Jumat, 15 September 2017

170116

Tiba pada satu waktu. Pada langkah yang harus terhenti dan tak tahu ke mana lagi. Mungkin tetap pada Tuhan. Itu saja. Lalu, kau enggan melangkah kemudian. Aku pun begitu.

Aku pernah bersalah. Bersalah pada masa lalu yang kuremehkan. Kubiarkan ia ternodai dengan ketidakpastian. Bertahun aku menata kembali, hingga aku bertemu dengan seseorang yang tak pernah kuduga. Kau.

Hari itu, entah bagaimana caranya kau bisa menemukanku di sebuah laman. Sampai pada percakapan awal kita di hari Minggu. Aku di Jakarta. Kau di sana. Dua tempat yang menjadi saksi awal perkenalan kita.

Aku menggila, memang itu kekonyolanku. Teman bilang, isi kepalaku memang rada-rada. Dan ternyata kau tak masalah dengan itu. Aku lega.

Satu hari, dua hari, tiga hari. Aku pun tahu suatu hal buruk yang menimpamu beberapa bulan sebelum hari Minggu itu. Aku bisa apa? Nyatanya, aku tak bisa melakukan apa-apa. Selain dari yang aku bisa; menyemangatimu layaknya seorang teman, dan menemani hari-hari sepimu.

Seorang teman. Ya, awalnya... kupikir akan selalu dan tetap begitu.

Kepergianmu ke Puncak 3.726 mdpl membuat semuanya berbeda. Kesederhanaanmu entah bagaimana ia bisa membuatku meruntuhkan sedikit pertahananku. Seperti menemukan kunci baru dalam rumah yang telah lama ditinggalkan yang terkunci rapat-rapat.

Aku... merasakannya.
Saat itu, aku tahu kau pun juga merasakannya.
Kita hanya diam, tak melakukan apa-apa.

Aku menyombongkan setiap gambar yang kau beri padaku. Aku hanya merasa... kesederhanaan itu membuatku bahagia.

Kita pernah berselisih. Aku pernah melakukan salah. Kau juga, menurutku. Tapi kita mampu bertahan dengan cara masing-masing.

Ke mana pun jejak langkahmu, kau selalu menempatkan namaku. Aku hanya tidak percaya kau melakukan itu. Berkali-kali aku berpikir, bahwa tidak mungkin itu cuma aku. Aku sadar, aku bukan seorang manusia yang layak untuk seorang sepertimu.

Berkali-kali aku berpikir demikian. Berkali-kali aku berusaha menghindar dan melupakanmu. Membiarkanmu bebas bertemu wajah-wajah baru. Hati baru. Namun, kau datang lagi dan melakukan kesederhanaanmu untukku. Aku kembali lagi padamu. Selalu. Seperti itu. Lagi. Kepadamu.

Aku meyakini semua ini yang terbaik. Namun, aku lupa... kalau hati tak bisa ditampik. Aku, masih tidak bisa melupakan, lalu merelakanmu. Adakah kau juga begitu? Semoga tidak. Ingatlah, aku hanya seorang yang seperti ini. Aku selalu ingin kau menemukan hati baru yang bisa membuatmu lebih baik. Tapi, jika kau tak bisa... aku juga tak menutup kembalinya dirimu.

Mungkin menurutmu aku berbeda. Ketahuilah, aku tetap manusia yang sama dengan manusia lain. Aku hanya merasa, tidak mungkin hanya aku yang ada di dalam hari-harimu. Karena itu selama ini aku berusaha diam. Sekali lagi, karena mungkin saja aku yang terlalu berangan tentangmu. Bukan aku tidak percaya pada hatimu, hanya saja... mungkin aku terlalu tak berani.

Kepadamu,
Tetaplah tegak pada pendirianmu. Jajaki setiap langkah yang ingin kau tandangi. Bawa namaku ke mana pun dan seberapa banyak kau mau. Aku selalu bahagia menerima itu.

Kepadamu,
Sehatlah selalu. Wujudkan satu persatu impian yang telah kau rangkai. Impian yang pernah kau katakan padaku. Impian, yang aku percaya kau mampu menebusnya.

Kepadamu,
Berserahlah kepada Tuhan untuk memberikan keputusan terbaik kepada dirimu, maupun aku.

Kepadamu,
105971, aku...


Jakarta, 15 September 2017


Z A N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar