Kontemplasi

Kata orang lingkungan sangat mampu mempengaruhi pola pikir dan sikap seseorang dalam menentukan tujuan maupun membuat keputusan. Itu benar. Setahun yang lalu, gue menyadari banyak hal; gue amat sangat belum dewasa. Itu mutlak sebuah kebenaran.

Gue dimutasi sejak enam bulan pertama bergabung. Awalnya gue menanggapi semua itu demi kebaikan lembaga, demi perbaikan lembaga, demi perubahan lembaga bergerak ke arah yang lebih inovatif. Tapi, yang namanya "virus" bakal ada di mana-mana, termasuk teman toxic itu sendiri.

Asumsi-asumsi dan argumen dalam hati gue mulai bergejolak setelah terpapar berbagai isu miring soal kepindahan gue.

Gue bukan aktivis kampus, gue yang waktu itu kuper, gue gak paham apa-apa, gue yang selalu dijuluki si polos, dengan tangan terbuka membuka pikiran untuk menerima berbagai isu miring itu. Sampai pada di satu titik, gue berniat untuk resign.

Gue berangkat ke Yogyakarta. Mencoba menemukan arah. Menemukan jawaban atas segala yang telah Allah kasih ke gue. Pekerjaan, pendidikan, kesehatan, orang tua, saudara, teman, karib, kerabat, komunitas, kemampuan, dan lainnya.

Merenungkan keputusan yang sama seperti saat membatalkan bidikmisi tujuh tahun lalu, hati rasanya penuh tanda tanya dan keraguan. Qadarullah, Allah buka pintu rezeki baru buat gue di tanggal 16 Desember, dan Allah kasih pilihan ketetapan rezeki di tempat kerja yang masih gue tapaki. Gue merenung. Merenung karena gak menghadiri undangan interview hari itu, dan memilih terbang ke Surabaya untuk menunaikan sebuah misi lembaga.

Ini lucu.
Gue harus berhadapan dengan posisi dan waktu yang serupa. Lagi-lagi Allah uji ketegasan gue mengambil keputusan.

But, yeah! Here I'm!
Gue masih di lembaga yang sudah menjadi madrasah baru buat gue sejak 2018.

Gue pikir, gue akan menyesal. Gue pikir, gue akan makin terombang-ambing dalam ketidakpastian ini. Saat itu gue hampir lupa, bahwa segala ketetapan ialah milik Allah.

Allah yang sudah meyakinkan hati gue untuk terus belajar di lembaga itu. Gue belum lulus di mataNya. Gue harus banyak belajar lagi bahkan mungkin mengulang pelajaran. Gue paham itu, saat pulang dari Yogyakarta dan Jakarta dilanda banjir awal 2020 kemarin.

Allah kasih skenario baru buat gue. Pelan-pelan gue mulai paham bikin press release, pelan-pelan gue mulai makin pendekatan dengan pengelolaan dana zakat, pelan-pelan virus negatif itu hilang, dan segala asumsi negatif dari isu miring yang sebelumnya mempengaruhi, perlahan memudar.

Gue bangun. Gue sadar. Lalu, seorang teman menyadarkan kalau sebetulnya, semua yang gue alami adalah bentuk proses bertumbuh sebagai salah satu sosok manusia di bumi ini. Apakah gue akan bermanfaat untuk manusia lain? Ataukah gue hanya memberikan ego dan emosi pada setiap kesempatan tanpa melihat dari berbagai sudut?

Gue hampir menyusuri kekeliruan.

Akhirnya gue belajar. Manusia bertumbuh karena tiga lingkaran yang menyertai jalannya.

Kendali, Pengaruh, Perhatian.

Belakangan gue sering bertanya pada diri sendiri, "Have you finished your inner?"
.
.
.
Zulfha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELANGI

Langit Berbeda

Seperti Dirimu