Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Ekspektasi

Begitu banyak pertanyaan dalam benak yang sebetulnya gak perlu dicari jawabannya. Seperti ketika ingin sekali makan es krim di usia satu tahun, lalu bapak dan ibu berkata, "udah ya, sedikit aja ... nanti batuk." Akhirnya ketika beranjak usia baru kita tahu, kalau fisik saat itu memang masih terlalu lemah. Beranjak tambah usia makin banyak ekspektasi yang dibuat. Begitu percaya diri pada pencapaian yang akan diraih, pada ekspektasi yang sudah disusun. Kalau aja kita menyadari, saat itu ego sedang memenangkan diri. Padahal kita tahu, sebaik-baik perencana itu hanya Allah. Jadi, berhentilah berekspektasi dan teruslah belajar dari sudut pandang orang lain. Dari sana, jawaban-jawaban itu akan datang. Allah yang akan tunjukkan. Selamat berkilas balik sepanjang 2020.

Pilihan

Mungkin kita terlalu sibuk pada pencapaian diri sendiri. Terkadang sampai lupa menanyakan apa yang sedang dialami orang sekitar, meski barang sekali saja. Mungkin kita terlena pada apresiasi yang didapatkan baru-baru ini. Lingkungan yang menyenangkan, kawan yang setia, atau ... cinta yang kita anggap apa adanya. Seringkali manusia jadi puitis tiba-tiba saat hatinya resah, sesekali mereka menuliskan kisah romantis menyaingi pride and prejudice. Sambil senyam-senyum ia bayangkan adegan dari tulisannya. Mungkin, sebetulnya kita lemah ... lemah pada pendirian kita sendiri. Lemah pada keyakinan yang terus bergejolak. Lemah pada hal-hal yang kita anggap mustahil. Lemah ... pada saat hati merasa jatuh. Terkadang, kita gak butuh bertemu untuk mengakui cinta. Seringkali, pertemuan mengartikan kesalah pahaman.  Kita hanya perlu mengakui pada diri sendiri. Jujur. Terakhir, kita hanya perlu memaafkan masa lalu, tanpa perlu merasa bersalah pada keputusan yang dulu kita pilih.

How to Make a Change?

Bagi sebagian orang, mungkin perubahan itu mengejutkan, menjadi sesuatu yang asing. Entah akan timbul sebuah rasa kagum atau sebuah tanda tanya dalam benak. Seperti hal-nya murid SD yang dulunya pernah tinggal kelas, sekolahnya tak pandai, lantas ketika beranjak dewasa dia malah punya kedai kopi. Ada juga yang dulunya korban bullying , ketika dewasa justru jadi public figure. Ini menarik! Semua ini tentang bagaimana kita memilih jalan kehidupan dan mengenal kekurangan serta kelebihan dari yang kita punya. Banyak orang yang mungkin memimpikan sebuah perubahan, namun mereka gak punya kemampuan melakukan itu. Bukan kekuatan yang mereka perlukan, kalau mereka tahu. Cukup kenali kekurangan diri dan penuhi dengan kelebihan yang dimiliki. Kita mungkin sering mendengar para influencer atau ilmuwan ketika berbagi soal kehidupannya. Banyak dari mereka yang masa kecilnya bukanlah apa-apa. Kini, saatnya kita yang membuat perubahan itu. Tanpa harus sibuk dengan perubahan orang lain. How to make a c

Pendidik yang Arif

Waktu sekolah di tingkat Atas, gue gak berani mendebat argumentasi para guru. Menurut gue, apa yang mereka katakan adalah suatu hal mutlak. Naik jenjang satu tingkat, berlagak sok pintar pun gue lakukan. Banyak bertanya, banyak mendebat, sok idealis, padahal plegmatis! Naik ke jenjang berikutnya, masih berlagak sok paling benar, paling tahu, sok mendebat, padahal pengetahuan terbatas. Bukan ingin dilihat, tapi orang lain melihat! Mendebat dosen, melawan argumen, merasa lebih pandai! Berlagak sok paling tahu! Sampai suatu waktu, dosen-dosen yang didebat itu, menjadi pembimbing di perjuangan akhir. Memberikan semua ilmunya pada seonggok otak dan hati yang masih kopong! Memperjuangkan agar si murid mampu menyelesaikan misi dan tercapai tujuannya. Teruntuk kedua pembimbing yang dulu sering saya bantah di kelas, sering saya sok paling pintar, saya ucapkan terima kasih, pak! Terima kasih sudah menjadi pembimbing terbaik! Sabar dengan saya dan gak menyerah! Mohon bimbing saya lagi sampai tesi

