Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

Ekspektasi

Begitu banyak pertanyaan dalam benak yang sebetulnya gak perlu dicari jawabannya. Seperti ketika ingin sekali makan es krim di usia satu tahun, lalu bapak dan ibu berkata, "udah ya, sedikit aja ... nanti batuk." Akhirnya ketika beranjak usia baru kita tahu, kalau fisik saat itu memang masih terlalu lemah. Beranjak tambah usia makin banyak ekspektasi yang dibuat. Begitu percaya diri pada pencapaian yang akan diraih, pada ekspektasi yang sudah disusun. Kalau aja kita menyadari, saat itu ego sedang memenangkan diri. Padahal kita tahu, sebaik-baik perencana itu hanya Allah. Jadi, berhentilah berekspektasi dan teruslah belajar dari sudut pandang orang lain. Dari sana, jawaban-jawaban itu akan datang. Allah yang akan tunjukkan. Selamat berkilas balik sepanjang 2020.

Pilihan

Mungkin kita terlalu sibuk pada pencapaian diri sendiri. Terkadang sampai lupa menanyakan apa yang sedang dialami orang sekitar, meski barang sekali saja. Mungkin kita terlena pada apresiasi yang didapatkan baru-baru ini. Lingkungan yang menyenangkan, kawan yang setia, atau ... cinta yang kita anggap apa adanya. Seringkali manusia jadi puitis tiba-tiba saat hatinya resah, sesekali mereka menuliskan kisah romantis menyaingi pride and prejudice. Sambil senyam-senyum ia bayangkan adegan dari tulisannya. Mungkin, sebetulnya kita lemah ... lemah pada pendirian kita sendiri. Lemah pada keyakinan yang terus bergejolak. Lemah pada hal-hal yang kita anggap mustahil. Lemah ... pada saat hati merasa jatuh. Terkadang, kita gak butuh bertemu untuk mengakui cinta. Seringkali, pertemuan mengartikan kesalah pahaman.  Kita hanya perlu mengakui pada diri sendiri. Jujur. Terakhir, kita hanya perlu memaafkan masa lalu, tanpa perlu merasa bersalah pada keputusan yang dulu kita pilih.

How to Make a Change?

Bagi sebagian orang, mungkin perubahan itu mengejutkan, menjadi sesuatu yang asing. Entah akan timbul sebuah rasa kagum atau sebuah tanda tanya dalam benak. Seperti hal-nya murid SD yang dulunya pernah tinggal kelas, sekolahnya tak pandai, lantas ketika beranjak dewasa dia malah punya kedai kopi. Ada juga yang dulunya korban bullying , ketika dewasa justru jadi public figure. Ini menarik! Semua ini tentang bagaimana kita memilih jalan kehidupan dan mengenal kekurangan serta kelebihan dari yang kita punya. Banyak orang yang mungkin memimpikan sebuah perubahan, namun mereka gak punya kemampuan melakukan itu. Bukan kekuatan yang mereka perlukan, kalau mereka tahu. Cukup kenali kekurangan diri dan penuhi dengan kelebihan yang dimiliki. Kita mungkin sering mendengar para influencer atau ilmuwan ketika berbagi soal kehidupannya. Banyak dari mereka yang masa kecilnya bukanlah apa-apa. Kini, saatnya kita yang membuat perubahan itu. Tanpa harus sibuk dengan perubahan orang lain. How to make a c

Pendidik yang Arif

Waktu sekolah di tingkat Atas, gue gak berani mendebat argumentasi para guru. Menurut gue, apa yang mereka katakan adalah suatu hal mutlak. Naik jenjang satu tingkat, berlagak sok pintar pun gue lakukan. Banyak bertanya, banyak mendebat, sok idealis, padahal plegmatis! Naik ke jenjang berikutnya, masih berlagak sok paling benar, paling tahu, sok mendebat, padahal pengetahuan terbatas. Bukan ingin dilihat, tapi orang lain melihat! Mendebat dosen, melawan argumen, merasa lebih pandai! Berlagak sok paling tahu! Sampai suatu waktu, dosen-dosen yang didebat itu, menjadi pembimbing di perjuangan akhir. Memberikan semua ilmunya pada seonggok otak dan hati yang masih kopong! Memperjuangkan agar si murid mampu menyelesaikan misi dan tercapai tujuannya. Teruntuk kedua pembimbing yang dulu sering saya bantah di kelas, sering saya sok paling pintar, saya ucapkan terima kasih, pak! Terima kasih sudah menjadi pembimbing terbaik! Sabar dengan saya dan gak menyerah! Mohon bimbing saya lagi sampai tesi