Pendidik yang Arif

Waktu sekolah di tingkat Atas, gue gak berani mendebat argumentasi para guru. Menurut gue, apa yang mereka katakan adalah suatu hal mutlak.

Naik jenjang satu tingkat, berlagak sok pintar pun gue lakukan. Banyak bertanya, banyak mendebat, sok idealis, padahal plegmatis!

Naik ke jenjang berikutnya, masih berlagak sok paling benar, paling tahu, sok mendebat, padahal pengetahuan terbatas. Bukan ingin dilihat, tapi orang lain melihat! Mendebat dosen, melawan argumen, merasa lebih pandai! Berlagak sok paling tahu!

Sampai suatu waktu, dosen-dosen yang didebat itu, menjadi pembimbing di perjuangan akhir. Memberikan semua ilmunya pada seonggok otak dan hati yang masih kopong! Memperjuangkan agar si murid mampu menyelesaikan misi dan tercapai tujuannya.

Teruntuk kedua pembimbing yang dulu sering saya bantah di kelas, sering saya sok paling pintar, saya ucapkan terima kasih, pak! Terima kasih sudah menjadi pembimbing terbaik! Sabar dengan saya dan gak menyerah!

Mohon bimbing saya lagi sampai tesis ini benar-benar selesai dan mendapat hasil terbaik!

Salam, pak
Saya Zulfha
Terima kasih, pak!

Komentar

  1. ambisi mengalahkan tekad๐Ÿ‘๐Ÿผ

    BalasHapus
    Balasan
    1. What a word, bro... Sumpah tengkyu banget ๐Ÿ™

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kullu ma Qadarullah Khair

Daun dan Malam