Kullu ma Qadarullah Khair

Tahun lalu bisa dibilang sebagai tahunnya gue belajar banyak hal. Memasuki perkuliahan pasca, kenal dan mulai chatting sama foreigners dari aplikasi Tandem, mengenal diri sendiri sebagai si feeling, terbitin buku puisi bareng teman, main ke yogya sendirian (di sana ada temen sih), lebih memahami stuktural lembaga dan pola kerja, jualan cokelat bareng teman (mulai dari produksi, marketing, paking, ngirim, belanja bahan baku, semua dilakukan bareng-bareng) Kecuali foto dan desain produk (pake pihak kedua) Tahun lalu, benar-benar tahun penentu buat gue. Bayangkan, Gimana kalau di tahun itu gue gak penasaran sama Tandem? Gimana kalau di tahun itu gue gak mulai perkuliahan pasca? Gimana kalau di tahun itu gue gak ikut jualan cokelat? Gimana kalau di tahun itu gue batalain berangkat ke Yogya? Gimana kalau di tahun itu gue resign? Gue yakin pasti rugi! Maka itu, gue sangat bangga dengan seluruh kehidupan gue di tahun lalu. Alhamdulillah. Kullu ma qadarullah khair Kalau kamu, gimana proses be

Semoga Sehat Selalu

Bercerita adalah solusi terbaik untuk meredam emosi. Cerita soal rasa, soal pikiran, soal situasi. Aku pernah bicara soal situasi pada beberapa kawan yang aku percaya. Sedikitnya ada tiga orang, dan mereka baru mengenalku satu-dua tahun belakangan ini. Aku cerita soal mimpi-mimpiku. Harapanku. Tujuan hidupku. Hingga segala yang aku miliki sampai saat ini. Aku gak pernah berharap mereka akan tersentuh, tapi memalukannya mereka semua hampir menangis mendengar ceritaku. Aku bisa lihat ke dalam mata-mata mereka. Si gadis berkacamata dengan kerudung panjang khasnya. Si gadis perawat yang sebentar lagi akan menikah. Serta si terapis autis yang sangat dewasa. Aku belajar banyak dari mereka. Mereka sangat mampu mensyukuri hidupnya. Mereka yang pernah jatuh, sakit keras, terombang-ambing. Sedang aku, hanya segini saja sudah menceritakan seolah telah banyak yang aku perjuangkan. Malu. Mereka sungguh lebih besar perjuangannya dariku. Sebelah mata. Orang lain memang seringkali begitu terhadap pand

Berubah

Lima tahun lalu gue paling takut yang namanya naik gojek/grab. Takut disasarin abangnya lah, takut dimutilasi tengah jalan, takut dibegal. Gara-gara rasa takut itu, gue selalu balik kuliah malam pakai bajaj (kalo gak ada temen bareng yang searah atau saat abang gue gak bisa jemput). Sampai suatu hari, gue harus balik dari kampus jam 11 malam, dan temen-temen gak ada yang searah (ada sih, dia yang selalu gue tebengin selama empat tahun kuliah, dan saat kejadian itu dia lagi gak bawa motor). Akhirnya, for the first time I were be brave to get back with gojek! Cemen banget gak sih? Sekarang, gue kemana-mana udah paling sok banget pakai gojek, pas lagi mau ringkes atau tempat tujuannya gak dilalui transjakarta. Lingkungan terus berubah, atmosfernya berubah, pergerakan bumi terus berubah, perekonomian berubah, politik berubah, ilmu kesehatan selalu berubah, riset banyak sekali yang terbaru, teknologi apa lagi, banyak yang terbarukan. Semua benda mati berubah. Kita? Manusia. Makhluk paling m

Refleksi

Sebelumnya gue gak pernah menduga kalau kerja freelance di perusahaan makanan dan minuman, adalah bekal ilmu yang luar biasa banget. Apalagi ditugasin bagian data entry dan interview. Gimana polanya dapetin data kemudian diolah dan hasilnya dirapatin buat ambil keputusan perusahaan. Berinovasi. Waktu itu gue baru 18 tahun, terpapar lingkungan yang menurut gue Gila Banget! Seru! Kreatif! Orang-orang mikirin inovasi periklanan, inovasi produk, kemasan, sampai lingkungan kerja yang super sehat ( ada tempat gym soalnya, dan makan siang selalu ada protein, buah, lengkap). Sekarang, dengan posisi pendidikan berlatar belakang ekonomi yang sedikit belajar soal marketing, ternyata ilmu gue 8 tahun yang lalu sangat berguna! Gue dulu sering menafik sih, kenapa gue kok kuliah ekonomi, manajemen pula, padahal gue gak pernah bercita-cita jadi manager apalagi mengelola perusahaan. Tapi, sekarang gila sih! Kenyataannya marketing "beken" banget jaman now! Ya, meskipun gue cuma paham sedikit,

Jujur

Gambar
Pernah suatu ketika—belum lama, sekitar tiga bulan yang lalu, gue ngisi kuesioner berbahasa inggris. Jadi, peraturannya setiap anggota lembaga yang berminat mengikuti leadership class, wajib mengisi kuesioner tersebut. Belum apa-apa, pertanyaan nomor satu berhasil bikin gue mikir lebih lama buat kasih jawaban. 5 menit? 10 menit? Gue gak perhatikan itu, yang jelas gue sangat cukup menguras energi demi si nomor itu. Sialnya, setelah menyelesaikan pertanyaan nomor delapan, pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan yang sama dengan nomor satu. Saat itu, yang bisa gue lakukan hanyalah me- recall pengalaman-pengalaman masa lalu disandingi dengan hal besar yang ingin gue lakukan (salah satunya). Setelah itu apa yang terjadi? Hati gue terasa lega dan bebas, bisa mengisi dan menjawab nomor sembilan itu dengan berbagai pertimbangan yang gue pikirkan (seringkali, kapanpun). Sekarang,  Gue cukup bangga, karena sudah berani mengatakan hal apa yang sangat ingin gue lakukan. Kayak apa sih pertanyaannya

Kontemplasi

Kata orang lingkungan sangat mampu mempengaruhi pola pikir dan sikap seseorang dalam menentukan tujuan maupun membuat keputusan. Itu benar. Setahun yang lalu, gue menyadari banyak hal; gue amat sangat belum dewasa. Itu mutlak sebuah kebenaran. Gue dimutasi sejak enam bulan pertama bergabung. Awalnya gue menanggapi semua itu demi kebaikan lembaga, demi perbaikan lembaga, demi perubahan lembaga bergerak ke arah yang lebih inovatif. Tapi, yang namanya "virus" bakal ada di mana-mana, termasuk teman toxic itu sendiri. Asumsi-asumsi dan argumen dalam hati gue mulai bergejolak setelah terpapar berbagai isu miring soal kepindahan gue. Gue bukan aktivis kampus, gue yang waktu itu kuper, gue gak paham apa-apa, gue yang selalu dijuluki si polos, dengan tangan terbuka membuka pikiran untuk menerima berbagai isu miring itu. Sampai pada di satu titik, gue berniat untuk resign. Gue berangkat ke Yogyakarta. Mencoba menemukan arah. Menemukan jawaban atas segala yang telah Allah kasih ke gue.

Resonansi

 Sekitar satu tahun yang lalu, gue duduk di ambang ketidakpastian. Bukan duduk di kursi panas ala miliarder kuis di teve. Tapi, ini tentang bagaimana gue mampu menjalankan kehidupan berdasarkan hal yang gue impikan. Sulit. Mungkin karena gue gak punya dasar keilmuan di ranah impian yang gue mau. Mungkin juga, gue belum dapat kesempatan di jalan itu. Hingga kemungkinan terbesarnya adalah ini jalan yang Allah kasih buat gue. Tahun itu, gue mencari resonansi ke masa lalu melalui cara yang belum pernah gue coba. Menemukan jawaban dari pojok-pojok KotaYogyakarta. Gue masih ingat, gimana ekspresi ibu dan bapak saat tahu gue lulus dari bangku sekolah dasar dan masuk ke sekolah tingkat lanjut favorit; sesuai yang mereka harapkan. Detik itu gue bangga! Baru sehari sekolah di SMP favorit, gue langsung punya cita-cita untuk lanjut di SMK negeri pilihan ibu dan bapak; kali ini bukan favorit, tapi sekolah itu yang terbaik buat gue karena lokasinya yang mampu ditempuh dengan berjalan kaki. Hasil res