Reading Assignment : Lingkungan Jauh dari Sisi Politik dalam Bisnis

Lingkungan jauh pada lingkungan bisnis didukung oleh beberapa faktor eksternal diantaranya faktor sosial, faktor ekonomi, faktor politik, faktor teknologi, dan faktor industri. Faktor-faktor tersebut dikatakan sebagai faktor jauh karena faktor tersebut bersumber dari luar organisasi dan biasanya timbul dari situasi operasional yang dihadapi oleh perusahaan yang bersangkutan. Menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian, MPA dalam Manajemen Strategik (2018:72), jika partai politik yang sedang berkuasa memperoleh kepercayaan lagi menjalankan roda pemerintahan negara pada kurun waktu berikut, bagi sebagian usaha relatif lebih mudah untuk memperkirakan langkah-langkah dan kebijaksanaan apa yang akan diambil berdasarkan pengamatan pada waktu yang sedang dilalui. Artinya diharapkan bahwa tidak akan ada perubahan yang drastis dalam gaya para pengambil keputusan di lingkungan pemerintahan negara, termasuk keputusan dan kebijaksanaan di sektor ekonomi, moneter, fiskal, perdagangan dan industri. Yang sangat mungkin terjadi ialah melanjutkan dan memantapkan berbagai kebijaksanaan tersebut tidak timbul gejolak politik di luar wilayah kekuasaan negara yang sangat mungkin melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu, misal karena pertimbangan hubungan bilateral dan multilateral yang harus dipelihara sedemikian sehingga kepentingan nasional negara tersebut tetap terjamin.
 
Lain halnya apabila terjadi pergantian pemegang kendali kekuasaan. Artinya, jika partai politik yang sedang berkuasa kalah dalam pemilihan umum, partai politik yang menang tentunya mengambil alih kekuasaan dengan implikasinya. Memang tidak mustahil bahwa partai politik yang menang pemilihan umum itu mungkin saja melanjutkan berbagai kebijaksanaan telah ditempuh oleh para pengambil keputusan politik yang digantikannya. Meskipun dengan memperkenalkan perubahan-perubahan yang bukan fundamental. Jika kondisi demikian yang terjadi , maka dunia bisnis dapat pula melanjutkan berbagai keputusan yang mereka buat dalam mengelola perusahaan. Situasinya akan berbeda apabila penguasa baru melakukan berbagai perubahan yang sifatnya mendesak, mau tidak mau para pengambil keputusan stratejik dalam dunia bisnis, baik dalam arti keseluruhan maupun dalam arti mikro—yaitu pada tingkat perusahaan harus melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu.

Menurut Sampurno dalam Manajemen Stratejik : Menciptakan Keunggulan Bersaing yang Berkelanjutan (2013:58), di samping itu faktor politik juga sering dihubungkan dengan faktor hukum. Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa undang-undang beserta peraturan-peraturan hukum lainnya dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang anggotanya notabene adalah wakil rakyat yang terdiri atas sekelompok orang atau individu di negara ini. wakil-wakil rakyat tersebut biasanya adalah anggota partai politik tertentu yang memiliki tujuan serta keinginan tertentu. Meskipun anggota secara resmi dipilih oleh rakyat, karena mereka juga umumnya mewakili partai politik tertentu. Dalam kaitan iniilah faktor politik terkait dengan faktor hukum dan sebaliknya. Merekahlah yang membuat undang-undang atas dasar peraturan-peraturan pemerintah lainnya.

Undang-undang atau hukum yang berlaku dapat menghambat kegiatan para manajer perusahaan atau organisasi; dengan demikian, dapat menciptakan peluang atau ancaman bagi organisasi atau perusahaan. Faktor politik juga menetapkan batas legal serta pengaturan dalam batas ruang. Hambatan-hambatan politis juga dapat berupa peraturan tentang upah tenaga kerja, polusi udara, penentuan harga, dan lain-lain. Namun, karena undang-undang serta peraturan-peraturan membatasi gerak perusahaan, ia juga akan meningkatkan biaya operasi perusahaan.

Salah satu faktor yang berperan dalam keberlangsungan perusahaan sebagai organisasi bisnis adalalah lingkungan politik. Lingkungan politik menyangkut banyak hal yang mana harus dapat diantisipasi oleh perusahaan agar tidak terjadi sesuatu yang berdampak fatal bagi perusahaan. Lingkungan politik bisa menyangkut politik keamanan bisa juga menyangkut politik hukum (polical-legal). Untuk itulah, seorang top manajer yang handal tidak hanya menguasai pengetahuan soal bisnis saja tetapi juga harus memahami lingkungan-lingkungan perusahaan yang salah satunya lingkungan politik. Ketika terjadi kerusuhan pada bulan Mei 1998 di Jakarta maka dampaknya bukan hanya menyebabkan aktivitas bisnis di Jakarta lumpuh selama beberapa pekan tetapi yang lebih jauh para investor asing menjadi takut berinvestasi di Indonesia khususnya di Jakarta. Mereka tentu bertanya-tanya apakah kejadian seperti itu akan terulang lagi di masa mendatang. Apalagi kepemimpinan nasional sudah berpindah dari tangan Soeharto sehingga pertanyaan berikutnya apakah pengganti Soeharto dan yang berikutnya mempunyai kemampuan untuk mempertahankan tingkat stabilitas politik seperti jamannya Soeharto. 

