Resonansi

 Sekitar satu tahun yang lalu, gue duduk di ambang ketidakpastian. Bukan duduk di kursi panas ala miliarder kuis di teve. Tapi, ini tentang bagaimana gue mampu menjalankan kehidupan berdasarkan hal yang gue impikan.

Sulit.

Mungkin karena gue gak punya dasar keilmuan di ranah impian yang gue mau. Mungkin juga, gue belum dapat kesempatan di jalan itu. Hingga kemungkinan terbesarnya adalah ini jalan yang Allah kasih buat gue.

Tahun itu, gue mencari resonansi ke masa lalu melalui cara yang belum pernah gue coba. Menemukan jawaban dari pojok-pojok KotaYogyakarta.

Gue masih ingat, gimana ekspresi ibu dan bapak saat tahu gue lulus dari bangku sekolah dasar dan masuk ke sekolah tingkat lanjut favorit; sesuai yang mereka harapkan. Detik itu gue bangga! Baru sehari sekolah di SMP favorit, gue langsung punya cita-cita untuk lanjut di SMK negeri pilihan ibu dan bapak; kali ini bukan favorit, tapi sekolah itu yang terbaik buat gue karena lokasinya yang mampu ditempuh dengan berjalan kaki.

Hasil resonansi yang gue dapatkan, adalah gue yang dulu, yang lugu, yang pada usia saat itu sangat menurut pada keinginan ibu dan bapak. Hingga suatu ketika, setelah kelulusan SMK, kami bertabrakan jalan dan pemikiran.

Bapak, seorang laki-laki yang saat itu berusia 52 tahun, mengingkan anak keduanya, putri pertamanya, gue, untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Statistik di Jakarta. Beliau bilang, gue gak perlu kesulitan di masa yang akan datang kalau nanti gue melanjutkan pendidikan di sana; meskipun gue harus keluar kota (kata Bapak).

Ibu gak setuju dengan ide itu. Ibu lebih ingin gue tetap di sini, di Jakarta, dan tinggal di rumah yang sama dengannya; bukan menjadi anak kos.

Sejujurnya, gue bimbang. Gue mendapat beasiswa dari universitas swasta di Kalimalang. Gue batal daftar bidikmisi. Gue terpisah jalan dengan teman seperjuangan gue yang mereka lanjut daftar di UIN Ciputat.

Finally! Gue pilih ambil kerjaan jadi freelancer di perusahaan makanan dan minuman di Jakarta Timur. 26 Juni 2012, gue menginjakkan kaki di sana; sebagai petugas entri data divisi riset, dengan bayaran 60 ribu per hari. Alhamdulillah, dalam sebulan gue pernah mendapatkan hasil maksimal 1,2 juta.

Abang gue adalah panutan terhebat dalam hidup. Sejak awal dia bekerja sebagai pencuci piring di restoran Italia (PH) dengan status part time dan mendapat bayaran 400 ribu per bulan, dia tetap menyerahkan seluruh bayarannya ke ibu. Dan itulah yang gue lakukan ketika mendapat gaji kedua.

(gaji pertama buat beli hp, karena gue gak punya hp)

Sebelas bulan gue aktif sebagai freelancer, mantengin code, pertanyaan di kuesioner, wawancara responden, merhatiin staf bagian olah data pakai SPSS, dan duduk di bangku kuliah sebagai Mahasiswa.

Seringkali gue menyesali pembatalan bidikmisi yang gue lakukan. Namun, gue coba terus bersyukur dan optimis dengan jalan yang sudah gue pilih saat itu. Gue bisa bantu orang tua gue buat memenuhi kehidupan sehari-sehari.

Satu tahun kemudian, abang gue pindah kerja, gue pindah kerja, kami sama-sama pegawai dan mahasiswa di kampus yang sama. Bapak sudah empat tahun kembali bekerja setelah terakhir kali di PHK tahun 2008, dan adik gue saat itu sedang berjuang pada nasib yang pernah gue tempuh. Alhamdulillah, dia berhasil lulus seleksi di SMP negeri.

Sekarang ini, ketika gue menceritakan hal ini, hal luar biasa sudah banyak terjadi serta banyaknya pelajaran yang gue dapatkan selama 25 tahun 11 bulan gue hadir di dunia ini.

 Gue ingin menginspirasi, gue ingin menjadi motivasi bagi siapapun yang sedang berjuang meraih impiannya. Gue ingin membuktikan bahwa siapa saja yang berjuang, berdoa, dan yakin pada Allah maka jalan apapun yang dipilih akan Allah mudahkan.

Seperti apa kehidupan gue sekarang? Insyaallah akan gue bagikan pada bab Refleksi yang akan datang.

Salam,


Zulfha.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELANGI

Langit Berbeda

Seperti Dirimu