Selasa, 11 September 2018

Mengunjungi Si Karang yang Numpang

Pagi, Bloggers!
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1440 H, semoga Allah selalu memberkahi usia kita.

Hari ini gue akan berbagi sesuatu pada kalian. Apa itu?

Sesuai dengan yang gue janjikan kemarin, gue akan berbagi pengalaman saat mendatangi Gunung Karang Numpang. Gunung Karang Numpang merupakan gunung kecil yang berdiri kokoh di Sukabumi, Jawa Barat.

Berdasarkan kesaksian seorang pedagang di wilayah GKN, sejarah nama Karang Numpang berasal dari sebuah batu karang yang telah dibawa turun ke desa, tetapi esok harinya batu tersebut telah merekat pada batu karang lain di puncak gunung. (lho, kok bisa? batunya dibawa naik lagi? eh, gimana sih? batunya pindah sendiri?)😓

Wujud dan posisi batu karang tersebut pun unik, di esoknya itu sudah seperti sebuah benda yang menepi di meja dan sebagian sisinya tak beralas. Kalau kamu sentuh sedikit, benda itu akan jatuh. Namun, beda halnya dengan Karang Numpang.

Nah, untuk tahu sejarah lengkapnya kalian bisa browsing atau langsung terjun ke lokasi untuk mengabadikan kisah dan merasakan kenikmatan alam di sana.

Sebagai informasi, akses dari Bogor menuju Karang Numpang menurut gue susah-gampang.

Jadi, kalau kalian ingin menggunakan KRL, baiknya kalian sudah tiba di Stasiun Bogor Paledang pukul 07.30 (maksimal, tiba langsung boarding). Dan, pesanlah tiket kereta sejak jauh hari, karena unit kereta Bogor - Sukabumi masih terbatas.

Jangan seperti gue yang tertinggal kereta. Tepat pukul 07.50 gue baru tiba di Stasiun Bogor, sementara kereta Bogor Paledang baru saja berangkat. Akhirnya gue mencari alternatif akses dengan bertanya ke salah satu pedagang di sekitar Stasiun.

Angkot hijau 03 mengantar gue sampai di Terminal Baranangsiang, dari sana sebuah Elf putih telah terparkir.
Setelah membayar ongkos Rp 30.000 dengan tujuan akhir Terminal Sukabumi, gue naik Elf tersebut dan turun beberapa ratus meter dari alun-alun Cisaat.

Sepanjang perjalanan dengan Elf, agak panas dan bosan karena ternyata supir yang mengantar kami (gue dan penumpang lain) adalah Calo dan kami sempat diturunkan di tengah jalan (di sekitar Cibadak - Karang Tengah). Kami diajak berputar-putar, mengitari gunung hingga tiba di persimpangan jalan menuju alun-alun Cisaat pukul 12.00 sejak pukul 08.30 waktu keberangkatan. Padahal sebenarnya kalau si supir bukan Calo, gue bisa tiba di lokasi tujuan pukul 10.30, maksimal 11.00.

Akhirnya setelah benar-benar turun dari elf,  gue melanjutkan perjalanan dengan angkot bernomor 08 (kalau gak ssalah) dan turun di Masjid dekat Stasiun Cisaat. Masjidnya bagus, asli! Gue betah berdoa lama di dalam sana, adem banget.

Di sana gue ketemu dengan seorang teman pemandu asli Cisaat. Namanya Zalfa, gue kenal dia di salah satu platform chatting dalam komunitas literasi.

Setelah beberapa teman Zalfa tiba di Masjid, kami pun langsung menuju Karang Numpang menggunakan ojol mobil. Lokasi Karang Numpang sendiri cukup dekat dari Stasiun Cisaat, hanya 20 menit waktu perjalanan dan dilanjut dengan mendaki beberapa meter.

Trek pendakian cukup mudah; jalan landai dan sedikit berbatu. Sayangnya, Karang Numpang ini sangat kering. Banyak pohon yang tumbuh tanpa daun sehingga di sekitar jalur pendakian tampak gersang.

20 menit berikutnya tibalah kami di hadapan si batu karang yang numpang. Lama gue menikmati sapaan angin dan udara gunung merasuk ke dalam diri. Meresapi pesan yang Tuhan sampaikan melalui ciptaannya itu.

Setelah 60 menit bercengkrama dengan alam, membuat vidio kenangan, berswafoto, barulah kami turun. Di sebuah warung kecil di kaki Karang Numpang gue berbincang dengan si ibu pedagang mengenai sejarah Karang Numpang, aktivitas warga dan pengunjung di sana, juga tentang monyet-monyet yang berkeliaran mengusili pengunjung di petang hingga malam hari. Kemudian kami kembali ke Stasiun Cisaat setelah 45 menit berbincang dengan si ibu.

Akhirnya saat pulang gue gak tertinggal kereta, kira-kira pukul 15.50 gue sudah duduk tenang di kursi 15A. Dan, Kereta Pangrango pun tiba di Stasiun Bogor Paledang pukul 17.45. Gue berjalan kaki hingga Stasiun Bogor, mengusaikan ibadah maghrib, kemudian menaiki kereta Bogor - Jakarta.

Alhamdulilah perjalanan usai setelah tiba di rumah pukul 20.30 malam.

Nah, Bloggers!
Sampai di sini dulu kisah perjalanan gue mengunjungi Sukabumi, masih ada yang ingin gue ceritakan tentang keseruan mengunjungi salah satu wisata terkeren lainnya di Sukabumi. Tunggu cerita selanjutnya di sini, ya! Dan kalian, cobalah untuk membahagiakan diri dengan cara yang belum pernah kalian lakukan; tidur dalam bus elf yang pengap sambil pakai masker misalnya? Gue bisa lhooo😅

Sampai bertemu di petualangan berikutnya....



Jakarta, 11 September 2018

Z A N




Tidak ada komentar:

Posting Komentar