Jujur

Pernah suatu ketika—belum lama, sekitar tiga bulan yang lalu, gue ngisi kuesioner berbahasa inggris. Jadi, peraturannya setiap anggota lembaga yang berminat mengikuti leadership class, wajib mengisi kuesioner tersebut. Belum apa-apa, pertanyaan nomor satu berhasil bikin gue mikir lebih lama buat kasih jawaban. 5 menit? 10 menit? Gue gak perhatikan itu, yang jelas gue sangat cukup menguras energi demi si nomor itu.

Sialnya, setelah menyelesaikan pertanyaan nomor delapan, pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan yang sama dengan nomor satu. Saat itu, yang bisa gue lakukan hanyalah me-recall pengalaman-pengalaman masa lalu disandingi dengan hal besar yang ingin gue lakukan (salah satunya).

Setelah itu apa yang terjadi?
Hati gue terasa lega dan bebas, bisa mengisi dan menjawab nomor sembilan itu dengan berbagai pertimbangan yang gue pikirkan (seringkali, kapanpun).

Sekarang, 
Gue cukup bangga, karena sudah berani mengatakan hal apa yang sangat ingin gue lakukan.

Kayak apa sih pertanyaannya?
Nih, pertanyaan nomor satu berikut jawabannya
Kali ini pertanyaan nomor sembilan berikut jawabannya
Lebih singkat, lugas, dan jelas.
Memori.

Sedikit yang ingin gue tambahkan bahwa, manusia akan tahu kok apa yang sangat ia cita-citakan, biasanya jawaban itu tersimpan di masa lalunya; di alam bawah sadarnya.

Recall hal positif dari masa lalu sah-sah aja dong...
Kalau hal negatif yang di-recall, biasanya bakal can't focus of the goals ...
.
.
Z

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELANGI

Langit Berbeda

Seperti Dirimu