Lingkungan politik juga menyangkut tentang sistem politik yang dianut oleh suat negara. Negara Republik Indonesia (RI) menganut ideologi Pancasila yang tentu saja ideologi tersebut akan berpengaruh kepada semua bidang kehidupan di negara RI. Masalahnya apakah sistem ekonomi Indonesia juga menganut sistem ekonomi Pancasila? Salah satu ciri ekonomi Pancasila menurut Mubyarto (1993:39), dalam sistem ekonomi Pancasila, koperasi merupakan sokoguru perekonomian. Rasanya koperasi belumlah menjadi sokoguru perekonomian di Indonesia sehingga banyak pakar lebih setuju bahwa azas perekonomian Indonesia lebih condong kepada kapitalisme. Hal tersebut dapat dibuktikan sebagai berikut :

1. Bisnis di negara RI praktis menganut prinsip persaingan pasar. Hampir semua sektor bisnis terbuka lebar bagi siapapun untuk terjun ke bisnis kecuali untuk sektor tertentu seperti listrik dan kereta api yang masih dimonopoli negara.

2. Adanya konglomerasi di Indonesia yang memunculkan konglomeratkonglomerat.

Indonesia memiliki banyak konglomerat yang mulai muncul pada jaman pemerintahan Soeharto. Dulu ada Liem Sioe Liong (Sudono Salim), pemilik Salim Group (Bank BCA, Bogasari, Indofood ), Eka Tjipta Widjaja, pemilik Sinar Mas Group (Sinar Mas, Tjiwi Kimia, Bank BII), Prayogo Pangestu, pemilik Barito Pacific Timber, Bob Hasan, raja kayu lapis dan pemilik Bank Umum Nasional, Bambang Trihatmodjo.

Dari penjelasan tersebut di atas mengenai Lingkungan Jauh dalam faktor politik, penulis mengajak pembaca melihat bersama-sama yang terjadi saat ini dalam dunia perbankan. Nyatanya, pada msa politik saat ini tidak sedikit para investor merasa ragu untuk menitipkan investasinya pada perbankan. Entah dalam bentuk saham, obligasi, atau investasi lainnya. Menurut Senior Vice President PT Bank *** Indonesia, Tbk, Bapak YJ ketika berkesempatan menjadi Dosen Tamu di kelas Pascasarjana Manajemen Universitas YARSI beliau mengatakan, tidak sedikit para investor yang ragu untuk menahan investasinya di perbankan. Dalam mengatasi hal tersebut, PT Bank *** Indonesia, Tbk berupaya melakukan kerjasama antara perbankan dengan bisnis usaha kuliner. Mengoptimalkan fintech menjadi pilihan alternatif perbankan menghadapi faktor politik saat ini yang kebetulan bersandingan dengan maraknya fintech yang begitu pesat.
 
Di sisi lain, dapat kita jumpai juga Bisnis Pertambangan di Kalimantan yang sempat viral di detik-detik sebelum pemilihan umum beberapa waktu lalu. Sebuah vidio yang diharapkan dapat membuka pikiran masyarakat Indonesia sebelum melakukan pemilihan justru menghasilkan berbagai argumentasi yang berbeda. Pembuat vidio sendiri sempat dilaporkan. Namun, yang dapat kita ambil adalah berkat film dokumenter Sexy Killers tersebut, tidak sedikit juga menghasilkan pemilih golongan putih pada periode ini. Persepsi yang muncul di kalangan masyarakat mendorong mereka untuk tidak memilih keduanya, sehingga timbul beberapa pemegang saham dari bisnis pertambangan tersebut yang dilaporkan kepada pihak kepolisian. Sayangnya, hal tersebut tidak berujung pada proses hukum melihat hasil perhitungan sementara KPU dimenangkan oleh petahana. Inilah yang dimaksud dengan poin ‘apabila pemegang kuasa tidak berganti’, maka yang terjadi adalah kebijakan sebelumnya lebih dimantapkan dan dilanjutkan.


*Di susun pada 18 Mei 2019 sebagai pemenuh tugas.
Zulfha Asmar N. (Zan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rayuan Senja

Ujung Genteng - Part 1

Mengunjungi Si Karang yang Numpang