan itu. Jika memang melarikan diri adalah hal yang salah dan membuatku kehilangan ayah dan jauh dari ibu, lebih baik aku  menetap di Peternakan, meski pembeli mungkin membeliku dan memisahkan aku dari ayah dan ibu, setidaknya aku memiliki waktu bersama dengan mereka sebelum berpisah, batin Mimin sambil terus berlari.

***

Esok harinya Badai bersama ayahnya pergi ke Peternakan untuk membeli beberapa anak ayam yang ingin dipelihara Nara. Adiknya ingin sekali memiliki peternakan di halaman belakang rumah. Badai ingin memberikan kejutan kepada adik tersayangnya. Sesampainya di Peternakan, Badai memilih anak ayam yang begitu gesit dan penurut. Dilihatnya satu persatu anak ayam yang ada di dalam kandang besi dengan ukuran 9 X 10 meter itu.

Mimin sudah sampai di Peternakan, ia segera mencari sosok ibunya yang terperangkap di dalam kandang. Menyelinap, ia masuk melewati lubang pagar yang tersembunyi di sisi kanan. Setelah berhasil masuk, ditatapnya seluruh sisi kandang peternakan tersebut. Mimin menemukan dua ekor ayam yang sedang bersama di sudut kiri.

“Ayaaaaaah… Ibuuuuuu….,” terik Mimin sambil berlari kearah Ayah dan Ibunya.

Badai memilih seekor anak ayam jantan yang sedang mematuk umpan di tangan kanannya, dan memilih seekor anak ayam betina yang sedang berlari kearah sudut kiri.

“Di sana, Pak!” seru Badai kepada bapak peternak sambil menunjuk kearah anak ayam yang sedang berlari itu. Bapak peternak masuk kedalam kandang dan menghampiri anak ayam itu perlahan. 

Di rumahnya, Nara sedang bersiap untuk kembali menjalani terapi. Sudah satu tahun terakhir ini, Nara mengalami kemajuan yang sangat berarti dari setiap terapinya. Hari ini ia siap untuk memulai langkah pertamanya, hasil akhir dari terapinya adalah bila Nara yakin ia bisa berjalan, maka ia akan kembali berjalan, itulah yang dikatakan Dokter kepada kedua orangtuanya. Perlahan Nara memulai langkahnya, satu… dua… langkah telah ia tapaki dibantu oleh ibunya, Nara yakin akan berjalan kembali hari ini.
 
Badai telah mendapatkan dua ekor anak ayam yang diingkan adiknya. Setelah sampai di rumah, ia melihat Nara sedang berjalan tanpa alat batu. Perlahan, langkah demi langkah Nara sudah bisa kembali berjalan. Suster yang mengawasi terapinya selama lima tahun terlihat sangat kagum dan bahagia. Senyum puas pun tersungging di wajahnya. Nara dan ibunya tertawa bahagia sambil berpelukan, tangis haru hadir di antara mereka. Ibu Nara berulang kali mengucapkan terimakasih kepada Suster. Badai dan ayahnya, terkejut melihat pemandangan indah di hadapannya. Keduanya saling menyeka air mata yang berjatuhan di pipi. Badai mengangkat tangan kanannya yang menenteng box berisi anak ayam pesanan Nara. Nara tersenyum bahagia, ia menangis dan berlari ke arah kakaknya. Diperluknya Badai dengan sangat erat.

***

Setelah satu minggu Mimin tidak berkotek, hari ini ia kembali berkotek. Dengan penuh semangat, Mimin meniru gaya berkotek sang ibu.

“Koteeeek… Koteeeek..,” kotek Mimin begitu keras dan semangat.

Nara terbangun mendengar anak ayamnya berkotek. Perlahan ia berjalan keluar dari kamarnya menuju halaman belakang untuk memeriksa anak ayam miliknya. Perlahan ia mendekati kandang yang dibelikan ayahnya untuk kedua anak ayam itu. Nara bahagia, ia bisa berjalan kembali di pagi yang baru, memelihara hewan yang sangat ingin ia ternak, dan mendengar kotekan pertama ayam peliharaannya.

“Selamat pagi Maman dan Momon.” Nara menyapa dua anak ayam yang sedang mematuk makanan di kandangnya.

Mimin sungguh bahagia. Ia berjanji tidak akan meninggalkan peternakan lagi. Ia tidak akan merengek meminta pergi dari sana kepada ayah dan ibunya. Pagi ini Mimin kembali berkotek di pagi yang baru.


Jakarta, Juni 2016


Z A N