Selasa, 14 November 2017

Ayah

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat aku meracaumu yang sedang mengerjakan sesuatu. Kau bilang aku sungguh cerewet. Apa pun yang kulihat pasti kutanya padamu. "Ini apa, pak?", "Yang ini apa?", "Apa tuh?", "Yang ini buat apa, Pak?" dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kau pun menjawab segala pertanyaanku dengan sabar.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kita bermain layang-layang bersama. Kau ajarkan aku dan abang menerbangkan layang-layang dengan baik. Kau buatkan layang-layang untuk kami dengan berbagai bentuk yang ada dalam imajinasimu. Cowboy, burung garuda, kupu-kupu, dan masih banyak lagi. Di atas genting canda tawa itu masih terus ada dalam ingatanku.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kau mengajarkanku membaca iqro. Aku mengenal huruf-huruf arab itu hingga aku mampu melantunkannya sampai di usia ini.

Ayah...
Masih sangat lekat kenangan masa-masa silam. Saat kau mengantarku berangkat sekolah. Saat kau mengajakku ke kantormu. Saat kau membantuku membuat tugas sekolah. Saat kau mengajarkan segala macam. Saat kau marah padaku. Saat kau panik atas luka yang ada di kaki kananku (bahkan bekasnya masih ada sampai saat ini).

Ayah...
Apa yang kau pelajari saat muda dulu?
Aku anakmu. Hanya mampu berkata sok kuat pada orang-orang ketika mengingatmu. Namun, siapa yang mengira kalau apa yang kau lakukan sangat banyak melekat dalam pikiranku?

Ayah...
Kau pasti masih ingat masa-masa kau mengajakku bermain burung merpati bersama. Kau melepasnya, sedang aku menunggu di rumah untuk menjemput sang jantan tiba kembali di rumah bersama betina. Kadang ibu juga bermain bersama kita.

Ayah...
Tahukah kau mengapa aku lebih ingin kau yang berdiri di depan sana saat aku menerima penghargaan yang tak seberapa itu?
Aku ingin membanggakan ayahku. Aku ingin mengatakan kepada dunia bahwa aku punya seorang ayah yang hebat. Aku ingin mengatakan, bahwa tak ada laki-laki di dunia ini seperti dirimu.

Ayah...
Bagaimana aku bisa menemukan teman hidup nantinya? Sedang dengan adanya dirimu aku mampu belajar dan menemukan banyak hal baru yang belum didapatkan oleh banyak anak seusiaku.

Ayah...
Tetaplah sehat. Takkan ada habisnya aku membanggakan dirimu. Aku bersyukur pada Allah telah menjadikanku sebagai anakmu. Dan dilahirkan oleh wanita terhebat di dunia ini, Ibu; istrimu.

Allah...
Terima kasih telah mengizinkanku memiliki orang tua yang sangat berharga.


Jakarta, 14 November 2017

Z A N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar