Senin, 28 Agustus 2017

Real Life

Kamu tahu apa itu cinta?
Mungkin membosankan untuk sebagian orang membicarakan hal ini.
Cinta, pernikahan, merindukan atau kehilangan. Aku sendiri menyikapinya dengan separuh hati. Terkadang.

Cinta menurutku sebuah rasa yang ada tanpa diminta kehadirannya. Ia tidak pernah mengharapkan profit dari semua yang ia berikan. Seharusnya sih seperti ini idealnya.
Cinta bukan benda. Ia tidak berwujud dan tidak berwarna. Salah jika ada yang menggambarkan dan menyimbolnya dengan sebuah bentuk berwarna.

Omong-omong, tidak selamanya cinta berakhir dengan pernikahan. Ada juga yang berakhir pada perpisahan yang hakiki.

Aku teringat pada seorang Dosen yang mengajarkan kami soal cinta. Beliau mengatakan, "Apabila kamu merasa terlalu banyak berkorban.  maka sesungguhnya dirimu belum cukup untuk mencintai."  Aku tertegun kala mendengar pepatah itu. Darimana Pak Yoga tahu soal cukup atau tidaknya dalam mencintai? Apakah beliau telah mengalaminya? Atau beliau menemukan kalimat tersebut dari sebuah buku? Hingga hari ini aku masih dengan penasaran yang berkutat dalam kepala tentang ucapan Pak Yoga empat tahun yang lalu.

Mereka (sebut saja cinta) ribut.
Saling menunjuk bahwa dirinya lah yang paling banyak memberi keikhlasan atas sebuah pengorbanan.
Berdasarkan dari yang diucapkan Pak Yoga, selain menganggap telah banyak berkorban, maka menganggap telah melakukan segalanya dengan ikhlas kepada seseorang yang dicintai, rasanya hal itupun belum pantas dikatakan cukup mencintai.

Mengaku banyak pengorbanan, mengaku banyak mengikhlasakan, mengaku banyak menangis, mengaku banyak menanggung beban. Mungkin awalnya kamu tidak mengatakan hal-hal itu pada siapa pun. Namun, saat kamu situasi yang memaksamu untuk mengatakannya, maka...  kamu belum cukup untuk mencintai.

Lalu bagaimana dengan pernikahan?
Aku merasa lucu saat membicarakan hal ini. Banyak orang yang terlalu ribut menanggapi hal ini dan banyak juga orang yang kebakaran jenggot ketika melihat orang lain excited dengan hal ini.

Seringkali aku berpikir, apa untungnya menunjuk orang lain atau menyalahkan mereka yang terlalu excited dengan sebuah pernikahan? Itu hak orang lain bukan? Setiap manusia merdeka dengan pemikirannya masing-masing selagi itu tidak merugikan diri orang lain. Come on, Dear.

Selain itu, ada juga yang terlalu santai menanggapi sebuah pernikahan. Oke, aku sangat apresiasi dengan manusia macam pensil inul ini. Lentur. Tidak kaku. Pikirannya terbuka dengan hal-hal di sekitar dan menghargai persepsi orang lain. Kurasa di balik semua itu, orang - orang semacam ini lebih banyak merancang sebuah impian hidup yang besar dan berusaha mewujudkannya.

Aku tidak tahu sebenarnya ke mana arah tulisanku kali ini. Tapi satu hal yang aku tahu, aku hanya sedang berusaha berpikir realistis. Mengambil persepsi-persepsi dari sebagian manusia yang menghirup napas di bumi ini.

Bukan.. bukan. Aku tidak mendikte siapa pun. Namun, aku teringat pada satu hal. Aku pernah membaca sebuah buku di mana sang penulis memiliki persepsi yang sama denganku soal pernikahan.

"Pernikahan bukan hanya soal aku atau kamu. Melainkan juga soal keluargaku dan keluargamu." Ini pemikiranku tiga tahun yang lalu, dan sang penulis itu menuangkannya di dalam sebuah buku yang kubaca beberapa bulan lalu. Hebat. Ternyata masih banyak manusia idealis yang realistis di kaki langit ini. Namun, sayangnya.. orang - orang dengan pemikiran semacam ini terlalu hati-hati. Mereka akan mempertimbangkan tipe ideal yang cocok dengan dirinya juga kedua orangtuanya. Sayangnya, yang seperti ini justru dikatakan tipe pemilih. Hahahaha. Aku memang sok tahu, maafkan. *wing

Merindukan?
Apa pentingnya merindukan? Boleh saja kalau merindukan kedua orangtua atau siapa saja yang sangat kita sayangi. Namun, merindukan seseorang yang membuat kita lemah? Kurasa ini hanya akting. Karena, ketika rindu itu terbalas tidak jarang orang yang merindukan menjadi sangat berbahaya atas rindunya. Dan, orang yang dirindukan akan semakin merasa besar kepala karena merasa sangat dicintai. Tunggu... ini hanya pemikiranku saja setelah melihat keadaan remaja masa kini. Kurasa soal merindukan dan dirindukan hanya mereka yang telah berkeluarga yang lebih memahaminya.

Segini saja tulisan kali ini. Dari awal sampai akhir, sepertinya aku memang anak tengil yang sok tahu. Tenanglah... kalau kamu merasakan apa yang kutulis salah, maka luruskan lah aku dengan pemikiran-pemikiranmu. *wing

Ah iya, satu lagi.
Kamu tidak akan merasakan arti dari sebuah kehidupan, jika kamu belum merasakan betapa rumitnya kehidupan di dasar bumi ini.


- Z A N -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar