Daun dan Malam

Memang benar, kita bagai busur yang saling bertolak belakang, yang terhimpun dan melekat karena perasaan berkembang peran menjadi magnet bagi keduanya.

Selalu ada yang terkuat, dominan, memegang kendali atas semuanya. Selalu ada pula yang bertahan, mengatur kendali atas dirinya.

Jika dedaunan yang jatuh itu bertanya pada angin, tentang malam yang selalu dingin. Barangkali daun mulai lelah dengan perannya yang selalu mengalah dan bertahan pada pendiriannya.

Namun, jika dedaunan yang jatuh itu bertanya pada bulan, tentang malam yang menenangkan. Barangkali daun telah nyaman menerima kehadirannya dan peran yang ia mainkan.

Daun itu tak bertanya pada angin kini. Pun juga ia tak bertanya pada bulan. Daun itu merenungkan, bagaimana nasibnya jika hanya berdiam.

Dalam benaknya hanya tumbuh satu pertanyaan, jika ia renta dan mati tua karena terhinjak manusia, apakah malam akan melihatnya?

Dalam hatinya, daun hanya ingin mengatakan kalau ia sudah terlalu lama diam di sisi akar-akar pohon itu. Menantikan malam melihatnya, berharap sekali saja malam bertanya tentang isi benaknya, isi hatinya.

Daun, kaukah itu yang rela diam membisu tersiksa menahan pilu yang begitu semu? Mengapa tak kau katakan kalau kau ingin malam tahu segala perasaan yang kau punya? Mengapa tak kau sampaikan segala macam rasa yang ada di hatimu?

Daun, kau akan mati jika terus begitu. Tidakkah kau ingin menggunakan waktumu untuk jujur sekali saja pada malam? Tentang hari-harimu yang begitu bahagia, tentang hari-harimu yang kadang menyedihkan, tentang hari-harimu yang begitu berat, tentang hari-harimu yang begitu mengkhawatirkan.

Daun, tidakkah kau ingin malam tahu bagaimana sosok dan isi hatimu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kullu ma Qadarullah Khair

Pendidik yang Arif