Selasa, 12 September 2017

"Ngapain kamu di sini?"

Menjelang subuh kala itu. Kira-kira bulan ramadhan 2014. Biasanya, pimpinan NGO tempat gue bekerja mengajak seluruh anak asuhnya untuk melaksanakan ibadah subuh berjamaah.

Subuh kali itu hari kesekian kami mengadakan rapat nasional di sebuah hotel bilangan Jakarta Pusat. Seorang pemuda usia tiga puluhan duduk di sebuah kursi dekat ambang pintu masuk. Gue yang saat itu berjalan beriringan dengan ibu asuh kandung di kantor dan ibu pimpinan NGO (sebenarnya ramai sih, ada beberapa rekan dari beberapa penjuru wilayah indonesia) menuju sebuah aula yang kami gunakan untuk melaksanakan subuh berjamaah, melihat pemuda itu dari jauh dengan sedikit ingin menertawakannya. Pemuda itu menyelimuti tubuhnya mulai dari kepala hingga lengan dengan handuk besar yang ia dapat dari kamarnya.

Bukan hanya gue yang saat itu ingin menertawakannya. Pasalnya, hampir semua ibu-ibu juga mba-mba di sekeliling gue saling berbisik ingin tertawa melihat kelakuannya. Kami sudah hapal betul karakter pemuda itu yang tak luput dari tingkah langkanya. Gue sendiri mengakui, tidak ada yang tidak tertawa saat pemuda itu menjalankan aksinya.

Singkat cerita, kami tiba di ambang pintu. Pemuda itu masih menyelimuti sekujur tubuhnya dengan handuk putih dan masih duduk di sana. Ibu asuh gue di kantor bertanya padanya, "Ngapain sih?"

"Dingin, Bu," jawabnya.

Lalu, ibu pimpinan NGO bertanya, "Kamu nggak ikut ambil wudhu, ***? Ngapain kamu di sini?"

Pemuda itu pun menjawab dengan santai di hadapan ibu-ibu dan mba-mba tanpa melepas handuk di tubuhnya, "Saya penjaga pintu surga. Jadi silakan ibu-ibu masuk menuju surga."



Jakarta, 12 September 2017


Z A N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar