Selasa, 29 Agustus 2017

"...air putih aja, Mba."

Sembilan tahun yang lalu, gue diajak buka puasa bersama dengan teman-teman kecil yang berbadan besar. Maksud gue mereka teman kecil gue yang sekarang telah bertumbuh besar. Rumah kami berdekatan. Itulah yang membuat pertemanan kami sungguh awet selama delapan tahun lamanya (saat itu).

Kejadian ini berlangsung saat kami baru pertama kali mengenal 'buka puasa bersama di mall'. Gue masih tiga belas tahun, dan anak laki-laki itu dua belas tahun. Teman-teman lain sebaya dengan gue dan anak laki-laki itu.

Kira-kira kami bersepuluh memilih tempat makan di salah satu mall wilayah Jakarta Pusat. Kami sepakat memesan menu nasi goreng dengan varian yang berbeda. Ketika Si Mba Pramusaji menanyakan minuman apa yang kami pesan, beberapa kami mengatakan kompak Es Teh Manis. Sedangkan beberapa lainnya memilih minuman rasa buah. Kecuali satu orang, anak laki-laki itu dengan tegas mengatakan "...air putih aja, Mba."

Saat itu bukan hanya gue yang terkejut dengan pilihannya. Tapi sebagai manusia yang beradab, harus menghormati pilihan orang lain bukan? Meskipun jujur saja, gue menanyakan sesuatu padanya, "Lo nggak milih yang lain aja? Di rumah udah banyak air putih, di sini air putih juga?"

Seorang yang lain pun menimpali, kalau tidak salah ingat si anak laki-laki yang berbadan besar dan berkulit gelap. "Yaelah, kalo ke sini minum air putih mah, air keran di masjid aja nanti lo minum."

Anak laki-laki itupun menjawab, "Nggak papa. Air putih aja."

Sebenarnya, gue rada sangsi pada pilihannya. Karena pada daftar menu, hanya menu makanan saja yang disertai gambar. Sedangkan minuman, hanya disertakan harga. Namun, saat itu tidak ada yang mempersoalkan hal demikian. Dan kau tahu? Harga air putih yang dipilih teman gue berkisar lima ribu rupiah.

Mba Pramusaji pun mengantarkan catatan pesanan kami ke table kitchen. Susana saat itu sungguh ramai, mengingat mall di mana pun dan tempat makan apa pun pasti ramai dikunjungi mereka yang hendak berbuka puasa atau sekadar mengisi perut yang kosong.

Sembari menunggu, kami berbincang, berfoto dan saling lempar ejekan.
Kira-kira tepat beberapa menit sebelum azan maghrib, dua orang pramusaji mengantarkan pesanan kami.

Pertama-tama, mereka mengantarkan sebagian minuman. Hingga sampai pada salah seorang dari pramusaji itu mengatakan, "Air putihnya, Mas." Gue dan yang lain pun menatap anak laki-laki itu menahan tawa.

"Kenapa, Bro?" gue hanya bertanya demikian sembari menahan tawa, meskipun gue tahu jawaban dari pertanyaan itu.

Dia tampak mengernyitkan dahinya seperti baru menyadari sesuatu bahwa ternyata air putih seharga lima ribu rupiah itu bukan lah air putih kemasan botol dengan merk ternama dan bukan juga dengan ukuran besar. Melainkan hanya air putih merek biasa, ukuran 300 ml, dan  memiliki harga lima ribu rupiah belum termasuk pajak.

Jangan bayangkan bagaimana ekspresi kami saat itu, tentu saja sudah tak tahan untuk menertawakannya. Terutama gue yang benar-benar duduk di hadapannya. Ingin sekali saat itu gue menyumpah-serapah. "Udah gue bilang kan pilih minuman lain, lo nggak percaya sih." atau "Mending lo puasa minum aje deh sampe entar di rumah. Baru lo minum air putih yang banyak." Tapi, gue tidak setega itu.

Akhirnya beberapa teman pun dengan seenak hati mengejeknya,

"Jadi gimana air putihnya? Enak?"
"Sok tahu sih lo, udah dibilang pilih yang lain."
"Emang, sok milih-milih sih."
"Yang sabar ye, Bro."

Dan masih banyak lagi ucapan yang dilontarkan teman-teman.
Anak laki-laki itu pun hanya berkata, "Anjir, gue kira harga goceng dapat ukuran besar."


- Z A N-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar