Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Kullu ma Qadarullah Khair

Tahun lalu bisa dibilang sebagai tahunnya gue belajar banyak hal. Memasuki perkuliahan pasca, kenal dan mulai chatting sama foreigners dari aplikasi Tandem, mengenal diri sendiri sebagai si feeling, terbitin buku puisi bareng teman, main ke yogya sendirian (di sana ada temen sih), lebih memahami stuktural lembaga dan pola kerja, jualan cokelat bareng teman (mulai dari produksi, marketing, paking, ngirim, belanja bahan baku, semua dilakukan bareng-bareng) Kecuali foto dan desain produk (pake pihak kedua) Tahun lalu, benar-benar tahun penentu buat gue. Bayangkan, Gimana kalau di tahun itu gue gak penasaran sama Tandem? Gimana kalau di tahun itu gue gak mulai perkuliahan pasca? Gimana kalau di tahun itu gue gak ikut jualan cokelat? Gimana kalau di tahun itu gue batalain berangkat ke Yogya? Gimana kalau di tahun itu gue resign? Gue yakin pasti rugi! Maka itu, gue sangat bangga dengan seluruh kehidupan gue di tahun lalu. Alhamdulillah. Kullu ma qadarullah khair Kalau kamu, gimana proses be

Berubah

Lima tahun lalu gue paling takut yang namanya naik gojek/grab. Takut disasarin abangnya lah, takut dimutilasi tengah jalan, takut dibegal. Gara-gara rasa takut itu, gue selalu balik kuliah malam pakai bajaj (kalo gak ada temen bareng yang searah atau saat abang gue gak bisa jemput). Sampai suatu hari, gue harus balik dari kampus jam 11 malam, dan temen-temen gak ada yang searah (ada sih, dia yang selalu gue tebengin selama empat tahun kuliah, dan saat kejadian itu dia lagi gak bawa motor). Akhirnya, for the first time I were be brave to get back with gojek! Cemen banget gak sih? Sekarang, gue kemana-mana udah paling sok banget pakai gojek, pas lagi mau ringkes atau tempat tujuannya gak dilalui transjakarta. Lingkungan terus berubah, atmosfernya berubah, pergerakan bumi terus berubah, perekonomian berubah, politik berubah, ilmu kesehatan selalu berubah, riset banyak sekali yang terbaru, teknologi apa lagi, banyak yang terbarukan. Semua benda mati berubah. Kita? Manusia. Makhluk paling m

Almost Seperempat

Perihal urusan orang dewasa ... Gue akui, gue gak berpengalaman memahami makna hati. Apalagi kalau diminta memahami maksud laki-laki. 0%! Totally, I can't understand what he want to. Beberapa kali gue baca artikel di Tumblr soal paham-memahami dua arti, menemukan makna cinta dari dua hati. Pret! Gue jarang baper, tapi sering ketampolnya! Gini, dulu ... gue pikir gue mudah jatuh hati. Gue pikir, gue gampang suka sama orang, gampang baper, gampang digombalin, dan gampang-gampang lainnya. Dan mungkin aja, itu benar(?) Pahitnya, tahun ini adalah tahun keempat dimana hati gue luluh sama satu manusia yang masih tinggal di bumi; padahal kenalnya juga sangat gak diduga, gak direncanakan, di tempat yang gak keliahatan. Gue sih gak pernah bilang soal isi hati gue, menurut gue gak penting juga sih. Dia yang masih ambisi sama mimpi-mimpinya, gue yang masih fokus sama rencana-rencana. Gue sama dia, ibarat Sindoro sama Merbabu. Dekat, tapi gak bisa nyatu. Sampai akhirnya, karena gak menemukan ti

Kontemplasi

Kata orang lingkungan sangat mampu mempengaruhi pola pikir dan sikap seseorang dalam menentukan tujuan maupun membuat keputusan. Itu benar. Setahun yang lalu, gue menyadari banyak hal; gue amat sangat belum dewasa. Itu mutlak sebuah kebenaran. Gue dimutasi sejak enam bulan pertama bergabung. Awalnya gue menanggapi semua itu demi kebaikan lembaga, demi perbaikan lembaga, demi perubahan lembaga bergerak ke arah yang lebih inovatif. Tapi, yang namanya "virus" bakal ada di mana-mana, termasuk teman toxic itu sendiri. Asumsi-asumsi dan argumen dalam hati gue mulai bergejolak setelah terpapar berbagai isu miring soal kepindahan gue. Gue bukan aktivis kampus, gue yang waktu itu kuper, gue gak paham apa-apa, gue yang selalu dijuluki si polos, dengan tangan terbuka membuka pikiran untuk menerima berbagai isu miring itu. Sampai pada di satu titik, gue berniat untuk resign. Gue berangkat ke Yogyakarta. Mencoba menemukan arah. Menemukan jawaban atas segala yang telah Allah kasih ke gue.

Resonansi

 Sekitar satu tahun yang lalu, gue duduk di ambang ketidakpastian. Bukan duduk di kursi panas ala miliarder kuis di teve. Tapi, ini tentang bagaimana gue mampu menjalankan kehidupan berdasarkan hal yang gue impikan. Sulit. Mungkin karena gue gak punya dasar keilmuan di ranah impian yang gue mau. Mungkin juga, gue belum dapat kesempatan di jalan itu. Hingga kemungkinan terbesarnya adalah ini jalan yang Allah kasih buat gue. Tahun itu, gue mencari resonansi ke masa lalu melalui cara yang belum pernah gue coba. Menemukan jawaban dari pojok-pojok KotaYogyakarta. Gue masih ingat, gimana ekspresi ibu dan bapak saat tahu gue lulus dari bangku sekolah dasar dan masuk ke sekolah tingkat lanjut favorit; sesuai yang mereka harapkan. Detik itu gue bangga! Baru sehari sekolah di SMP favorit, gue langsung punya cita-cita untuk lanjut di SMK negeri pilihan ibu dan bapak; kali ini bukan favorit, tapi sekolah itu yang terbaik buat gue karena lokasinya yang mampu ditempuh dengan berjalan kaki. Hasil res