Melihat Kembali

Orang bilang hidup gue simpel. Penuh warna, selalu keliatan mudah, penuh semangat, selalu menjadi pembelajar, inspiratif, dan percaya diri. Gue senang-senang aja sih terima predikat itu dari orang lain, andai mereka tahu hobi gue dari kecil doyan banget ngupil, gue yakin sih mereka bakal mikir ulang buat kasih macam-macam predikat tadi.

Nah, belakangan ini gue dapat predikat baru yang sejujurnya ... lumayan gak pernah gue sangka sih. Well, awalnya perasaan gue berontak. Tapi akhirnya gue ingat satu hal, kalau perasaan dan hidup tenang itu, cuma bisa didapat ketika hati mulai menerima segala hal yang datang; peristiwa, perasaan, prasangka, positif maupun negatif.

Hati cuma punya tugas satu, yaitu menerima.

Bay de wey, gue suka banget nulis. Bikin cerpen, novel, prosa, puisi, bahkan nulis abstrak di blog pun sering, yang kayaknya gak semua orang paham sama apa yang gue tulis (kayak tulisan yang lagi lo baca sekarang ini.)

Kadang, rasanya nulis itu ibarat sembuhin hati. Dia jadi obat ketika gue hadirkan huruf demi huruf sampai jadi kata lalu kalimat. Semua perasaan yang datang dari 10 jam peristiwa eksternal gue alami setiap 5/7, setelah nulis ... hati gue terasa lebih ringan.

Ini soal jujur sih. Ketika gue menulis dengan jujur tentang peristiwa yang terjadi di hari-hari itu, pikiran dan perasaan gue rasanya dibawa ke suatu tempat yang tenang. Lucu sih, sebelumnya gue terus overthinking, padahal yang gue tulis rangkaian kalimat sampai jadi satu bab cerita. Apa mungkin itu sebab karena gue menjadi orang lain saat nulis?

Kalau lo, ketika overthinking, hati terasa sakit, pesimis, biasanya ngapain?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kullu ma Qadarullah Khair

Pendidik yang Arif

Di Antara Jejak Tertinggi