Memaknai

Hai, apa kabar? Gimana perasaanmu hari ini? Bahagia?

Barangkali sederet pertanyaan itu yang muncul dalam pikiranku malam ini, bahkan isi kepalaku sempat-sempatnya repot menyusun beragam pertanyaan tentang mengenal diriku hari ini. Apa aku sudah bahagia hari ini? Bahagia yang seperti apa? Apa sih makna bahagia untukku?

Jauh sebelum hari ini, aku memaknai bahagia begitu sederhana; saat kita banyak bersyukur, bahagiapun 'kan datang. Kenyataannya, pikiranku saat itu memang benar adanya.

Mungkin kamu pernah mendengar kata "kebetulan". Kamu percaya? Mungkin, dulu aku percaya. Waktu aku duduk di bangku SMK. Kebetulan aku menduduki peringkat ketiga, kebetulan aku mendapat beasiswa, kebetulan aku dapat pengalaman prakerin di salah satu Perusahaan Astra Group, dan kebetulan aku lolos seleksi jalur beasiswa di salah satu Universitas Swasta terakreditasi-A.

Namun, hari ini aku terlahir bukan karena kebetulan-kebetulan yang menurutku sangat bisa membahagiakan. Aku mulai mengambil keputusan sendiri di akhir kelulusan SMK. Aku sudah bekerja setelah satu bulan dinyatakan lulus dari SMK. Bahkan aku menjadi yang pertama di kelasku, mendapat pekerjaan dalam waktu yang singkat pasca lulus sekolah.

Menurutmu, apa makna bahagia untukku saat ini?

Tapi, aku juga ingin tahu, apa saat kamu membaca ini hatimu sedang bahagia?

Belakangan banyak public figure yang menceritakan soal pengalaman hidupnya, kemudian mereka mengatakan bahwa kini kehidupannya telah bahagia. Meski, sebetulnya banyak juga yang runtuh rumah tangganya. (fokus kita gak di situ sih).

Di usia 25 tahun, aku mulai menyadari bahwa bahagia bisa dirasakan dalam keadaan apa pun, sendirian pun bisa kok bahagia. Seperti sekarang, aku menulis sesuatu yang ingin kubagikan pada siapapun yang membaca ini. Menulis sesuatu yang bebas sesuai keinginan hatiku, tanpa alur pikiran dan ide yang dibuat oleh orang lain.

Kini usiaku 26 tahun lebih 4 bulan. Aku belum menikah. Aku masih menjadi seorang pegawai biasa di kantor. Aku gak populer. Aku hanya suka menulis, bukan penulis. Aku gak cantik. Aku gak modis. Bahkan teman kuliahku pernah menilaiku "nerd" saat pertama kali bertemu denganku di kelas, 2 tahun yang lalu.

Lalu, apa yang membuatku bahagia?

Sejujurnya, aku sendiri juga masih belajar mengontrol diriku. Emosi dan critical thinking yang kumiliki. Aku masih belum lancar memahami nalar orang lain. Maka itu, sejak dulu aku paling stres kalau gak punya kawan berdiskusi. Cara belajarku hanya satu; mendiskusikan sesuatu informasi yang kudapatkan. Emosiku masih mudah tersulut ketika berhadapan dengan sesuatu yang gak sesuai dengan nalarku. Namun, bukankah manusia memang gak ada yang sempurna?

Aku bahagia. Aku bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan menapaki bumi ini dan menghirup oksigen yang Ia berikan. Aku bersyukur masih bisa mendengar ramainya Bapak dan Ibu ketika berbicara di ruang tamu. Aku bersyukur masih bisa melihat matahari pagi dan bulan yang bersinar di malam hari, saat aku di perjalanan pulang dari kantor. Aku bersyukur masih bisa bertemu dengan kawan-kawan kerja yang gak bosan berdiskusi denganku. Aku bersyukur, masih memiliki kawan-kawan yang selalu mengingatkanku akan sesuatu hal yang 'gak penting' untukku lakukan. Aku bersyukur masih ada orang-orang yang bergantung padaku; aku masih dibutuhkan di dunia ini. Aku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk belajar dari berbagai sarana, tempat, dan dari siapapun pengajarnya.

Mungkin saat ini, bisa dibilang aku bahagia menajalani hidupku.

Kita, pantas berbahagia. Setiap kita, memiliki kesempatan untuk bahagia. Seperti pemaknaan kuliah adalah hak segala bangsa, maka bahagia juga adalah hak semua kita.

Aku berharap, tulisanku ini bisa menjadi sumbu semangatmu untuk bangkit dari masalah-masalah yang dialami belakangan ini. Semangat ya kamu!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kullu ma Qadarullah Khair

Pendidik yang Arif

Daun dan Malam